KH. Hasan Abdillah, Pemimpin Haji Indonesia Generasi Awal

Haji, sebagai salah satu ibadah wajib, telah dilakukan oleh umat muslim Indonesia sejak beratus tahun silam. Namun, semua jama’ah haji bergerak masing-masing. Tak ada koordinasi yang langsung ditangani oleh negara sebagaimana dewasa ini. Masing-masing mendaftarkan diri kepada agen-agen haji, menyewa kapal dan meminta izin jalan kepada pemerintah kolonial kala itu.

Setelah merdeka, Indonesia masih belum bisa mengendalikan jama’ah haji. Selain itu, kondisi Indonesia yang masih berkecamuk perang revolusi, juga cukup rawan untuk perjalanan laut. Baru pada 1950, Indonesia memfasilitasi pemberangkatan haji. Namun, penyelenggaraannya masih belum teratur dan tertata dengan baik. Baru pada tahun 1951 lah, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama yang saat itu dijabat oleh KH. Wahid Hasyim bisa mengkordinasikannya dengan baik.

Di tahun berikutnya, 1952, proses pemberangkatan jama’ah haji sudah mulai tertata dengan baik. Jumlah Majelis Pimpinan Haji (MPH), diperbanyak seiring bertambahnya jama’ah. Fasilitas pun ditingkatkan untuk memberikan pelayanan terbaik.

Di tahun-tahun awal Kementerian Agama RI mengkoordinir langsung inilah terdapat seorang putra Banyuwangi yang menjadi petugas MPH. Ia adalah KH. Hasan Abdillah yang kelak mendirikan Pesantren As-Shiddiqi, Sepanjang, Glenmore. Sungguh, suatu kehormatan tersendiri, bisa menjadi anggota MPH saat itu. Tak semua orang bisa mendapatkannya. lebih -lebih saat itu, ia masih seorang pemuda berusia 24 tahun.

Sebenarnya, ada kisah menarik tentang proses dipercayanya Kiai Hasan Abdillah dipercaya menjadi pimpinan jama’ah haji saat itu. Semua berawal dari ‘sangu’ 10 Rupiah yang berasal dari gurunya, KH. Zaini Hasan, pengasuh Pesantren Genggong, Probolinggo.

Sangu tersebut dititipkan kepada bapaknya, KH. Achmad Qusyairi. Kiai Hasan yang saat itu telah pulang ke Banyuwangi merasa heran dengan titipan gurunya tersebut. Bagaimana tidak, hanya dengan uang 10 Rupiah, disuruh naik haji. Padahal untuk ongkos haji kala itu, sekitar 28.000 Rupiah.

Meskipun demikian, Kiai Hasan percaya, apa yang diberikan oleh gurunya tersebut, ada berkahnya. Dengan uang itu, pasti suatu saat akan bisa berangkat. Ia pun menyimpan uang sepuluh rupiah itu.

Selang beberapa waktu, ternyata keyakinan Kiai Hasan mendapatkan titik terang. Suatu ketika, Rois Amm PBNU KH. Wahab Chasbullah sedang bertemu dengan Kiai Achmad Qusyairi yang sedang bersama putranya, Hasan Abdillah. Dalam pertemuan di Jakarta itu, Kiai Wahab merekom Hasan untuk menjadi anggota MPH.

Tawaran itu pun tak disia-siakan oleh Hasan. Ia segera mengurus berbagai persyaratan administratif untuk berangkat haji. Awalnya, sempat mendapatkan kesulitan hingga beberapa hari menjelang keberangkatan. Akan tetapi setelah mendapat doa dari KH. Hamid Pasuruan dan KH. Thoha Surabaya, proses tersebut diberikan kemudahan.

Pada hari keberangkatan, Kiai Hasan bertugas sebagai MPH bersama seorang wartawan asal Banjarmasin. Mereka memimpin sekitar 2.800 jama’ah yang berasal dari Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Sedangkan kapal yang dikendarainya adalah kapal Cyclop. Salah satu kapal penumpang terbaik saat itu.

Sesampainya di Mekkah, Kiai Hasan tak terlampau kesulitan mengatur kebutuhan jama’ah. Meski waktu itu, sedang terjadi wabah, tapi berkat bantuan para syekg yang dulunya adalah santri dari ayahandanya, rombongan Kiai Hasan diberikan kelancaran dalam setiap tahapan haji.

Bahkan, di haji akbar – karena waktu wukufnya bertepatan dengan hari Jumat – tersebut, Kiai Hasan mendapat kehormatan dari Raja Saudi kala itu. Ia bersama 6 orang MPH dari Indonesia dan perwakilan lainnya dari penjuru dunia diundang ke Istana Raja di Mekkah. Tak hanya jamuan mewah, ia juga mendapatkan tiket khusus yang menggratiskan seluruh biaya transportasi selama di Saudi Arabia.

Singkat cerita, Kiai Hasan sukses mengemban amanah sebagai MPH. Seluruh jama’ah yang dibimbingnya puas hingga terbangun rasa persaudaraan antar sesama jama’ah. Dan, satu hal lagi, hal ini tak terlepas dari keyakinan doa sang guru. Meski di rasa mustahil, tapi isyarat dari lauhil mahfudz. (ayung)

Comments

comments

Check Also

CBP-KPP IPNU-IPPNU Banyuwangi, Bantu Korban Banjir di Pesanggaran

Banyuwangi, NUOB- Hujan dengan intensitas sangat lebat yang mengguyur Kecamatan Pesanggaran kamis (11/01) kemarin telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *