Tuan Guru Majid dan Kaitannya dengan Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Masih dalam peringatan Hari Pahlawan, ada empat tokoh yang ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. Salah satunya adalah Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Ia adalah seorang pejuang cum ulama dari Pancor, Ampenan, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tuan Guru Majid tidak hanya berjuang secara fisik dalam menghadapi penjajah. Namun juga ikut serta mencerdaskan anak bangsa. Melalui lembaga pendidikan yang diberi nama Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), ia memberikan pengajaran kepada masyarakat Ampenan dan sekitarnya.

Selain itu, perjuangan putra TGH Abdul Majid dan Halimatus Sa’diyah itu, semakin terorganisir setelah mendirikan jamiyah (organisasi) Nahdlatul Wathan. Di bawah bendera NW inilah, harakah Tuan Guru Majid tersebar ke seantero Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di balik perjuangan ulama kelahiran 1908 itu, ada sepenggal informasi yang tak banyak diketahui oleh khalayak. Ia memiliki keterkaitan dengan Banyuwangi, terutama terhadap KH. Saleh Syamsudin Lateng.

Hal ini terungkap dari sebuah kitab yang ditulis oleh kakek Gubenur NTB TGH Zainul Majdi itu. Yakni kitab Ma’arijisy Syibyan ala Simai Ilmi-l-Bayan. Kitab yang mengupas ilmu balaghah itu, merupakan syarah (penjelasan) dari karya Sayyid Ahmad Dahlan.

Kitab tersebut, oleh Komunitas Pegon, ditemukan di perpustakaan almarhum Kiai Saleh Lateng. Menariknya, dalam kitab cetakan “Moelja SB” itu, terdapat tulisan tangan (makhtuthat) yang ditulis langsung oleh Tuan Guru Majid. Demikian bunyinya:

“Hadiyah tudzkaarat li hadratil waalad al-mufadlah al-muhtaram Kiai Saleh Banyuwangi. Daamun sholih wa aunil barri.

Min abnihim
al-muallif.”

Kurang lebih artinya demikian:

“Hadiah tadzkirat (petikan-petikan/ karya) terutuk bapak yang penuh keutamaan, penuh kehormatan, Kiai Saleh Banyuwangi. Semoga dilanggengkan dalam kebaikan dan senantiasa mendapat pertolongan Dzat Yang Maha Baik.

Dari anaknya,
Pengarang kitab.”

Setelah tulisan itu, terdapat tanda tangan yang begitu identik dengan tanda tangan Tuan Guru Majid. Dan, ada pula keterangan tanggalnya, 5 Syaban 1370, atau bertepatan dengan 15 Mei 1951.

Dari makhtuthat tersebut, ada hal menarik. Ungkapan “bapak-anak” untuk menghubungkan relasi antara Tuan Guru Majid dengan Kiai Saleh tak bisa tidak dipahami sebagai bentuk hubungan yang amat dekat. Meski secara biologis tidak tertaut langsung, tapi secara keilmuwan dan ideologis, keduanya bertemu. Hubungan lguru-murid” yang begitu dekat itulah menjelma menjadi hubungan “bapak-anak.”

Selain itu, secara usia, antara keduanya terpaut usia yang cukup jauh. Cukup pantas untuk menggambarkan hubungan “bapak-anak”. Kiai Saleh lahir pada 1862, sedangkan Tuan Guru Majid lahir pada 1908. Ada jarak tahun antara keduanya.

Namun, ada satu pertanyaan yang cukup musykil. Hubungan “guru-murid” antara Kiai Saleh dengan Tuan Guru Majid itu, terjadi dalam bidang apa dan bagaimana?

Sejauh pengetahuan penulis dari beberapa uraian biografi Tuan Guru Majid, tak ada yang menulis Kiai Saleh sebagai salah seorang gurunya. Jika dilihat dari titi mangsa belajarnya Tuan Guru Majid, juga tidak memungkinkan bertemu. Ia belajar di kampung halamanya hingga usia 15 tahun. Kemudian pada 1923, ia melanjutkan belajar ke Mekkah dan pulang sepuluh tahun kemudian.

Sedangkan, pada masa itu Kiai Saleh telah pulang dan membuka pesantren di Banyuwangi. Kiai Saleh pulang dari Mekkah pada 1902.

Dari penanda waktu yang tertulis dalam kitab di awal, 15 Mei 1951, penulis menduga hubungan keduanya terjadi setelah kepulangannya ke tanah air. Mereka terhubung dalam jalur organisasi. Sebagaimana diketahui, sebelum mendirikan Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Majdi sempat aktif di Nahdlatul Ulama Konsulat Nusa Kecil.

Aktivitas Tuan Guru Majid di NU inilah, kemungkinan besar yang mempertemukannya dengan Kiai Saleh. Ia belajar tentang organisasi dan gerakan kepada Kiai Saleh yang merupakan salah satu pendiri dan penggerak NU di ujung Timur Pulau Jawa. Dari sinilah, Kiai Saleh membina Tuan Guru Majdi dalam melakukan gerakan sosial.

Perlu diketahui, Kiai Saleh selain dikenal sebagai ulama yang “mutabahir” keilmuwannya dalam berbagai fan ilmu, ia juga dikenal sebagai sosok organisatoris yang ulung. Sejak muda telah terlibat dalam organisasi pergerakan. Mulai dari Syarekat Islam hingga Nahdlatul Ulama. Sehingga tidak heran, jika banyak tokoh yang merujuk belajar kepada ulama berdarah bangsawan Palembang itu.

Dari uraian singkat sederhana ini, dapat kita tarik satu dugaan – kalau enggan disebut pertanyaan – Nahdlatul Wathan bisa jadi memiliki genealogi gerakan dengan Banyuwangi. Dalam hal ini Kiai Saleh Lateng.

Waallhua’lam…!!!

Oleh: Ayunk Notonegoro (Founder Komunitas Pegon)

Check Also

KH. Hasan Abdillah, Pemimpin Haji Indonesia Generasi Awal

Haji, sebagai salah satu ibadah wajib, telah dilakukan oleh umat muslim Indonesia sejak beratus tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *