Sukarni dan Pesantren Banyuwangi

Jika menyebut nama Sukarni, maka kenangan kita pada pahlawan nasional itu, adalah episode sejarah menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Ia bersama golongan muda lainnya, menculik Soekarno yang merupakan golongan tua untuk sesegera mungkin memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini.

Keberanian pria kelahiran Blitar, 14 Juli 1916 itu, tak terlalu mengherankan. Semenjak belia, putra keempat dari sembilan bersaudara pasangan Kartodiwirjo dan Supiah itu, telah terlihat sejak belia. Pada usia 14 tahun ia telah melibatkan diri pada salah satu organisasi pergerakan nasional, Indonesia Moeda.

Bersama kawan-kawannya, seperti Wikana dan SK Trimurti, Sukarni mendapat gemblengan langsung dari Soekarno. Ia banyak belajar tentang berbagai ideologi, seperti nasionalisme, sosialisme hingga komunisme. Bimbingan yang kuat tentang ideologi-ideologi yang terhitung revolusioner di era penjajahan itu, membuat dirinya pun tumbuh menjadi pemuda yang progresif dan militan.

Menginjak usianya yang ke-20, pemuda yang memiliki garis keterunan dengan bekas pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa itu, dipercaya menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Moeda. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini semakin ditakuti oleh Pemerintah Kolonial. Tak ayal, Sukarni pun menjadi salah seorang pesakitan. Ia diburu oleh intel Belanda yang dikenal dengan nama Politieke Inlichtingen Dients (PID).

Dalam keadaan yang demikian, Sukarni pun berusah menyelamatkan diri. Sebagaimana yang dicatat oleh Naskhar Koto, “Masa Kecil Sukarni” dalam buku “Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya” (Sinar Harapan, 1984), Sukarni bersembunyi di salah satu pesantren di daerah Ploso, Kediri. Namun, di persembunyian pertamanya ini, intel Belanda masih mengendus keberadaannya.

Sukarni pun kembali berpindah tempat persembunyiannya. Kali ini adalah sebuah pesantren yang berada di ujung Timur Pulau Jawa, Banyuwangi. Naskhar dalam tulisannya tersebut, menceritakan demikian:

“… Sukarni yang tahu gelagatnya [diburu intel Belanda, PID], kembali melarikan diri. Kali ini, ia lari ke Banyuwangi. Berlagak sebagai pedagang kelontong, dengan menggunakan sepeda ia berhasil menyelinap ke pondok pesantren di Banyuwangi.”

Tentu, sepenggal informasi ini menjadi sangat menarik. Banyuwangi yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah pembuangan tahanan maupun tempat persembunyian para buronan Belanda, tetap bertahan hingga masa yang cukup modern. Lebih menariknya lagi, tempat yang dipilih adalah pesantren.

Sukarni memilih pesantren sebagai tempat bersembunyi, tentu bukan sembarangan. Harus ada saling percaya antara dua belah pihak. Mengingat ancaman bagi keduanya, baik yang bersembunyi atau pun yang menjadi tempat, amat besar. Pastinya, ada koneksitas yang cukup erat antara Sukarni dan pesantren di Banyuwangi itu.

Lantas, dimanakah Sukarni menyembunyikan dirinya di bumi Blambangan itu? Pesantren manakah?

Jika melihat rentang waktu Sukarni melarikan diri pada 1936, masih tak banyak pesantren yang telah berdiri. Ada Pesantren Jalen, Pesantren Lateng, Pesantren Cemoro, Pesantren Al-Azhar Tugung, Pesantren Ibrahimi, Genteng, Pesantren Nahdlatut Thullab, Kepundungan, Pesantren Minhajut Thullab dan Pesantren Mambaul Ulum di Muncar, Pesantren Darunnajah dan Pesantren Saringan di Tukangkayu, Banyuwangi, serta Pesantren Darul Huda di Penataban.

Bisa jadi Sukarni bersembunyi di antara salah satu pesantren tersebut. Namun, dimanakah?

Sampai saat ini, tim Komunitas Pegon belum bisa mengidentifikasinya. Tetapi, jika diklasifikasikan secara kasar, ada dua kemungkinan motif jejaring yang menghubungkannya saat itu. Pertama, relasi Kediri. Bisa jadi, Sukarni bersembunyi di Banyuwangi atas rekomendasi dari pesantren tempatnya bersembunyi pertama kali di Ploso, Kediri. Jika, ini benar, maka kemungkinannya adalah Pesantren Minhajut Thullab atau Mambaul Ulum di Muncar yang pendirinya berasal dari Kediri.

Kemungkinan kedua adalah jaringan dari buyutnya, Eyang Onggo, yang tak lain adalah bekas Pasukan Diponegoro. Pasca Perang Jawa, banyak sisa-sisa pasukan Pangeran Herucokro (nama lain Diponegoro) itu, menyebar ke berbagai pelosok nusantara. Kebanyakan mereka mendirikan pesantren. Tapi, dimanakah tepatnya? Masih misterius!

Adakah di antara pembaca yang mengetahuinya? (Komunitas Pegon)

Check Also

Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *