Rahasia Kiai Qusyairi Naik Haji Tiap Tahun

Kiai Achmad Qusyairi – Allahuyarham – merupakan ulama besar di Jawa Timur. Mertua Kiai Hamid Pasuruan tersebut, dikenal memiliki ilmu agama yang mumpuni dan ilmu hikmah yang dalam. Setiap hari, para pentakziyah tak pernah sepi berkirim doa di kompleks pemakamannya yang berada di depan Masjid Al-Anwar, Pasuruan itu.

Sebagai ulama besar, Kiai Achmad Qusyairi memiliki amaliah yang luar biasa, yaitu naik haji tiap tahun (saat itu masih belum ada jatah kuota haji).

Beliau tak termasuk orang yang memiliki kekayaan yang melimpah. Tapi, dengan niat dan tekad yang kuatlah yang mengantarkannya tiap tahun ke Makkatul Mukarromah.

Pernah pada suatu saat, beliau tak punya sangu (bekal) sedikit pun untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, itu bukan halangan bagi Kiai Mad – sapaan akrabnya. Ia melamar menjadi kuli kapal di pelabuhan Tanjung Perak yang akan mengangkut jamaah haji. Di dalam pelayaran, Kiai Mad, selain bersih-bersih kapal juga mengajari manasik haji para jamaah haji.

Atas kealimannya dalam mengajarkan manasik haji itulah, banyak jamaah yang mengajaknya untuk ikut serta menunaikan rukun Islam yang kelima itu. “Untuk urusan sangu-nya, biar kami yang nanggung,” janji para jamaah itu.

Akhirnya, Kiai Qusyairi pun berhasil menunaikan ibadah haji. Meski, sewaktu pulang, Kiai Mad harus bekerja terlebih dahulu di Saudi untuk mengumpulkan sangu pulang.

Kisah lain terjadi di tahun yang berbeda. Kali ini, lagi-lagi soal sangu untuk menunaikan haji. Saat itu, Kiai Mad tak punya sangu untuk ongkos ibadah haji.

Dalam kegundahan tersebut, Allah menunjukkan kuasa-Nya pada Kiai Mad. Dalam perjalanan pulang, Kiai Mad naik becak dari pertigaan Glenmore menuju ke rumahnya di Desa Sepanjang. Dala perjalanan kurang lebih 3 KM itu, Kiai Mad dihentikan oleh orang berulang kali. Tak hanya bersalaman dan meminta doa saja, tapi juga menyelipkan amplop.

Sesampainya di kediamannya, betapa terkejutnya Kiai Mad, isi amplop yang terkumpul sepanjang perjalanan 3 KM itu cukup untuk bekal ibadah haji. Akhirnya, Kiai Mad kembali menunaikan ibadah haji.

Kiai Ahmad Qusyairi dikerubung jama’ah saat hendak berangkat haji

Menurut salah seorang putranya, KH. Hasan Abdillah, pernah ia diajak berziarah ke makam seorang habib di Banyuwangi, yaitu makam Datuk Bawazir. Seusai berdoa, Kiai Mad menepuk-nepuk makam tersebut seraya bergumam, “Bib, saya minta uangnya.”

Tak lama kemudian, tiba-tiba banyak orang yang datang dan menaruh uang didekatnya beliau. Tak berapa lama, uang sejumlah keperluannya yang dibutuhkan oleh Kiai Mad terkumpul. Uniknya, uang yang terkumpul itu selalu pas, tak pernah lebih, dari kebutuhan yang ia perlukan.

Cara lain Kiai Mad mencari sangu adalah dengan “melobi” Allah SWT. Awalnya, Kiai Mad utang sejumlah uang kepada seseorang. Lantas, uang tersebut tidak ia pakai untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi, justru ia sedekahkan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Setelah itu, ia pulang dan bermunajat kepada Allah dengan gaya-gaya Abu Nawas. “Ya Allah, katanya kalau shodaqah akan dilipatgandakan. Tapi, saya kok masih belum dibalas?” bujuknya.
Tak selang beberapa lama ada tamu yang berdatangan. Bukan tamu biasa. Tamh yang digerakkan oleh Allah untuk menjadi perantara penggandaan sedekah Kiai Mad. Para tamu tersebut meninggalkan sangu untuk Kiai Mad sesuai dengan kebutuhannya.

Memang, apa yang dilakukan oleh Kiai Mad itu tak rasional jika dinilai dengan logika pada umumnya. Tapi memang demikianlah Allah Swt memuliakan para hamba-Nya yang dikasihi-Nya. (Ayung)

Comments

comments

Check Also

Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *