KH. Muhammad Zubairi bin Zainuddin (KP)

Kiai Zubairi Sumberberas dan Syair-Syairnya

Waba’du para dulur kang sun trisnani # iki syiir aran “Ulan Handadari”

Situasi zaman akhir masa kini # ingsun aturaken ana syiir iki

Syiir di atas merupakan bagian dari pembuka sebuah kitab yang terdiri dari 18 lembar (plus cover). Sebagaimana pada penggal larik di atas, kitab yang diterbitkan oleh percetakan Asy-Syekh Salim bin Said Nabhan itu berjudul “Syiir Ulan Handadari: Nerangaken Situasi Zaman Akhir”. Kitab tersebut menarik perhatian saat pertama kali kami (Komunitas Pegon) dapatkan atas kiriman sahabat kami Gus Gilang Matulesi di akun fanspage kami. Yang menjadi pemicu ketertarikan tersebut, adalah nama penulisnya. Ia adalah Kiai Muhammad Zubairi dari Sumberberas, sebuah desa yang berada di Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Nama Kiai Zubairi, meski tidak begitu familiar, bukan berarti nama yang tak terlacak. Dalam kolopon kitab tersebut, ia mengaku tinggal di Dusun Paras Gempal. Tepatnya di depan pesantren yang diasuh oleh KH. Abdul Malik Luqoni. Dari petunjuk tersebut, maka kediaman Kiai Zubairi berada diseputaran PP. Minhajut Thullab yang didirikan oleh KH. Abdul Manan. Kiai Luqoni tak lain adalah pelanjut dari Kiai Manan tersebut.

Sebenarnya Kiai Zubairi sendiri bukan orang asli Banyuwangi. Ia adalah seorang pendatang yang berasal dari Jawa Tengah. Ia terlahir di sebuah desa terpencil dekat hutan, yakni Desa Kedungjati, Purwodadi, Jawa Tengah. Orang tuanya bernama Haji Zainuddin yang juga berasal dari desa kalahiran Kiai Zubairi sendiri. Dari jalur ayahnya ini, Kiai Zubairi masih memiliki hubungan family dengan Kiai Dalhar Watucongol, Magelang. Sedangkan ibunya bernama Hajah Habibah yang berasal dari Magersari, Kacangan, Boyolali.

Seperti halnya keluarga santri pada umumnya, Kiai Zubairi juga mempunyai tradisi mondok di berbagai pesantren. Masih belum terlacak dimana saja Kiai Zubairi pernah mondok. Namun yang pasti, saat Kiai Zubairi mulai mondok di Pesantren Minhajut Thullab, ia sudah menguasai berbagai ilmu keagamaan. Ia telah menjadi santri yang alim.

Menurut penuturan Kiai Fachruddin Manan, pengasuh Minhajut Thullab saat ini, semasa Kiai Manan masih mengasuh, memang banyak para santri yang hanya bertujuan ngalap berkah. Secara akademik, para santri tersebut telah menguasai berbagai ilmu keagamaan, namun hal tersebut belum lengkap bagi seorang lulusan pesantren. Mereka tak hanya mengejar pintar semata, tapi juga mengejar keberkahan dari ilmu yang telah dikuasainya tersebut. Sehingga hal ini, mendorong mereka untuk terus belajar.

Kiai Zubairi adalah salah seorang santri yang mengikuti tradisi tersebut. Sebagai seorang santri yang alim dan cerdas, Kiai Zubairi tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Lambat laun pun ia mulai dipercaya untuk membantu mengajar di pesantren. Ketawadluan dan reputasinya yang baik selama di pesantren, membuat Kiai Manan menyayanginya.

Sebagai ekspresi sayangnya tersebut, Kiai Manan dan sejumlah kiai di lingkungan Minhajut Thullab sepakat untuk mengikat Kiai Zubairi dalam ikatan perkawinan. Dengan pernikahan tersebut, menandakan Kiai Zubairi harus tetap di pesantren. Saat itu, Kiai Zubairi dinikahkan dengan Nyai Alfiyah binti Kiai Faqihuddin Abdullah Suhud. Saat itu, Kiai Zubairi sudah menginjak usia 35 tahun. Pernikahan yang dilaksanakan pada sekitar tahun 1968 itu, beliau dikaruniai 7 orang anak.

Masa khidmat Kiai Zubairi pun dihabiskan di pesantren yang berdiri pada 1932 tersebut. Selain mengajar, Kiai Zubairi juga menjadi jajaran pengurus di Pesantren. Bersama Kiai Abdul Malik Luqoni dan Kiai Fachrudin Manan, mulai menata pesantren salaf tersebut. Salah satunya adalah dengan merintis Yayasan Minhajut Thullab sebagai lembaga penaung berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang dirintis oleh pesantren sendiri. Sehingga dengan adanya yayasan tersebut, lebih memudahkan pengaturannya.

Kiai Zubairi juga memiliki perhatian sosial yang cukup tinggi. Pada tahun 1970-an, ia orang yang pertama kali merintis acara santunan anak yatim di Kabupaten Banyuwangi. Sebelumnya, santunan kepada anak yatim hanya dilakukan oleh individu masing-masing secara langsung. Tak ada koordinasi dan seremonial tertentu. Melalui tangan dingin Kiai Zubairi, hal tersebut, ia modifikasi dalam bentuk acara seremonial. Dengan demikian, jumlah santunan kepada anak yatim pun meningkat cukup pesat. Hal tersebut kemudian direduplikasi ke berbagai daerah sehingga menjadi tradisi di Banyuwangi. Terutama setiap tiba bulan Muharam dalam kalender Hijriah.

Selain memiliki kesibukan di pesantren dan aktivitas sosial lainnya, Kiai Zubairi juga memiliki kebiasaan menulis. Seperti halnya menulis teks khutbah, nadzoman maupun syiir. Ada yang masih berupa manuskrip dan adapula yang diterbitkan. Sebagaimana Kitab Syiir Ulan Handadari ini.

 

Sampul depan kitab Syiir Ulan Handadri karangan Kiai Zubairi

 

Kitab Syiir Ulan Hadadari tersebut, selesai ditulis pada Sabtu Pahing, 21 Rajab 1399 H atau bertepatan dengan 16 Juni 1979 M. Kitab yang menjelaskan kondisi sosial itu, terdiri dari 276 bait yang masing-masing terdiri dari 2 baris. Kemudian dibagi dalam beberapa bab. Mulai dari Muqodimah hingga Khotimah.

Bahasan pertama adalah bab “Situasi Zaman Akhir”. Dalam bab yang terdiri dari 125 bait syair itu, banyak menjelaskan tentang silang sengkarut kehidupan sosial-keagamaan masyarakat yang terpengeruh oleh kebudayaan barat.

Kebudayaan barat pada disenengi # pethita pethiti rumangani aksi

(Kebudayaan barat semua disenangi # pethita pethiti (sok gaya) dianggap sebagai aksi)

Pengaruh buruk dari tontonan tersebut, tak hanya didaerah perkotaan, tapi juga telah merambah ke pelosok desa.

Kemerosotan moral ing desa lan kutho # Zaman akhir nyatha wes sumebar rata

(Kemorosotan moral di desa dan kota # zaman akhir nyata sudah tersebar rata)

Berbagai keburukan dari pengaruh budaya tersebut, merusak tradisi sosial-keagamaan yang selama ini telah terbangun baik. Seperti halnya mengaji al-Qurán seusai magrib. Namun karena terpengaruh budaya barat, misalnya dengan masuknya televisi dan maraknya pemutaran film di waktu yang sama, mengubah tradisi-tradisi baik sebelumnya.

Jare timbang ngaji luwung nonton film # acarane asoy banget ini malem

(Katanya: ketimbang mengaji lebih asyik nonton film # acaranya asoy banget ini malam)

Selain memaparkan tentang kondisi zaman yang oleh Kiai Zubairi disebut zaman akhir ini, juga terdapat bahasan-bahasan yang lebih spesifik. Seperti bab yang berjudul “Remaja Masa Kini” dan “Wanita Zaman Akhir”.

Untuk menghadapi kegilaan zaman akhir tersebut, menurut Kiai Zubairi tidak ada lain selain meminta pertolongan kepada Allah SWT, yaitu dengan belajar dan memegang kuat ajaran agama Islam. Hal ini sebagaimana termuat dalam bab “Tambah lan Nyuwun Perlindungane Allah”.  Selain itu, sebelum mengakhiri karangannya tersebut, Kiai Zubairi juga memberikan sebuah peringatan bagi setiap manusia dalam menghadapi berbagai bahaya ataupun malapetaka yang akan turun di zaman akhir yang semerawut itu. Ia mengupasnya dalam bab “Temurune Warna-Warni Belahi”.

Tentu syair dari Kiai Zubairi tersebut, masih up to date untuk kita kaji hari ini. Patologi sosial malah semakin buruk ketimbang akhir decade 70-an. Di era digital saat ini, tak hanya menjadi perantara kebaikan, tapi juga menjadi perantara keburukan yang amat cepat. Tidak hanya kebudayaan barat sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Kiai Zubairi, tapi berbagai kebudayaan dari belahan dunia manapun, dapat diterima dengan massif dan privat. (Ayung/ Komunitas Pegon)

Check Also

Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *