KPK Pemberantasan Radikalisme Agama

Jika saat ini kita mengenal KPK, maka itu adalah Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebuah lembaga yang memiliki tugas khusus pemberantasan korupsi. Namun, jika istilah KPK tersebut muncul pada tahun 50-an, maka ia memiliki tugas khusus untuk memberantas radikalisme agama.

.
KPK yang terakhir ini adalah akronim dari Kiai-Kiai Pembantu Keamanan. Yaitu, badan yang dibentuk oleh Wakil Perdana Menteri II sekaligus Kepala Badan Keamanan RI KH. Idham Chalid pada tahun 1957. KPK ini bertugas untuk melakukan radikalisme agama yang mengkristal menjadi aksi bughot (pemberontakan) kepada Pemerintah Indonesia.
.
Pada saat itu, ada empat tempat pemberontakan terjadi yang mengatasnamakan Islam sebagai pembenaran. Yaitu pemberontakan Darul Islam yang dipimpin oleh Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Teungku Daud Beureuh di Aceh.
.
Dalam perjuangannya, para pemberontak tersebut mengkampanyekan cita-cita untuk mewujudkan negara Islam di Indonesia. Untuk mencapainya, tidak dengan kekuatan politik saja, tapi juga halal menggunakan kekerasan dan senjata sekalipun. Selain itu, mereka juga mempropagandakan bahwa negara yang dipimpin oleh Presiden Soekarno tersebut adalah Republik Indonesia Kafir!
.
Tentu saja, propaganda demikian menelan korban. Banyak cara-cara kekerasan yang menelan korban dari kalangan umat Islam sendiri. Di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, sebagaimana yang dikenang oleh Kiai Idham Chalid dalam biografinya, ‘Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah’, para pemberontak itu membakari masjid dan madrasah yang tidak sependapat dengan pendapat mereka.
.
Situasi yang mencekam tersebut, mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat, terutama di Jawa Barat. Banyak para pekerja di perkebunan yang tak berani bekerja. Begitu pula ketika malam, tak seorang pun yang berani melakukan perjalanan masuk ataupun keluar Bandung.
.
Aksi-aksi percobaan pembunuhan para pejabat tinggi negara juga dilakukan oleh pemberontak yang berbalut doktrin agama tersebut. Kiai Idham sendiri, setidaknya tiga kali mengalaminya. Posisinya sebagai Kepala Badan Keamanan tentu menjadi sasaran utama kaum separatis tersebut.
.
Pertama, saat menginap di Puncak dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta. Tiba-tiba, penginapannya dibrondong tembakan. Untung saja, segera datang pasukan TNI dari Cipasung yang berhasil mengusir mereka setelah baku tembak berjam-jam lamanya. Kedua, tatkala melakukan perjalanan dengan kereta api menuju Jawa Timur. Saat melewati daerah antara Stasiun Gambir dan Pegangsaan, tiba-tiba dihujani dengan tembakan pemberontak.
.
Pada percobaan ketiga, hampir saja Idham berhasil dilumpuhkan oleh timah panas. Saat itu, ia bersama Presiden Soekarno dan para pejabat tinggi lainnya sedang menunaikan sholat hari raya Idul Adha. Dalam kejadian yang dikenal dengan “peristiwa idul adha” itu, hanya tengkuknya saja yang terasa panas karena diserempet peluru.
.
Singkat kata, pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII), saat itu, benar-benar membahayakan Negara Republik Indonesia. Masih belum pulih bangsa yang baru merdeka itu, dari pemberontakan PKI di Madiun (1948), harus kembali menghadapi perang saudara melawan DI/TII.
.
Situasi darurat demikian, memantik insting Kiai Idham untuk meminta bantuan para kiai. Merekalah soko guru bangsa Indonesia yang siap berkorban untuk tanah airnya. Kapanpun, dimanapun dan apapun resikonya.
.
Kiai Idham lantas membentuk KPK sebagaimana tersebut di atas. Ia menunjuk KH. Muslich sebagai ketua KPK. Selain itu, di setiap provinsi juga ditunjuk masing-masing ketuanya. Untuk provinsi yang berkecamuk pemberontakan, ditunjuk dua orang sebagai ketua KPK.
.
Di Jawa Barat, diangkat sebagai ketua KPK adalah KH. Dimyati asal Ciparai dan Kiai Muhammad Marsid. Sedangkan di Jawa Tengah ada KH. Malik asal Demak. Dan, di Jawa Timur ada KH. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo yang mengetuainya.
.
Adapun di Kalimantan, KPK diketuai oleh KH. Ahmad Sanusi, di Lampung diketuai oleh KH. Zahri, di Sumatera Selatan oleh KH. Jusuf Umar, dan di Sumatera Tengah oleh KH. Kahar Ma’ruf. Sedangkan di Sumatera Utara dan Aceh dipimpin oleh Teungku Mohammad Ali Panglima Pulen dan seorang koleganya. Serta di Sulawesi diketuai oleh KH. Abdullah Joesoef.
.
Tugas awal KPK adalah melakukan counter narasi para ekstrimis yang tergabung di DI/TII tersebut. Propaganda yang dihiasi dengan dalil-dalil keagamaan yang dipahami sepenggal-sepenggal itu, harus dinetralisir dari kesadaran masyarakat awam.
.
Dalam sebuah dialog pada awal pembentukan KPK, Kiai Idham menanyakan pandangan para kiai tersebut. “Bagaimana menurut bapak-bapak kiai, apa betul mereka itu berjuang memakai senjata menghadapi negara Republik Indonesia miliknya sendiri. Di Jawa Barat mereka menyebut Republik Indonesia sebagai RIK (Republik Indonesia Kafir). Apakah hal ini kita biarkan?”
.
Para kiai yang dikenal memiliki ilmu agama yang mendalam, sekaligus nasionalis tersebut, menolak pandangan para ekstrimis DI/TII itu. “Itu tidak benar. Itu mengorbankan rakyat, korban yang sia-sia. Apa yang dilakukan pemerintah sudah benar. Tentara harus menumpas gerombolan pengganggu keamanan itu.”
 .
Komitmen para kiai tersebut, lantas dikongkritkan dengan aksi kontra propaganda. Mereka bertugas mengajak para kiai di daerahnya masing-masing untuk menyampaikan kesadaran mematuhi ajaran agama dan hidup bernegara. Mereka melakukan secara simultan dalam berbagai kesempatan, seperti pengajian dan kegiatan lainnya.
.
Meski merupakan badan khusus yang dibentuk oleh negara, para ketua KPK tersebut tak memiliki gaji. Mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Hanya uang saku sekedarnya dan besluit (surat keputusan) dari Kepala Badan Keamanan. Dengan selembar besluit, para kiai itu mengemban tanggung jawabnya sepenuh hati. Bahu membahu dengan tentara untuk meredam para bighot yang memperkosa ajaran agama untuk ambisi politiknya sendiri.
.
Keikhlasan para kiai yang demikian, bukanlah hal yang asing dalam sejarah panjang bangsa Indonesia ini. Merekalah eksponen bangsa yang tanpa lelah mengabdikan diri untuk NKRI dari dulu, sekarang dan esok. (ayung)

Check Also

Haji dan Transformasi Sosial

Usai sudah perhelatan akbar yang melibatkan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *