“Politik Santet”: Dari Genjer-genjer hingga Umbul-Umbul Blambangan

Banyuwangi, NUOB- Sekilas membaca judul diawal, saya menduga bahwa buku ini akan banyak membahas dinamika politik dalam “Teror Ninja dan Dukun Santet” yang terjadi tahun 1998 yang menggemparkan Jawa Timur dan menjadi isu Nasional. Ya memang di beberapa bagian awal membahas bagian itu, namun bukan menjadi pembahasan utama dalam buku ini.
Ternyata setelah saya baca, term “Politik Santet” digunakan sebagai penggambaran bagaimana politik. Intrik yang ada dalam politik itu tidak kelihatan, namun sengatanya begitu terasa, hampir sama dengan kekuatan santet yang tidak terlihat, tak tercium namun mampu membunuh seseorang secara kejam, kira-kira seperti itu.
Secara umum buku ini menjelaskan dinamika pertarungan elit politik di Banyuwangi khususnya menjelang tahun 2005 hingga hari ini, atau era kepemimpinan Ratna Ani Lestari hingga Abdullah Azwar Anas, yang melibatkan tokoh-tokoh elit politik di Banyuwangi mulai dari Syamsul Hadi (mantan Bupati) Ahmad Wahyudi (mantan ketua DPRD) Eko Sukartono (mantan wakil ketua DPRD) serta beberapa tokoh lain di luar pemerintahan.
Dalam buku ini penulis menjelaskan secara rinci bagaimana pertarungan politik di internal partai antara Ir. Syamsul Hadi dengan Ir. Wahyudi yang berasal dari gerbong yang sama. Puncak perseteruan kedua tokoh tersebut terjadi pada tahun 2005 ketika Ir. Wahyudi resmi menjadi calon Bupati Banyuwangi lewat Partai Kebangkitan Bangsa yang diakui oleh KPU (PKB mengalami dualisme kepengurusan antara kubu Cak Imin dan Cak Anam) dengan kelincahan dan kecerdasannya dalam berpolitik dia mampu menyingkirkan koleganya Ir. Syamsul Hadi lebih awal di bursa pencalonan. Padahal kalau itu mantan Bupati Syamsul Hadi memiliki masa dan basis pendukung yang masih kuat.
Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan efek domino. Syamsul Hadi yang telah dikalahkan oleh Wahyudi melakukan Counter Attack dengan mendukung calon medioker yang sama sekali tidak diperhitungkan yaitu pasangan Ratna Ani Lestari-Yusuf Nuriskandar. Pada detik-detik akhir jelang pemilihan Syamsul Hadi mengalihkan masanya untuk mendukung Ratna-Yusuf yang akhirnya pasangan yang dianggap hanya “anak bawang” mampu mempecundangi calon kuat, Wahyudi-Eko sukartono dengan skor telak.
Efek domino itu terus berlanjut, Wahyudi yang saat itu menjabat sebagai ketua DPRD Banyuwangi tidak tinggal diam, pelantikan Bupati yang Ratna molor hingga 4 bulan, Namun setelah “deal politik” selsai akhirnya dilantik juga. Namun serangan-serangan yang ditujukan kepada pemerintah baru tidak selsai sampai disitu, proses terpilihnya Ratna yang syarat dengan politik transaksional membuat dirinya harus menyingkirkan orang-orang yang diangggap menghalangi tujuannya. Mutasi PNS sangat sering terjadi di masa kepemimpinannya sempat muncul istilah “kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu ratna”. Selain berhadapan dengan DPRD, dan internal birokarasi, pemerintahan Ratna juga diserang oleh isu-isu sara mengenai agama yang dianutnya, praktis selama lima tahun memimpin Ratna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menghadapai lawan politik ketimbang membangun Banyuwangi.
Drama politik itu berakhir ketika Syamsul Hadi dan Ratna Ani Lestari berakhir di jeruji besi, Serta terpilihnya Bupati baru Abdullah Azwar Anas merupakan awal dari penutup drama “Balas dendam” karena memang sosok yang satu ini dianggap sebagai pemimpin yang tidak mewarisi dendam lama.
Di dalam buku ini di setiap peristiwa yang diceritakan di dukung dengan data-data yang cukup kaya, dengan gaya bahasa yang cukup dramatis penulis mampu mengahdirkan ketertarikan pembaca hingga usai. Keberanian penulis dalam menguak intrik yang dilakukan oleh elit politik di Banyuwangi patut diacungi jempol, mengingat para elit politik yang dibahas dalam buku ini masih ada dan masih memiliki kekuatan yang cukup besar.
Umumnya buku semacam ini terbit ketika para elit politik yang dibahas telah ompong atau lemah, namun inilah yang menjadikan buku ini begitu menarik fenomena dan intrik politik dikuak secara gamblang disaat elit politik yang bersangkutan masih menampakkan taringnya. Pesan saya, anak muda, mahasiswa dan aktivis pergerakan di Banyuwangi wajib membaca buku ini.
Oleh: Ibnu Tsani Rosyada (Direktur SCC PC IPNU Banyuwangi)
 

Check Also

“The Look of Silence” Rekonsiliasi atau Propaganda?

Menjelang akhir september, kita kerap disuguhkan dengan isu tahunan kebangkitan PKI. Salah satu isu yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *