Hukum Jual-Beli Valas (Trading Forex)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya Muhammad Samsudin. Kepada redaksi NU Online saya ingin bertanya tentang hukum forex atau valas menurut Islam. Jujur, saya bingung tentang hal ini karena banyak teman saya yang bilang kalau forex itu haram. Tapi saya lihat di website MUI mengatakan bahwa forex itu mubah? Mohon keterangannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Muhammad Samsuddin/Demak)

Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebelum menghukumi tentang apa yang dimaksud dengan trading forex. Maka kami akan sedikit menjelaskan pengertiannya. Sepanjang yang kami ketahui trading forex adalah sama dengan al-mutajarah fil ‘umulat, yaitu adalah kegiatan jual-beli mata uang untuk mencari profit atau keuntungan.

Status al-mutajarah fil umulat itu sendiri pada dasarnya adalah diperbolehkan sepanjang tidak ditemukan hal-hal yang mengharamkan atau merusaknya, seperti adanya unsur gharar (ketidakpastian), ihtikar (penimbunan), dan lain sebagainya.

اَلْمُتَاجَرَةُ فِى اْلعُمُلَاِت بِمُجَرِّدِهَا جَائِزٌ إِلَّا إِذَا طَرَأَ عَلَيْهَا –كَأَيِّ عَقْدٍ- مَا يَقْتَضِي تَحْرِيمَهَا أَوْ فَسَادَ الْمُعَامَلَةِ كَالْجَهَالَةِ أَوِ الْغَرَرِ أَوِ الْغَبْنِ مَعَ التَّغْرِيرِ (التَّدْلِيسِ) أَوِ الْإِحْتِكَارِ أَوْ مُخَالَفَةِ شُرُوطِهَا.

Artinya, “Al-mutajarah fi al-‘umulat pada dasarnya adalah boleh kecuali ketika terdapat sesuatu—sebagaimana akad lainnya—yang mengharamkan atau merusak transaksinya seperti ketidakjelasan (jahalah), spekulatif atau ketidakpastian (gharar), penyamaran harga disertai penipuan, penimbunan atau menabrak syarat-syaratnya,” (Lihat Wahbah az-Zuhaili, al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-VI, 1429 H/2008 M, halaman 162, 163).

Hal penting yang mesti dipahami dalam konteks ini adalah bahwa status hukum mata uang kertas itu disamakan atau diqiyaskan dengan status hukum mata uang emas. Penyamaan ini lihat dari sisi bahwa uang kertas sebagai simbol nilai atau harga atas sesuatu.

Sedangkan mata uang setiap negara itu berbeda-beda, maka ketika ada perbedaan jenis seperti jual-beli emas dengan perak, emas dengan mata uang kertas, atau mata uang kertas seperti dinar Bahrain dengan rial Qatar maka diperbolehkan adanya tambahan. Tetapi dengan syarat harus diserahkan secara tunai di majelis akad. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya riba an-nasa` atau riba at-ta`jil yaitu riba yang diakibatkan dari penundaan salah satu keduanya.

وَالْعُمُلَاُت الوَرَقِيَّةُ تَأْخُذُ حُكْمَ الْعُمًلَاتِ الذَّهَبِيَّةِ وَالْفِضِّيَّةِ ، بِإعْتِبَارِهَا أَثْمَانَ الْأَشْيَاءِ ، وَهِيَ جِنْسٌ تَخْتَلِفُ عَنِ الْمَعِدنَيْنِ الثَّمِينَيْنِ ، وَعُمْلَةُ كُلِّ دَوْلَةٍ جِنْسٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ عُمْلَةِ دَوْلَةٍ أُخْرَى . فَإِذَا اخْتَلَفَ الْجِنْسُ كَبَيْعِ ذَهَبٍ بِفِضَّةٍ ، أَوْ ذَهَبٍ بِعُمْلَةٍ وَرَقِيَّةٍ ، أَوْ عُمْلَةٍ وَرَقَيِّةٍ كِدِينَارِ بَحْرَيْنِيٍّ بِرِيَالِ قَطَرِيٍّ ، جَازَ التَّفَاضُلُ أَيْ الزِّيَادَةُ بِشَرْطِ تَحَقُّقِ تَقَابُضِ الْبَدَلَيْنِ فِي مَجْلِسِ التَّعَاقُدِ مَنْعًا مِنَ الْوُقُوع ِفِي رِبَا النَّسَاءِ وَهُوَ رَبَا التَّأْجِيلِ

Artinya, “Mata uang kertas mengambil hukum uang yang terbuat dari emas dan perak dilihat dari sisi bahwa mata uang kertas merupakan simbol nilai sesuatu (atsman al-asyya`). Dan mata uang kertas itu berbeda jenisnya dengan logam mulia. Mata uang setiap negara berbeda-beda dengan negara lain. Dengan demikian ketika jenisnya berbeda seperti menjual emas dengan perak atau emas dengan uang kertas, atau menjual uang kertas seperti dinar Bahrain dengan rial Qatar, maka boleh adanya tambahan dengan syarat keduanya diserahkan di majelis akad (tunai) karena untuk menghindari terjerumus ke dalam riba nasa` yaitu riba at-ta`jil (riba yang muncul karena penundaan salah satu dari keduanya),” (Lihat Wahbah az-Zuhaili, al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-VI, 1429 H/2008 M, halaman 165).

Adanya penyerahan secara tunai pada dasarnya untuk menghindari riba sebagaimana dikemukakan di atas. Dan di antara implikasinya adalah ketidakbolehan transaksi trading forex dilakukan di bursa berjangka (as-suq al-ajilah). Begitu juga tidak boleh dengan khiyar syarat.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan membantu mengurai kebingungan penanya. Saran kami tak perlu bingung menghadapi perbedaan pendapat dalam masalah fikih karena dalam ranah ini adalah rahmat. Sikapi perbedaan dengan bijak sehingga tidak menimbulkan kebingungan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum wr. Wb.

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Comments

comments

Check Also

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *