Aisyah dan Kecemburuannya

Diantara Ummuhatul Mu’minin (julukan untuk para istri Nabi) yang paling spesial adalah Aisyah binti Abu Bakar. Selain sebagai istri Nabi yang paling muda dan perawan sendiri, konon Aisyah adalah istri tercantik.

Seringkali Nabi memanggil Aisyah dengan panggilan “humaira” dikarenakan kulitnya yang putih kemerah-merahan.

Namun keistimewaan Aisyah dibanding istri-istri Nabi yang lain yaitu para janda dan sudah usia tua tak menyurutkan rasa cemburu Aisyah. Ada saja pemicu kecemburuan pada benak Aisyah kepada istri-istri yang lain.

Pernah suatu kali Nabi yang sedang menerima tamu di rumah Aisyah, lalu meminta hidangan. Tapi Nabi justru membawa hidangan dari Ummu Salamah, istri Nabi yang lain. Sontak saja Aisyah cemburu dan membanting nampan tempat hidangan.

Nabi tersenyum seraya bersabda, “Ibumu lagi cemburu.”

Kecemburuan Aisyah pada istri-istri Nabi yang lain seringkali disampaikan secara terang-terangan kepada Nabi.

“Aku, wahai Rosulullah, tidak seperti seorang pun dari istri-istrimu yang lain. Tanpa kecuali, mereka telah pernah dipeluk laki-laki, kecuali aku,” ujar Aisyah kala dibakar api cemburu.

Pada kesempatan cemburu yang lain, Aisyah juga menyampaikan hal yang sama dengan nada bertanya.

“Wahai Rosulullah, jika engkau turun ke lembah, disitu ada dua pohon, yang satu sudah dimakan ternak, yang satu lagi tidak, lalu di pohon manakah untamu akan kau gembalakan?”

“Dipohon yang tidak digembalai ternak,” jawab Nabi.

“Akulah itu,” tegas Aisyah.

Tentu saja, Nabi tidak termakan provokasi Aisyah yang berasal dari kecemburuan itu, untuk tidak berlaku adil pada istri-istri yang lain. Nabi memahami bahwa kecemburuan Aisyah juga istri-istri yang lain sebagai naluri yang manusiawi. Semua orang yang mengalami rasa cinta juga akan mengalami rasa cemburu.

Nabi tidak marah pada kecemburuan itu, selama tidak melanggar aturan syara’. Dengan penuh kelembutan, Nabi akan merayu Aisyah ketika sedang merajuk.

Pada suatu malam, Aisyah terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba tak dijumpai suami yang tidur di sisinya. Naluri cemburunya pun berkobar. Mungkin sang suami beranjak ke rumah istri yang lain. Begitu duganya.

Aisyah lantas bergegas memeriksa rumah istri-istri Nabi yang lain. Namun pencarian Aisyah nihil sampai akhirnya bertemu Nabi di dalam masjid.

Nabi mengetahui apa yang terjadi. Lantas Nabi menegurnya.

“Kau cemburu lagi Aisyah? Ini malam nisfu sya’ban, Aisyah.”

Begitulah kecemburuan Aisyah. Ada yang biasa, ada pula yang tidak biasa dan melewati batas. Saat seperti itulah Nabi akan memarahinya.

Suatu ketika Aisyah cemburu kepada Shafiyah binti Huyay, istri Nabi yang lain. Tanpa sadar Aisyah mengumpatnya didepan Nabi.

“Cukuplah padamu kalau Shafiyah itu hanyalah perempuan kerdil.”

Sontak Nabi lansung memarahinya.

“Tutup mulutmu, Aisyah! Kau telah melontarkan kata-kata yang seandainya diaduk dengan air laut, niscaya ia akan ternoda.”

Salah satu kecemburuan Aisyah yang paling aneh adalah cemburu kepada mendiang Khadijah, istri pertama Nabi. Padahal, ia tidak pernah bertemu atau bahkan hidup bersama Khadijah. Hanya dari cerita Nabi ia mengetahui.

Pada suatu hari datanglah seorang nenek tua. Tak ada yang menoleh karena saking tuanya. Tapi, Nabi menyambut perempuan tua itu dengan sepenuh hati.

Aisyah heran melihat tingkah Nabi tersebut. Lantas menanyakan perihal perempuan tua itu. Dengan penuh haru Nabi menceritakan, “Ia adalah perempuan yang pernah mengunjungi kami pada masa khadijah.”

Sontak kecemburuan Aisyah tersulut. Tanpa tedeng aling-aling Aisyah menunjukkan kecemburuan tersebut.

“Bukankah Khadijah itu hanya seorang perempuan tua yang kedua sudut mulutnya berwarna merah, dan Allah telah memberimu ganti yang lebih baik?” Ujar Aisyah dengan ketusnya.

“Tidak,” tukas Nabi, “demi Allah aku tidak diberi ganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia membenarkanku ketika semua orang mendustakan, ia melimpahkan hartanya padaku ketika semua orang menyembunyikan tangan, dan darinya Allah memberiku keturunan ketika dari istri yang lain tidak,” Nabi menjawab kecemburuan Aisyah yang tak beralasan itu dengan keras.

Aisyah sangat terpukul dengan jawaban itu. Namun sejak itu Aisyah berjanji untuk tidak mengulangi kata-kata seperti tadi, melecehkan almarhumah Khadijah.

Tak sampai di situ, kecemburuan Aisyah juga terjadi istri-istri Nabi yang lain. Yakni kepada Zainab binti Jahsy.

Berawal dari suguhan madu Zainab binti Jahsy kepada Nabi kecemburuan Aisyah bermula. Dari madu itu, Nabi menyanjung Zainab. Aisyah yang mengetahuinya pun cemburu.

Tak seperti biasanya, Aisyah tak mengungkapkan kecemburuannya. Justru Aisyah berkomplot dengan Hafsah binti Umar untuk melakukan akal bulus sebagai ekspresi kecemburuannya.

Diaturlah siasat agar Nabi tak lagi meminum madu dari Zainab. Dengan demikian Nabi tak lagi menyanjungnya.

“Apakah kamu makan maghafir, Rosulullah?” Tanya keduanya tatkala bertemu Nabi.

“Tidak, aku hanya minum madu.” Ujar Nabi.

“Kalau begitu, lebah madu itu telah menghisap maghafir.” Timpalnya.

Maghafir adalah sesuatu tumbuhan yang mengandung penyakit dan berbau tidak sedap. Dengan kebohongan yang berawal dari rasa cemburu Aisyah serta Hafsah itulah, akhirnya Nabi menghentikan minum madu Zainab.

Aisyah dan Hafsah pun bergembira. Namun selang beberapa saat Nabi mendapat teguran dari Allah melalui turunnya wahyu surat At Tahrim [66]:1-4.

Mengetahui hal tersebut buah persengkongkolan Aisyah dan Hafsah, Nabi pun murka. Namun Nabi tetap terkontrol dengan tidak mencela ataupun melakukan kekerasan fisik. Akhirnya konflik kecemburuan itu pun terselesaikan.

Melihat demikian, kecemburuan itu harus diungkapkan dengan baik dan jelas agar tak semakin membesar dan runyam. Begitu pula ketika menanggapi kecemburuan, bersikap dengan proporsional dan tak larut dengan dorongan emosi. Dengan demikian kecemburuan akan terselesaikan dengan baik. Bukan begitu?

Wallahua’lam bishshowab

*) Kisah-kisah pada tulisan ini disarikan dari buku “Bilik-Bilik Cinta Muhammad” karya Dr. Nizar Abazhah.

Oleh: Ayunk Notonegoro (Founder Komunitas Pegon)

Check Also

Kematian Tertunda Kiai Wahab

Banyuwangi, NUOB- Lantunan surah Yasin merebak di Pesantren Bahrul Ulum, Jombang. Aura kesedihan tergores di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *