Kala Kiai Hasyim Mohon Doa Restu Pendirian NU pada Ulama Banyuwangi

Banyuwangi, NUOB- Nahdlatul Ulama (NU) tidak seperti organisasi pada umumnya. NU didirikan tidak serta merta berdiri hanya karena kesamaan visi misi. Namun terlebih dahulu melalui serangkaian konfirmasi spiritual. Seperti halnya melalui tirakat, istikharah dan memohon petunjuk para waliyullah.

Dalam narasi yang umum, KH. Hasyim Asy’ari mendapat petunjuk “restu langit” pendirian NU dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan. Akan tetapi, Kiai Hasyim sendiri tidak hanya memohon restu dan doa kepada satu kiai saja. Ia datangi kiai-kiai sepuh yang dikenal makrifatullah di tanah Jawa dan Madura. Dalam rihlah spiritual tersebut, Kiai Hasyim juga menemui Kiai Kholil yang lain, yaitu Kiai Kholil dari Canga’an, Genteng.

Kiai Kholil dikenal sebagai kiai sepuh di Banyuwangi. Ia hidup hingga tahun 1930-an. Tak seperti kiai lain yang mendirikan pesantren, Kiai Kholil merupakan kiai mastur. Dakwahnya hanya di Langgar dengan mengajar masyarakat secara langsung. Tidak dengan sistem pendidikan selayaknya di pesantren.

Dalam cerita tutur yang banyak beredar di tengah masyarakat Canga’an, Kiai Hasyim pernah memohon doa restu untuk mendirikan NU kepada Kiai Kholil. Pada kejadian tersebut, terjadi dialog antara keduanya.

Kiai Kholil : “ Ajenge teng pundi ?“
Kiai Hasyim: “ Ajenge teng Banyuwangi.”
Kiai Kholil: “ Ajeng nopo?”
Kiai Hasyim: “Ajeng jejekaken Syari’at.”
Kiai Kholil: “Syariat kok dijejekaken, nopo doyong?”

Kurang lebih artinya demikian:

Kiai Kholil: “Mau kemana?”
Kiai Hasyim: “Mau ke Banyuwangi.”
Kiai Kholil: “Mau apa?”
Kiai Hasyim: “Mau menegakkan syariat.”
Kiai Kholil: “Syariat kok ditegakkan. Apa sudah mau roboh?”

Dari dialog tersebut, banyak pihak yang menyalah –artikan. Seakan-akan, dari dialog itu, Kiai Kholil tak menyetujui akan berdirinya NU. Sehingga penafsiran yang demikian, berpengaruh luas terhadap masyarakat Canga’an hingga saat ini. Banyak warga yang enggan bergabung pada NU secara struktural, meski secara kultural mereka mengamalkan amaliah ahlussunnah wal jamaah sebagaimana NU lakukan. Jika ditelaah lebih dalam, penafsiran yang salah itu sengaja dihembuskan oleh organisasi lain di luar NU.

Dialog tersebut, jika kita telaah dengan melihat konteks sosio-kultural, tidak lantas mengindikasikan penolakan terhadap NU. Sosio-kultural di Canga’an Genteng masih belum terasa “ancaman” dari gerakan Islam puritan yang mengancam aqidah dan amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah. Genteng secara spesifik pada dekade kedua tersebut, terhitung masih belum tersentuh oleh Wahabi. Bahkan, di sana cenderung kuat kultur pesantrennya. Ada Pesantren Al-Azhar di Sempu, Pesantren Jalen dan Pesantren Tsamaratut Thalabah yang juga berada di Jalen.

Dengan keadaan demikian, maka bisa dipahami perihal “penolakan” Kiai Kholil untuk mendirikan NU. Karena, sebagaimana alasan terkuat dibentuknya NU untuk melawan purifikasi keagamaan yang menyerang amaliah Aswaja, masih belum muncul di Genteng, di daerah sekitar kediaman Kiai Kholil. Jadi, sangat wajar kenapa ia tak segera merestui berdirinya NU. Menunggu ancaman itu benar-benar datang. (*)

Comments

comments

Check Also

Puasa Kiai Saleh untuk Kemerdekaan NKRI

Puasa dalam tradisi pesantren tidak hanya bermakna ibadah guna mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *