NU Lumajang Belajar “Politik” ke NU Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB – Keberhasilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi meraih juara satu kategori khusus aspirasi politik dalam NU Award 2017 yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur, menarik perhatian PCNU lainnya untuk belajar. Salah satunya adalah PCNU Lumajang. Kabupaten Lumajang yang tahun depan akan menyelenggarakan hajatan Pilihan Kepala Daerah itu, menjadi tantangan tersendiri bagi PCNU Lumajang untuk menyikapinya.

“Kami ingin belajar kepada Banyuwangi, bagaimana dalam menyalurkan aspirasi politiknya, sehingga dalam Pilkada di Banyuwangi, NU sukses mengantarkan kadernya sekaligus memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi,” ungkap Ketua PCNU Lumajang Drs. H. Nur Syahid, M.A. di Kantor PCNU Banyuwangi, Kamis (28/12).

Menurut Nur Syahid, banyak calon bupati ataupun wakil bupati yang mencalonkan diri berasal dari kalangan NU. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, komitmen para calon ketika telah menjadi pejabat, sangat lemah kontribusinya kepada organisasi. Hal inilah yang coba dipelajarinya dari NU Banyuwangi.

Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali yang menyambut langsung rombongan tersebut, menjelaskan tentang bagaimana posisi NU Banyuwangi dalam mensukseskan Abdullah Azwar Anas yang notabanenya kader NU itu, menjadi Bupati Banyuwangi dua kali berturut-turut. Serta tetap memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi kepada organisasi.

“Kita mengawalinya dari proses rekam aspirasi. Kita kumpulkan semua pengurus NU dari tingkat Ranting hingga PCNU, pengurus badan otonom hingga para pengasuh pesantren, untuk dilakukan jajak pendapat. Hasil dari jajak pendapat itulah, yang menjadi acuan PCNU Banyuwangi untuk menentukan arah dukungan politiknya saat Pilkada,” terang Kiai Masykur.

Rekam Aspirasi sendiri, lanjut Kiai Masykur, bermula dari sejumlah pengalaman yang melatarbelakanginya. Di setiap momentum Pilkada, keluarga besar NU tak pernah kompak. Masing-masing tokoh memiliki calon sendiri-sendiri. Perbedaan ini, lantas menimbulkan perpecahan dan tak membawa kemaslahatan bagi NU secara organisasi.

“Yang mendapat keuntungan hanya personal. NU secara organisasi tak mendapat apa-apa. Maka, dari situ akhirnya kita merancang apa yang disebut dengan rekam aspirasi,” imbuh pengasuh PP. Ibnu Sina itu.

Dari hasil rekam aspirasi tersebut, lantas calon yang terpilih harus menandatangani Kontrak Jam’iyah yang disaksikan oleh seluruh komponen NU di Banyuwangi. Dengan disaksikan oleh banyak kalangan itu, akhirnya warga NU kompak untuk mendukung calon yang telah direstui oleh PCNU Banyuwangi.

“Alhamdulillah, berkat kekompakkan warga NU dan komitmen para kiai dan pengurus untuk mematuhi hasil rekam aspirasi itu, kami berhasil mengantarkan Abdullah Azwar Anas menjadi bupati. Apa yang ditandatangani di kontrak jam’iyah pun satu per satu dipenuhinya,” pungkas Kiai Masykur. (Ay / Sholeh)

Comments

comments

Check Also

Peringati Harlah, PCNU Gelar Tumpengan

Banyuwangi, NUOB- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi memperingati hari lahir (harlah) NU ke-92 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *