Kiai Hisyam diarak pendukungnya setelah dinyatakan sebagai rais syuriyah terpilih

15 Tahun Kepemimpinan Kiai Hisyam – Kiai Masykur (Bagian I)

Banyuwangi, NUOB – Duet KH. Hisyam Syafaat dan KH. Masykur Ali memimpin PCNU Banyuwangi cukup panjang. Hingga pelaksanaan Konferensi Cabang pada 2018 ini, terhitung telah lima belas tahun keduanya menjadi rais syuriyah dan juga ketua tanfidziyah. Pertama kali kedunay dipercaya memimpin NU Banyuwangi adalah pada saat Konfercab NU Banyuwangi yang dihelat pada 3 – 5 Januari 2003 di Gedung Wanita Banyuwangi.

Momen lima tahunan ini, bukanlah momentum pemilihan yang kondusif. Suasana di internal NU maupun di dunia politik Banyuwangi, sedang panas-panasnya. Terjadi polarisasi yang cukup kuat di internal NU yang dipicu oleh perseteruan di tingkat elit politik Banyuwangi kala itu.

Di internal NU ada dua kubu yang bersaing cukup sengit pada saat itu. Kubu pertama adalah kubu elit Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi sendiri. Kelompok ini dipimpin oleh PJ Rais Syuriyah KH. Suyuti Toha. Kubu ini kerap dipanggil sebagai “kiai pendopo”. Sebutan ini merujuk pada kedekatan kelompok ini terhadap Bupati Banyuwangi saat itu, Samsul Hadi.

Bupati Samsul Hadi pada dasarnya merupakan bupati yang diusung oleh NU. Ia adalah bupati pertama di masa reformasi yang dipilih langsung oleh DPRD Banyuwangi. Putra H. Mahfud- tokoh NU dan mantan Ketua Cabang GP Ansor Banyuwangi – itu, diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Golkar. Selain itu, Samsul juga direkomendasi oleh PCNU Banyuwangi setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat. Ia menggusur Abdullah Azwar Anas yang saat itu dinilai terlalu muda dan Ichwan Asrin yang dianggap bukan kader NU tulen. Nama yang terakhir tersebut terindikasi sebagai kader Muhammadiyah.

Masykur Ali mendapat ucapan selamat dari para pendukungnya setelah ditetapkan sebagai ketua PCNU Banyuwangi (reproJawa Pos Radar Banyuwangi)

Akan tetapi, proses kepemimpinan Bupati Samsul tersebut, menimbulkan polemik tersendiri di tengah warga nahdliyin. Sikap Samsul yang slengean menimbulkan kesan yang kurang positif di kalangan kiai-kiai NU. Ditambah dengan berbagai kabar miring tentang gaya hidupnya yang menambah kegeraman kepada bupati kelahiran 23 April 1959 itu. Hal itu diperparah lagi dengan ‘ketakpedulian’ Samsul pada Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Banyuwangi di Mangir, Rogojampi. Rumah sakit tersebut tak kunjung diberikan bantuan dan akhirnya makrak dan tak beroperasi dengan baik.

Akumulasi kekecewaan terhadap Bupati Samsul tersebut, memunculkan polarisasi tersendiri di kalangan nahdliyin. Dimana mau tak mau, kubu tersebut harus berhadap-hadapan dengan kubu satunya yang diasosiasikan dengan kelompok kiai pendopo. Tentu saja hal ini menimbulkan ekses negatif terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama sendiri. NU tak terurus dengan baik karena perhatian kader NU banyak yang tersedot dalam kepengurusan PKB dan hiruk pikuk politik saat itu.

Kondisi yang demikian menimbulkan keprihatinan di kalangan tokoh-tokoh muda NU kala itu. Menjelang Konfercab NU tersebut, mereka rutin menggelar “Diskusi Jumat Sore” yang digelar dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Diskusi tersebut membicarakan tentang masa depan NU Banyuwangi.

Dalam perkembangannya, Diskusi Jumat Sore tersebut melakukan kajian yang cukup dalam untuk menentukan pemimpin NU yang tepat. Dari kajian yang mendatangkan para narasumber kompeten, seperti almarhum KH. Muchit Muzadi itu, akhirnya muncullah nama Kiai Hisyam dan Kiai Masykur untuk diusung dalam perhelatan Konfercab NU. Nama tersebut, kemudian mendapat restu dari kalangan kiai-kiai yang sebelumnya terpolarisasi pada kubu anti-pendopo.

Kiai Hisyam dan Kiai Masykur bersilaturahmi kepada Kiai Munawir untuk untuk menjalin persatuan di kalangan Nahdliyin pasca Konfercab 2003 (Repro Jawa Pos Radar Banyuwangi)

Pasangan Kiai Hisyam – Kiai Masykur dalam Konfercab NU yang diusung kiai anti-pendopo berhadapan dengan pasangan Kiai Suyuti Toha sebagai calon rais dengan Hadi Sutjipto sebagai calon ketua. Hadi Sutjipto yang akrab dipanggil Pak Cip tersebut, memiliki hubungan yang menarik dengan Masykur. Pak Cip adalah Ketua MWC NU Genteng, sedangkan Masykur sendiri merupakan wakilnya.

Dalam Konfercab tersebut, akhirnya Kiai Hisyam terpilih sebagai rais dengan perolehan suara dukungan dari MWC dan Ranting NU yang cukup signifikan. Sedangkan Kiai Masykur mendapat dukungan yang cukup ketat jika dibandingkan dengan dukungan yang diperoleh oleh Hadi Sutjipto.

Duet Hisyam – Masykur berjalan cukup kompak dalam menghadapi badai politik. Selama lima tahun keduanya bahu membahu melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi untuk menstabilkan perseteruan di tubuh NU sendiri. Keduanya yang merupakan sosok yang baru, tidak dikenal berpihak pada salah satu kubu, menjadikannya nilai lebih. Mereka mampu masuk kepada kedua kubu tanpa beban moral yang berat. Hal ini akhirnya mampu menjaga stabilitas di tengah gejolak politik Banyuwangi yang cukup keras.(Bagian I)

*Tulisan ini disarikan dari buku The Autorized of Biography Masykur Ali: Jalan Pengabdian (Ayung Notonegoro, 2018)

 

Comments

comments

Check Also

Masyarakat Tapanrejo Sambut Positif Program Koin NU

Rutinitas malam Jum’atan warga NU Tapanrejo Mucar, dijadikan media pentasyarufan untuk lima warga dhuafa’. Bukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *