Elegi Haji Kiai Dimyati Syafii

Nama Kiai Dimyati Syafi’i memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Banyuwangi. Ia adalah komandan Hizbullah yang berjuang sengit melawan NICA. Meski berusia muda, namun karena kedalaman ilmu dan sikap kepemimpinannya, pendiri Pesantren Nahdlatut Thullab Kepundungan, Srono ini, juga dipercaya menjadi Rois Syuriah Nahdlatul Ulama pertama PCNU Blambangan pada 1944.
Kiai kelahiran Yogyakarta 1912 tersebut, menyimpan kisah teramat mengharukan dalam perjalanan ibadah hajinya. Kisah yang patut diketahui dan diteladani oleh generasi penerusnya.
Sebagai seorang mantan pejuang Hizbullah yang sempat ditahan, bahkan pesantrennya di bumi hanguskan oleh penjajah, Kiai Dimyati mendapat perhatian Pemerintah Indonesia. Sebagai ungkapan terima kasih atas jerih payah perjuangannya, ia hendak dinaikkan haji gratis atas biaya negara. Tawaran yang terjadi pada 1956 tersebut, berbarengan dengan tawaran yang diberikan kepada KH. Anwar Musadad, Jakarta dan KH. Masykur PBNU.
Namun, Kiai Dim – sapaan akrab Kiai Dimyati – menolaknya. Karena, pada saat itu, ia tak bisa mengajak serta adiknya, Nyai Nafi’ah. Adiknya tersebut adalah orang terkasih, yang menemani suka duka perjuangan Kiai Dim. Meski gagal, Kiai Dim punya keyakinan, suatu saat ia dan adiknya bakal berangkat ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Ternyata, keyakinan Kiai Dim itu, mulai menampakkan titik terang selang dua tahun kemudian. Sebuah informasi beliau dapatkan, bahwa pemberangkatan haji untuk tahun 1958 masih menyisakan kuota kosong yang bisa ditempati berdua dengan adiknya.
Setelah dapat informasi tersebut, Kiai Dim beserta adiknya segera mempersiapkan diri. Berbagai bekal selama perjalanan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan itu, ia persiapkan dengan baik. Pada hari-H, ia dan adiknya berangkat ke Surabaya untuk bergabung dengan para jama’ah lainnya.
Na’as, sesampainya di Surabaya, ternyata apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. Jatah yang awalnya bisa ditempati Kiai Dim dan adiknya ternyata telah ditempati oleh orang lain. Akhirnya, ia pun kembali menunda keberangkatannya naik haji untuk tahun depan.
Meski demikian, Kiai Dim tak patah arang untuk bisa berziarah ke makam Rosulullah. Ia dan adiknya, pada 1959, kembali menunaikan ibadah haji. Dan, keinginan tersebut, akhirnya kesampaian. Ia berhasil ke tanah suci beserta adiknya sebagaimana yang diharapkan.
Namun, sesampainya di Mekkah, kisah elegi kembali menyelimuti Kiai Dim. Di tengah aktivitas menjalankan rangkaian haji, tiba-tiba adiknya, Nyai Nafiqah, mengalami demam. Awalnya biasa saja. Mungkin kondisi tubuh masih belum beradaptasi dengan cuaca Mekkah.
Namun, seiring waktu, kondisi Nyai Nafiah semakin kritis. Demamnya memuncak dan di luar dugaan, ia menghembuskan nafas terakhirnya di tanah para Nabi tersebut. Kiai Dim segera mengurusi pemakaman adik tercintanya tersebut.

Pada saat itu, ia meminta tolong pada Syek Jalal asal Magelang yang merupakan kerabatnya. Pada Syekh Jalal, ia meminta tolong untuk membelikan kain kafan. Namun, hingga waktu yang larut, kain kafan tak kunjung tiba. Akhirnya, Kiai Dim berinisiatif untuk mengkafani dengan dua mukenah peninggalan almarhumah. Setelah itu, ia memakamkan adiknya di pemakaman umum Ma’la di Mekkah.

Setelah prosesi pemakaman selesai, Syekh Jalal tiba membawa kain kafannya. Karena telah selesai, kain kafan itu diambil sendiri oleh Kiai Dim seraya berseloroh, “biarkan sudah, Jalal, kain kafannya akan saya gunakan sendiri.”
Seloroh Kiai Dim tersebut, ternyata sebuah isyarah. Selang beberapa hari Kiai Dim menyusul adiknya tanpa pernah ada yang menduga. Tak tampak tanda-tanda sakit darinya. Ia menjalani ibadah sehat wal afiat selama di tanah suci itu. Hingga, pada suatu sore, saat Kiai Dim menunaikan Sholat Ashar, kejadian itu terjadi. Masih belum berubah posisi kaki yang duduk iftirasy ba’da sholat itu, Malaikat Izrail telah mencabut nyawanya. Kematian yang sungguh indah. Mati terduduk seusai Sholat Ashar di Masjidil Haram.
Jenazah Kiai Dim pun dikafani dengan kain yang awalnya dibeli untuk adiknya tersebut. Ia pun dimakamkan berdampingan dengan makam Nyai Nafiah di Ma’la sana.
Tentu, kabar wafatnya Kiai Dim, yang kala itu masih berusia 47 tahun, pukulan berat bagi umat Islam di Banyuwangi. Lebih-lebih kepada pesantren Nahdlatut Thullab yang ditinggalkannya. Salah satu ulama besar di Banyuwangi telah tiada. Suatu kehilangan yang teramat, karena tak banyak umatnya di daerah asal Kiai Dim yang bisa memberikan penghormatan terakhir. Makamnya pun di Ma’la juga tak mudah untuk diidentifikasi. Hanya doalah yang bisa menyambungkan dengan pejuang dan tokoh besar bangsa ini. (ayung)

Comments

comments

Check Also

Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *