Dermawan, Kunci Sukses Kiai Mukhtar Syafaat

Hampir semua orang mengenal Pesantren Darussalam Blokagung. Pesantren yang berada di sudut terpencil ini, kini menjadi pusat pendidikan yang terbesar dan bergengsi di Banyuwangi. Mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi, semua ada. Banyak sudah, alumni dari pesantren salaf ini yang menjadi ulama, tokoh masyarakat hingga pejabat.

 .
Kebersihasilan Pesantren Darussalam seperti saat ini, tentu tidak terlepas dari peran pendirinya, KH. Mukhtar Syafaat bin Abdul Ghofur. Beliau tidak sekedar membangun pesantren saja, tapi ia pun mentirakati lembaga yang didirikannya tersebut. Sehingga, pesantren yang awalnya hanya sepetak angkringan itu, bisa menjadi komplek pendidikan yang megah. Tak lain ini berkah dari pendirinya.
.
Apa sebenarnya rahasia Kiai Mukhtar Syafaat hingga bisa membangun pesantren sedemikian rupa?
.
Pertanyaan tersebut, sedikit dijawab oleh putra pertamanya, KH. Hisyam Syafaat. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan Kiai Mukhtar adalah kedermawanannya. “Tahadutsan binni’mah, Abah (Kiai Mukhtar) niku tiyange loman,” ungkap Kiai Hisyam saat acara halal bi halal PCNU Banyuwangi di Purwoharjo, Sabtu (5/8).
.
Kedermawanan Kiai Mukhtar tersebut, telah dibina semenjak menjadi santri. Ia tak segan untuk menghabiskan bekalnya demi untuk membantu orang lain. Pada tahun 1938, Kiai Syafaat menjadi santri di Pesantren Tasmirit Thalabah, Jalen, Genteng. Pesantren tersebut, diasuh oleh KH. Ibrahim bin H. Irsyad (w. 1970).
.
Saat itu, pesantren masih dalam keterbatasan. Tak cukup banyak harta yang bisa dipergunakan untuk menunjang aktivitas dakwah. Bahkan, Kiai Ibrahim sendiri, untuk berdakwah ke masyarakat harus berjalan kaki.
.
Menyadari hal tersebut, Mukhtar Syafaat muda, berkeinginan untuk membelikan kiainya sepeda onthel. Harapannya, dengan sepeda itu, bisa menjadi alat transportasi gurunya dalam berdakwah. Mukhtar pun mulai mengumpulkan uang bekal kiriman orang tuanya untuk membelikan sepeda.
.
Sebenarnya, Mukhtar bukanlah berasal dari kalangan keluarga berada. Ayahnya, Abdul Ghofur, hanyalah seorang petani yang sawahnya tak seberapa luas. Namun, panggilan jiwa Mukhtar muda untuk bisa berdarma bagi sesama, mendorongnya untuk menafkahkan rezekinya. Yang mana, dalam hitungan normal, hal tersebut merupakan tindakan ceroboh.
.
Pernah suatu ketika, cerita Kiai Hisyam, Mukhtar muda dikirim oleh orang tuanya. Bukannya disimpan untuk bekal selama di pondok, Mukhtar malah mentraktiran semua temannya di pondok. “Kirimane didamel mayoran kale sak rencangan,” tutur Kiai Hisyam.
.
Prilaku Mukhtar muda yang “royal” itu, ada seseorang yang melaporkan kepada bapaknya. Semenjak itulah, Mukhtar tak lagi dikirimi uang oleh orang tuanya.
.
Mendapatkan perlakuan demikian, Kiai Mukhtar tak mengeluh. Ia tak protes kepada orang tuanya. Ia pun tak mengurangi sikap kedermawanannya hingga diakhir hayatnya.
.
Untuk memenuhi kebutuhannya selama di pesantren, Kiai Mukhtar belajar sembari bekerja. Jika musim panen, ia ikut menjadi buruh panen padi. Hasilnya ia pergunakan untuk kebutuhannya di pondok. Sedangkan sehari-harinya, ia perbanyak puasa dengan berbuka dan sahur ala kadarnya.
.
“Berkat kedermawanan bapak itulah, kini semua anaknya bisa sukses dan menikmati hasil jerih payahnya,” tutur Kiai Hisyam.
.
“Maka, jangan ragu untuk bersedekah, karena tak ada ruginya. Jika bukan kita yang menikmati berkahnya, maka anak turun kitalah yang akan merasakannya,” pungkas Rois Syuriah PCNU Banyuwangi itu. (ayung)

Comments

comments

Check Also

CBP-KPP IPNU-IPPNU Banyuwangi, Bantu Korban Banjir di Pesanggaran

Banyuwangi, NUOB- Hujan dengan intensitas sangat lebat yang mengguyur Kecamatan Pesanggaran kamis (11/01) kemarin telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *