Tim Visitasi PWNU melakukan Verifikasi Data

Berkah Sebuah Nama

Bisa jadi William Shakespare dalam karyanya menyebut, apalah arti sebuah nama. Akan tetapi, bagi sebagian orang, terutama umat muslim, menganggap nama adalah doa. Harapan orang tua bagi anak-anaknya.

Seorang pakar tafsir kenamaan Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab dalam percakapan online bertajuk Shihab to Shihab menceritakan perihal tentang nama anak-anak dan cucu perempuannya dengan awalan huruf N. Seperti halnya Najwa Shihab. “Saya terinspirasi dari sebuah pembukaan surat, Nun,” ujarnya.
Huruf yang digunakan sebagai sumpah, terang Quraish, mengesankan sesuatu yang luar biasa. Apalagi kelanjutan ayat tersebut berbicara tentang pena yang menyimbolkan tentang ilmu pengetahuan. “Harapannya, anak-anak saya bisa menjadi ahli ilmu,” akunya.
Sebagai sebuah doa, nama terkadang dinukilkan dari nama tokoh tertentu. Seperti halnya disamakan dengan nama para Nabi atau ulama-ulama terkemuka. Dengan nama itu, harapannya, bisa menjadi inspirasi bagi sang anak untuk meneladani sosok yang sama dengan namanya.
Akan tetapi, tafaulan dengan nama seorang ulama terkadang membawa keberuntungan tersendiri. Ada sebuah kisah nyata yang sepertinya tak masuk akal yang disampaikan oleh Habib Novel dari Jember saat mengisi haul ke-64 KH. Abdullah Faqih di Yayasan Al-Khaf, di Songgon, Ahad (2/7). “Saya mendapatkan cerita ini, dari seorang habib di Jakarta,” akunya.
Di ibu kota tersebut, ada seorang anak yang diberi nama Abdul Qodir Jailani. Harapan orang tuanya, si anak bisa meneladani kiprah dari sang waliyullah, Syekh Abdul Qodir Jailani. Sayangnya, harapan tersebut, jauh api dari panggang. Si anak tumbuh menjadi remaja yang nakal.
Hampir tiap hari si anak itu, melakukan kemaksiatan. Terutama minum-minuman keras. Hingga pada suatu malam, dibawah pengaruh alkohol, si anak mengalami kecelakaan motor. Tengkorak kepalanya pecah. Kondisinya kritis dan dilarikan di Rumah Sakit.
Meski dalam kondisi yang sangat parah, si anak tersebut, masih dalam keadaan hidup. Hanya terbaring tak sadarkan diri. Koma. “Dokternya heran, biasanya orang yang luka parah pada bagian kepala itu, langsung meninggal. Tetapi, anak ini kok tidak,” ungkap Habib Novel.
Setelah sebulan lebih menjalani perawatan di rumah sakit, si anak tersebut tersadar dari koma panjangnya. Lambat laun kesadarannya pun pulih. Saat tersadar itulah, ada cerita yang mengejutkan semua yang mendengarnya.
“Saya diangkat oleh seseorang yang wajahnya bersih dan berseri-seri,” cerita anak itu sebagaimana diungkapkan oleh Habib Novel.
Anak tersebut dituntut oleh sosok asing tersebut, ke sebuah tempat yang indah penuh dengan cahaya. Di tempat itu, sosok misterius tersebut, lantas berdoa, “Ya Allah, ini ada hamba-Mu yang memiliki nama seperti namaku. Saya mohon kepada Engkau, jangan Engkau matikan dia dalam keadaan kufur.”
Si anak itu pun penasaran dengan sosok asing berwajah bersih itu. “Siapakah engkau?” tanya si anak itu kepadanya.
“Saya Abdul Qodir Jailani,” jawab sosok asing itu, yang tak lain adalah waliyullah Syekh Abdul Qodir yang menjadi tafaul nama anak tersebut oleh orang tuanya.
Berkat doa Syekh Abdul Qodir, sebagaimana yang diceritakan si anak dalam masa kritisnya itu, ia akhirnya diberikan keselamatan oleh Allah SWT. Semenjak itu pula, si anak yang dulunya nakal, langsung tobat. Ia mengubah semua prilaku buruknya dengan amal ibadah dan amal sholeh.
Sudahkah nama anda mengandung makna yang bagus?

Comments

comments

Check Also

Aisyah dan Kecemburuannya

Diantara Ummuhatul Mu’minin (julukan untuk para istri Nabi) yang paling spesial adalah Aisyah binti Abu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *