“The Look of Silence” Rekonsiliasi atau Propaganda?

Menjelang akhir september, kita kerap disuguhkan dengan isu tahunan kebangkitan PKI. Salah satu isu yang selalu diproduksi dari tahun ke tahun. Seolah ada ketakutan yang akut akan dengan tragedi yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Upaya rekonsisliasi terus dilakukan, namun adanya kepentingan politik dari berbagai pihak menjadikan isu kebangkitan PKI seolah tak pernah hilang.

Baru-baru ini pemerintah lewat panglima TNI menginstruksikan kembali kepada masyarakat untuk menonton film G-30-S yang ketika Orde Baru wajib ditayangkan setiap tahunnya. Sebetulnya ini bukan solusi yang tepat, mengingat film tersebut syarat dengan kepantingan politik.

Begitu juga dengan beberapa tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2014, juga diproduksi salah satu film dokumenter yang mengisahkan tentang pembantaian 65 di Sumatra, yang berjudul “Senyap”, yang seolah menjadi antitesis dari film G-30-S.

“The look of silsience” atau “Senyap” merupakan film dokumenter karya Joshua Openheimer  yang mengisahkan tragedi Genosida (pembantaian masal) yang terjadi pada tahun 1965 di sumatra. Film ini merupakan seri kedua dari film dokumenter sebelumnya yang berjudul “Jagal”. Berbeda dengan seri pertama yang mengupas peristiwa dari pelaku, kali ini  lebih menyoroti dari sisi keluarga korban.

“Senyap” mengisahkan perjalanan satu keluarga untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya, sesuatu yang tak terbayangkan ketika para pembunuh masih berkuasa.

Sekilas kita lihat memang terdapat pesan “rekonsiliasi” dalam film ini dengan adanya pertemuan antara keluarga korban dan pelaku. Namun jika kita lihat dari prespektif lain, film ini berusaha menggiring opini penonton bahwa pada peristiwa pembantaian 1965 hanya PKI yang menjadi korban, padahal jika kita melihat di tempat lain maupun periode sebelum 1965 PKI juga melakukan hal yang sama kepada aktivis GP. Ansor dan Pemuda Pancasila.

Salah satu bukti bahwa PKI juga menjadi pelaku pada tragedi 1965 adalah peristiwa pembantain 62 pemuda Ansor pada tanggal 18 oktober 1965 di kecamatan Cluring, Banyuwangi. Informasi tersebut tertulis di monumen pancasila di dusun cemetuk yang merupakan makam korban pembantaian. Hal itu diperkuat dengan pengakuan dari salah satu dari 3 korban yang selamat yang menyatakan, bahwa mereka dibunuh secra sadis dan dikubur hidup-hidup, beliau juga mengatakan bahwa pada situsi saat itu hanya dihadapkan pada dua pilihan, membunuh atau dibunuh?

Dari peristiwa diatas setidaknya terdapat dua kemungkinan mengapa sutradara menampilkan sisi yang timpang dalam pengungkapan tragedi 1965. Pertama, subjektifitas memang hal cukup menarik untuk disaksikan oleh penonton, agar penonton larut dalam kegelisahan sehingga memancing orang lain untuk ingin menyaksikan film terebut, dengan demikian secara komersial akan memperoleh keuntungan yang besar. Yang kedua ada upaya terselubung untuk membuka “luka lama” yang mulai tertutup sehingga eks PKI yang melihat akan kembali mengingat masa lalu sehingga bangsa ini tak pernah bersatu, mengingat Joshua Openheimer merupakan sutradara Asing yang kita tidak tahu, apakah latar belakang pembuatan film ini memang benar-benar murni untuk seni dan komersial atau ada maksud lain.

Oleh karena kita harus jeli dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi dalam film “Senyap” sehingga kita tidak larut dalam peristiwa yang ditampilkan dan tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Dalam kejadian ini mencari siapa yang benar siapa yang salah sama saja menegakkan benang basah, yang ada hanyalah luka lama dan pertentangan baru. Rekonsiliasi secara kultural sebenarnya telah lama terjadi, banyak eks PKI yang pernah dianggap “berkhianat” kini telah mendapatkan hak politiknya, dan mereka juga mendapatkan kedudukan yang sama di masyarakat.

Berbicara masalah hukum dan pelanggaran HAM akan lebih rumit lagi, akan muncul pertanyaan siapa yang mau di hukum?, siapa yang harus meminta maaf?, mengingat pelaku dan korban sudah meninggal. Dalam kejadian ini  yang menjadi korban bukan hanya PKI karena tak sedikit juga kalangan pemuda Ansor dan Pemuda Pancasila yang menjadi korban. So, sebagai generasi 90an, lebih baik bersatu untuk mengukir sejarah baru yang lebih indah, daripada mengorek masa lalu yang kelam. Ayo move on dari G-30-S.

Oleh: Ibnu Tsani Rosyada (Direktur SCC PC IPNU Banyuwangi)

Check Also

“Politik Santet”: Dari Genjer-genjer hingga Umbul-Umbul Blambangan

Banyuwangi, NUOB- Sekilas membaca judul diawal, saya menduga bahwa buku ini akan banyak membahas dinamika …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *