Merukyah Hilal di Atas Gumuk Klasi

Singojuruh, NUOB – Menentukan awal bulan dalam kalender hijriyah tak seperti menentukan awal bulan dalam kalender masehi. Untuk menentukannya harus melakukan rukyatul hilal. Yaitu, melakukan observasi langsung dengan melihat ketinggian hilal (bulan) di akhir bulan sebelumnya. Terutama, untuk menentukan awal Ramadlan, Syawal dan Dzulhijah. Karena dalam tiga bulan tersebut, berkaitan langsung dengan ibadah awal dan akhir puasa serta hari raya idul adha.

Oleh karena itu, menjelang hari raya Idul Adha beberapa hari kedepan, Selasa sore (22/8) Pengurus Cabang Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Banyuwangi, melakukan rukyatul hilal. Hal ini, tak lain untuk menentukan awal Dzulhijah.

Tempat yang dipilih untuk melakukan observasi adalah di puncak Gumuk Klasi, Kemiri, Singojuruh. Sebenarnya, tempat tersebut baru saja menjadi tempat observasi. “Kita sudah empat kali ini melakukan observasi disini,” ujar Sekretaris PC LFNU Banyuwangi Gufron Musthofa kepada NUOB.

Namun, selama pemantauan tersebut, Gufron mengaku belum pernah seorang pun anggota timnya yang menyaksikan hilal di dari bukit tersebut. Bahkan, pada pemantauan keempat awalnya juga gagal untuk menyaksikan fenomena awal bulan tersebut. Mendung tipis menggelayut di langit sore itu.

“Menurut hitungan hisab, seharusnya telah terjadi ijtima’. Yaitu, posisi matahari, bulan  dan bumi berada dalam satu garis lurus. Ini terjadi pada Selasa dini hari, pukul 01:31 WIB. Kejadian ini, berbarengan dengan gerhana bulan di Amerika,” terang Gufron.

Sedangkan posisi kemunculan bulan, lanjut Gufron, diprediksi sudah melebihi ambang batas minimum awal bulan. Ketika matahari terbenam pada 17:22:14 WIB, bulan akan muncul pada ketinggian 7 derajat 40’11. “Meski secara perhitungan (hisab) hilal seharusnya terlihat, tapi kami masih belum bisa menyaksikannya,” ungkap Gufron.

Hal tersebut hampir saja membuat para pemantau hilal tersebut putus asa. Selain tim dari LFNU Banyuwangi, hadir pula Penyelenggara Bimbingan Syari’ah Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi,  Ketua Tanfidziyah MWCNU Sempu dan Singojuruh beserta jajarannya, ustad madrasah diniyah di sekitar lokasi, pengelola Rukun Jaya Argo Lestari serta para penggiat hisab rukyat yang ikut serta dalam observasi tersebut.

Akan tetapi, harapan untuk melihat hilal di Gumuk Klasi untuk pertama kalinya kembali terbit. Seorang peserta bernama Tsamratul Fikri (35), mengaku melihat hilal. Tepat pukul 17.33 WIB, Fikri melihat bulan sabit di ketinggian 4 derajat dari ufuk. Sudah cukup untuk menjadi penentu awal bulan.

“Keberhasilan rukyatul hilal tersebut ditopang oleh alat Total Station yang diarahkan ke bulan sabit dari menit ke menit dengan menggunakan hitungan software satelarium,” jelas Gufron.

Dengan peralatan yang cukup canggih tersebut, LFNU Banyuwangi menjadi salah satu komunitas perukyah yang disegani di Jawa Timur. Tak banyak LFNU maupun penggiat rukyah lainnya, yang memiliki peralatan Total Station sebagaimana yang dimiliki LFNU Banyuwangi.

Dengan peralatan yang mencukupi itulah, LFNU bertekad untuk mengenalkan tradisi dan praktik rukyah kepada masyarakat luas. Salah satu diantara upayanya adalah dengan mencari tempat rukyah yang mudah dijangkau, seperti halnya di Gumuk Klasi. “Akhirnya, keputusan kita untuk menjadikan Gumuk Klasi sebagai tempat rukyah yang potensial dan terjangkau, bisa terbukti. Yaitu, bisa menyaksikan hilal dengan baik,” ungkap Gufron.

Dengan catatan, imbuh Gufron, Gumuk Klasi selalu dinaungi cuaca cerah saat proses hilal. “Jika selalu sukses, bukan tidak mungkin, akan semakin mengundang masyarakat luas untuk terlibat rukyah di sini,” harapnya. (ay)

Comments

comments

Check Also

LAZISNU Bawa Bayi Penderita Phymosis ke Rumah Sakit

Banyuwangi, NUOB – Tim Lembaga Amil Zakat dan Shodaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Banyuwangi, segera melakukan …

One comment

  1. Semoga ilmu falak semakin menyebar di bumi Blambangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *