KH. Askandar

Kiai Kandar, Banyuwangi dan Isyarat Syaikhona Kholil Bangkalan

Sebagian besar orang Banyuwangi tak asing dengan nama Pesantren Mambaul Ulum, Sumberberas, Muncar. Sebuah pesantren yang cukup tua di ujung timur Pulau Jawa itu, tak lain didirikan oleh seorang ulama kharismatik asal Kediri. Ia adalah KH. Askandar.

Ternyata, ada kisah menarik dibalik kedatangan Kiai Kandar – sapaan akrabnya – ke Banyuwangi. Putra dari Kiai Abdullah Askam tersebut, datang ke Banyuwangi tak lain berkat isyarat yang diberikan oleh salah seorang ulama besar dan waliyullah, yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Perjumpaan dengan Syaikhona Kholil berawal dari sebuah petualangan yang dilakukan oleh Kiai Kandar. Petualangan itu awalnya dipicu oleh permasalahan yang menimpa biduk rumah tangganya. Kala itu, pernikahannya dengan Bayadun, mendapat ujian yang datang dari mertuanya. Tak disangka, kemurahan mertuanya membiayai kehidupan keluarga Askandar menyimpan pamrih. Semua biaya yang berasal dari mertuanya, baik untuk biaya hidup maupun membiayai pendirian pesantrennya, harus dikembalikan secara keseluruhan.

Tentu saja, tuntutan dari mertuanya itu, menjadi pukulan telak bagi Kiai Kandar yang masih belum mandiri secara ekonomi. Ia selama ini hanya fokus mengajar dan berdakwah di pesantren kecilnya yang dirintis di kampung halamannya, Dusun Sragi, Desa Sumber Dukuh, Gampeng Rejo, Kediri.

Sejak kecil Kiai Kandar memang disibukkan dengan menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Meskipun pernah merasakan kerja, tapi itu hanya untuk mencukupi kebutuhannya yang sangat sederhana selama di pesantren. Ia tak pernah bekerja dalam tujuan mencari kekayaan. Setelah belajar dengan orang tuanya, ia melanjutkan belajar kepada Kiai Dahlan di Jampes. Lalu kepada Kiai Manan di Kediri. Setelah itu, secara berturut-turut ia belajar di Pesantren Buduran, Pesantren Siwalan Panji dan Pesantren Tebuireng Jombang, sebelum akhirnya kembali lagi ke kampung halamannya.

Mendapat tekanan hidup yang demikian, akhirnya Kiai Kandar memutuskan untuk bercerai dengan istrinya yang sempat memberikannya dua orang buah hati itu (keduanya wafat di usia belia). Di tengah kegalauan itu, Kiai Kandar memutuskan untuk melakukan petualangan ke arah timur. Ia berjalan seiring suara hati dan derap langkah menjejak. “Askandar lungo sak paran-paran,” demikian wasiatnya pada sanak keluarganya.

Petualangan Kiai Kandar pun sampai di Jember. Di sini ia menemui Kiai Shiddiq, ayahanda dari Rois Am PBNU KH. Achmad Shiddiq. Sebenarnya, Kiai Kandar hanya ingin bertabarukan saja dengan Kiai Shiddiq. Namun, ada hal lain yang justru membuat Kiai Kandar tinggal lebih lama di Jember. Kiai Shiddiq seringkali menceritakan tentang kealiman dan kehebatan dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang tak lain adalah gurunya tersebut.

Mendengar cerita-cerita Kiai Shiddiq tentang Syaikhona Kholil tak hanya membuat Kiai Kandar bertahan lebih lama di Jember. Tapi juga memantiknya untuk menemui Syaikhona Kholil di Pulau Madura sana. Keinginan itu pun segera ia realisasikan.

Setibanya di Bangkalan, Kiai Kandar yang bermaksud menjadi murid itu, diterima dengan prilaku yang cukup mengagetkan. Belum sempat ia mengutarakan apa maksud dan tujuannya, Syikhona Kholil membentaknya. Bahkan, dengan suara keras ia menyuruh Kiai Kandar untuk menghabiskan buah salak yang ada disuguhkan.

Mendapat perintah yang demikian, meskipun kesannya kasar, Kiai Kandar pun melaksanakannya juga. Ia paham seorang wali terkadang memerintah sesuatu yang aneh dan tak masuk akal, tapi menyimpan makna lain. Apalagi Kiai Kandar telah banyak mendapat cerita dari Kiai Shiddiq tentang keanehan-keanehan tersebut. Ia pun menghabiskan semua salak yang tersaji di depannya.

Setelah setandan buah salak itu habis, Syaikhona Kholil mengusir Kiai Kandar. Dengan logat Madura bercampur Jawa, Syaikhona berkata, “Kandar, muliho, mulih! Elmona seengkok, tadeklah ekalak Kiai Kandar! Muliho, mulih, mulih! Mulih Askandar Banyuwangi!” (Kandar, pulanglah, pulang! Ilmuku sudah habis diambil oleh Kiai Kandar. Pulanglah, pulang! Pulang Askandar Banyuwangi).

Mendapat perlakuan demikian, tak menyurutkan langkah Kiai Kandar. Justru hal tersebut, ia pahami sebagai isyarat untuk melanjutkan pengembaraannya. Ia menafsirkan kata-kata terakhir Syaikhona Kholil untuk menuju ke Banyuwangi. Ia pun segera bergegas ke daerah yang dulu dikenal sebagai kawasan Kerajaan Blambangan tersebut.

Pertualangannya di Banyuwangi akhirnya berlabuh di Pesantren Jalen yang diasuh oleh Kiai Abdul Basyar. Pesantren yang tak lain pada tahun 1850-an sempat menjadi tempat menuntut ilmu Syaikhona Kholil sendiri sebelum akhirnya berangkat ke Mekkah. Di pesantren tersebut, Kiai Kandar bertemu dengan sesama santri yang berasal dari Kediri. Ia adalah Kiai Abdul Manan yang diambil menantu oleh Kiai Abdul Basyar.

Seiring waktu, Kiai Kandar yang pada dasarnya telah memiliki basic keilmuwan yang mumpuni, segera mendapatkan tempat di pesantrennya yang baru ini. Ia berbagi tugas dengan Kiai Manan untuk mengajar di sana. Kiai Kandar mendapat jatah mengajar kitab Iqna – salah satu kitab fiqih tingkat atas – yang awalnya diampu oleh Kiai Manan sendiri.

Kealiman dan keikhlasan Kiai Kandar dalam mengabdi membuat kepincut hati Kiai Manan. Kiai Kandar pun dinikahkan dengan putrinya. Kelak pada 1932 saat Kiai Kandar membuka pesantren sendiri di Sumberberas (PP. Minhajut Thullab), Kiai Kandar pun turut ikut ke Muncar. Selang beberapa tahun membantu mertuanya itu, Kiai Manan menyuruh Kiai Kandar untuk membuka pesantren sendiri. Ia diberikan sebidang tanah yang tak terlalu jauh dari pondok mertuanya itu.

Atas restu sahabat, guru sekaligus mertuanya itulah, Kiai Kandar akhirnya mulai merintis pesantren yang diberi nama Mambaul Ulum. Secara administrative, pesantren tersebut masih berada di desa yang sama dengan Pesantren Minhajut Thullab, di Desa Sumberberas, Muncar, Banyuwangi.

Kini Pesantren Mambaul Ulum menjadi salah satu pesantren besar di Banyuwangi. Dengan jumlah santri berjumlah ribuan dan dilengkapi dengan sarana pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Alumninya telah tersebar ke seantero nusantara. Ada yang menjadi kiai, pengusaha dan tak sedikit yang menjadi pejabat. Tentu, itu semua, tidak terlepas dari keikhlasan Kiai Kandar dalam memenuhi isyarat dari waliyullah Syikhona Kholil. Seandainya, ia tak menuruti untuk pergi ke Banyuwangi, mungkin cerita yang terjadi bakal berbeda. (ayung/ Komunitas Pegon)

 

Check Also

Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *