Cara Punya Anak ala Imam Ghazali

Ulama salafus sholeh selalu memiliki cara tersendiri untuk berdakwah ataupun menyelesaikan persoalan umatnya. Terkadang, dengan cara-cara yang, jika dipikir pendek, hal tersebut tak masuk akal. Hal ini, sebagaimana yang diceritakan oleh Pengasuh Pesantren Minhajut Thullab Muncar KH. Fakhruddin Manan tentang Imam Ghazali. Kisah tersebut, ia dapat saat mondok di Mekkah pada tahun ’80-an.

Imam Ghazali, ulama besar pengarang kitab Ihya Ulumuddin tersebut, didatangi tamu. Sepasang suami istri. Pasangan yang memiliki kesamaan, sama-sama gemuk.

Dihadapan Hujjatul Islam – gelar Imam Ghazali – pasangan tersebut, terisak. Ia mengadukan perihal kehidupan pernikahannya yang telah dijalin bertahun-tahun, namun tak kunjung dikaruniai buah hati. Sejak awal menikah, istrinya tak kunjung hamil.

“Kami ingin punya anak,” rintihnya kepada Imam Ghazali.

Respon Imam Ghazali diluar dugaan. Melihat tamunya merintih ingin punya anak, justru diberikan informasi yang membikin sesak dadak mereka.

“Sudah, jangan berharap punya anak. La wong kalian berdua, 40 hari lagi akan meninggal dunia,” kata Al-Ghazali tanpa tedeng aling-aling.

Sontak saja, wajah kedua orang tamu tersebut pucat pasi. Kesedihannya makin berlipat. Rintihannya berubah menjadi isak tangis. Mereka pulang dengan perasaan hancur. Mereka tahu, perkataan ulama besar, seperti Imam Ghazali, bukanlah perkataan dusta. Tapi, perkataan kekasih Allah hampir pasti akan menjadi kenyataan.

Sesampainya di rumah, sepasang suami istri pun termangu. Mereka membayangkan kematian yang sebentar lagi akan datang menjemput. Bayangan mereka pun tergambar alam barzah dengan beragam siksanya yang teramat pedih. Bayangan yang mampu mengusir keinginan untuk segera menimang momongan.

Hidup mereka berdua pun berubah. Sehari-harinya dihabiskan untuk beribadah. Stok makanan yang melimpah di rumahnya pun ia bagikan ke tetangga-tetangganya. Ia memilih berpuasa. Selera makan mereka turun drastis. Yang biasanya makan aneka rupa dengan porsi besar, kini tak lagi. Sepotong kurma dan seteguk air saja sudah cukup mengenyangkan bagi mereka. Bayangan kematian benar-benar tanpak nyata di mata keduanya.

Hari berganti hari pun berlalu. Dengan pola makan yang berubah drastis, bobot tubuh suami istri itupun susut dengan drastis pula. Mereka kurus mendadak. Bayangan kematian menggelayut dari raut wajah mereka.

Hari ke-39 pun berlalu. Perasaan keduanya makin kacau. Kematian sudah sehari lagi. Memasuki hari ke-40, keduanya pun tak beranjak dari tempat sholatnya. Mereka akan menyambut malaikat maut di atas sajadah. Begitu pikirnya.

Akan tetapi, saat matahari ke-41 terbit, ternyata kematian sebagaimana yang dinubuatkan oleh Imam Ghazali tak terjadi. Keduanya masih hidup. Mereka bisa bernafas dan menggerakkan tubuhnya sebagaimana biasanya. Bahkan lebih lincah dari sebelum-sebelumnya, karena bobot tubuh yang turun drastis.

Mereka berdua pun bergegas untuk menemui Imam Ghazali. Mereka ingin mengadu bahwa apa yang dikatakan 40 hari silam tak terbukti.

Setelah menghadap dan mengadu, Imam Ghazali dengan tersenyum menjelaskan perihal maksud ramalan kematian pasangan suami istri itu, tempo hari. “Kalian datang kesini, waktu itu ingin memiliki anak. Lantas saya berfikir, mana mungkin orang yang gemuk seperti kalian itu bisa memiliki anak?” ia mengawali penjelasannya.

Memang, secara medis, orang yang mengalami obesitas (berat badan) akan mempengaruhi kwalitas sperma sehingga akan menghambat proses pembuahan. Sehingga, kerap kali orang dengan obesitas berlebih akan mengalami kemandulan.

“Tak mungkin saya katakan, kalian jangan makan (diet). Pasti kalian akan menentangnya. Maka, saya pun mengabarkan tentang kematian itu, agar kalian tak lagi memiliki selera makan dan segera kurus,” tambah Al-Ghazali.

“Dengan tubuh yang tak lagi gemuk, insyallah, akan lebih mudah bagi kalian untuk punya anak,” pungkas Al-Ghazali.

Setelah mendengar penjelasan Imam Ghazali tersebut, keduanya pun tenang. Mereka pulang dan mengatur pola makan dan gaya hidupnya. Selang beberapa waktu, pasangan itu pun mendapatkan anugerah seorang anak. Istri hamil dan melahirkan anak yang sehat. (ayung)

Comments

comments

Check Also

Aisyah dan Kecemburuannya

Diantara Ummuhatul Mu’minin (julukan untuk para istri Nabi) yang paling spesial adalah Aisyah binti Abu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *