Gaji yang Berkah

Gaji yang secara kasat mata berjumlah besar, terkadang dipandang tak cukup bagi si empunya. Dan, tak jarang, gaji yang pas-pasan bisa untuk mencukupi kebutuhan si bersangkutan. Disanalah letak keberkahan sebuah gaji, sebagaimana sebuah kisah dari Imam Syafi’i.
Suatu hari Imam Syafi’i sedang dicurhati oleh seseorang. Orang tersebut mengeluh, bahwa gajinya bekerja tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama keluarganya. Bahkan, hingga terjerat hutang yang memberatkan.
“Memangnya, berapa gajimu?” tanya sang imam pada tamunya.
“5 dirham.”
“Besok, datangi tuanmu dan minta untuk dikurangi gajimu menjadi 4 dirham,” saran Imam Syafi’i.
Si tamu merasa masygul dengan saran sang imam tersebut. Namun, karena terdorong oleh rasa hormat padanya, si tamu tadi pun melaksanakannya.
Selang beberapa bulan, si tamu tadi kembali datang ke Imam Syafi’i. Keluhannya masih sama. Gajinya semakin tak berarti di tengah kepungan pengeluaran.
“Kalau begitu, suruh tuanmu untuk memotong gajimu menjadi 3 dirham,” Imam Syafi’i memberi saran yang lebih ekstrem.
Saran yang tak masuk akal. Mungkin, demikian perasaan yang menggumpal di benak si tamu. Tapi, Imam Syafi’i yang memiliki reputasi keilmuwan, akhlaqul karimah, dan tingkat ibadah yang tinggi mau mencelakakan sesamanya. Si tamu pun melaksanakan saran sang imam dengan berat hati.
Hari-hari pun berlalu. Tak ada lagi kabar tamu itu. Tak lagi berkunjung ke kediaman Imam Syafii. Mungkinkah, ia dan keluarganya mati kelaparan?
Syahdan. Di sebuah acara, Imam Syafi’i kembali bertemu dengan si tamu tersebut. Kini tanpak berbeda. Wajahnya terlihat sumringah. Bahagia. Badannya pun terlihat berisi. Mungkin, mulai sejahtera.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Imam Syafi’i.
“Alhamdulillah, sekarang saya tak lagi punya hutang. Kebutuhan hidup kami sekeluarga terpenuhi, bahkan bisa menabung,” jawab si tamu itu.
“Alhamdulillah.”
“Syekh,” lanjut si tamu. “Ada yang ingin saya tanyakan sebenarnya. Tapi, saya masih belum ada waktu untuk bertamu ke kediaman anda.”
“Apa itu?”
“Kenapa gaji saya yang hanya 3 dirham justru bisa mencukupi, sedangkan gaji yang 5 dirham malah membuat saya kekurangan?”
“Karena di dalam gajimu yang 5 dirham itu, ada kelebihan dari harga keringatmu dalam bekerja. Keringatmu itu sebenarnya hanya seharga 3 dirham. Sehingga tidak berkah. Tatkala gajimu 3 dirham, maka itu sesuai dengan harga keringatmu. Sehingga berkah,” jeletreh Imam Syafi’i.
“Dengan keberkahan itulah, semua kebutuhanmu menjadi tercukupi,” pungkas Imam Syafi’i. (ayung)

Comments

comments

Check Also

Aisyah dan Kecemburuannya

Diantara Ummuhatul Mu’minin (julukan untuk para istri Nabi) yang paling spesial adalah Aisyah binti Abu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *