Jabar dan Kewalian Kiai Hamid

Nama lengkapnya Abdul Jabar. Namun, teman-temannya sesama santri di PP. Zainul Hasan Genggong, Probolinggo cukup akrab memanggilnya Jabar.

Ia mondok pada tahun 1970-an. Saat Jabar duduk di kelas tiga tsanawiyah madrasah diniyah, ia ingin menguji kewalian KH. Abdul Hamid Pasuruan. Memang, pengasuh PP. Salafiyah Pasuruan tersebut tersohor sebagai waliyullah.

“Saya akan menguji kewaliannya Kiai Hamid,” aku Jabar pada adik kelasnya, Iskandar Zulkarnain. “Malam ini saya akan baca seribu fatehah yang pahalanya akan saya tujukan pada beliau,” lanjutnya.

Zulkarnain manggut-manggut saja mendengar ide kawannya tersebut.

“Jika Kiai Hamid memang wali, beliau pasti tahu kalau saya mengirim fateha buat beliau,” Jabir berhipotesa.

***

Saat pagi menjelang, Jabar kembali menemui Zulkarnain. “Mohon doanya, pagi ini saya mau berangkat ke Pasuruan, Zul,” pamit Jabar.

Berbekal uang Rp. 1.500, Jabar menuju Pasuruan. Saat itu, ongkos bis dari Probolinggo ke Pasuruan tak lebih dari Rp. 500 saja.

Sesampainya di Pondoknya Kiai Hamid, Jabar mendapat sambutan luar biasa. Kiai Hamid telah berdiri di depan pintu gerbang pondoknya.

“Kesini,” celuk Kiai Hamid pada Jabar. “Fatehahmu sudah nyampek semua. Terima kasih, ya!” sambut Kiai Hamid.

Sontak saja Jabar kikuk. Sembari di dalam hatinya, Jabar mengakui kewalian Kiai Hamid.

Selang beberapa waktu kemudian saat bersilaturrahmi di ndalem waliyullah tersebut, Jabar pamit ke belakang. “Yai, bade teng wingking kerin,” kata Jabar dengan bahasa Jawa halus.

Bukannya untuk ke kamar mandi atau buang hajat, pamitan ke belakangnya Jabar bertujuan untuk menukarkan uang. Uangnya yang tinggal seribu itu, rencananya akan disedekahkan pada Kiai Hamid. Biar berkah.

Namun, karena uang tinggal satu lembar seribuan, Jabar bingung. Jika disedekahkan semua, ia tidak punya ongkos untuk kembali ke Probolinggo. Jika disedekahkan separo, uangnya hanya satu lembar.

Akhirnya Jabar memutuskan untuk menukar uang tersebut. “Lima ratus dikasihkan Kiai Hamid, yang lima ratus buat ongkos pulang,” begitu pikir Jabar.

Namun, usaha Jabar mencari tukaran uang itu tak kunjung menemukan. Jabar telah keliling di sekitar pondok Kiai Hamid yamg berada di tengah kota Pasuruan itu. Tak seorang pun yang ditemui Jabar itu memiliki pecahan lima ratus dua lembar. Pusinglah Jabar.

Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya Jabar putus asa. “Sudahlah saya kasihkan semua ke Kiai Hamid. Biar saya jalan kaki saja pulangnya,” tekad Jabar.

Lalu Jabar kembali ke kediaman Kiai Hamid. Tak berapa lama, Jabar pamitan pulang ke Kiai Hamid. Sembari bersalaman, Jabar menempelkan uang seribu tadi ke genggaman Kiai Hamid. Nyabis, begitu orang Madura mengistilahkan.

Di luar dugaan dan keumuman, Kiai Hamid memberikan kembalian atas salam templeknya Jabar.

“Ini buat ongkos kendaraan,” ujar Kiai Hamid seraya memberikan uang pecahan lima ratus rupiah pada Jabar.

Awalnya Jabar menolak. Namun karena didesak dan terdesak, Jabar pun menerima. “Memangnya, kamu kuat jalan kaki dari Pasuruan ke Probolinggo!” sindir di lubuk hatinya Jabar.

Semenjak itulah Jabar meyakini sepenuh hati akan kewalian Kiai Hamid. (ay)

Check Also

Aisyah dan Kecemburuannya

Diantara Ummuhatul Mu’minin (julukan untuk para istri Nabi) yang paling spesial adalah Aisyah binti Abu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *