Konfercab dan Seabad Nahdlatul Ulama

Penyelenggaraan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi pada 21 -22 April mendatang ini, merupakan momentum yang krusial. Bukan karena kepengurusan saat ini akan menghadapi Pilkada Banyuwangi tiga tahun mendatang. Tapi, karena penyelenggaraannya hampir bersamaan dengan peringatan hari lahir ke-95 NU pada 16 Rajab 1439 Hijriyah yang jatuh pada 4 April lalu. Artinya, PCNU Banyuwangi hasil konfercab ini, akan memiliki tanggung jawab besar untuk menentukan wajah NU Banyuwangi pada saat organisasi yang didirikan para ulama ini, tepat berusia satu abad.

Sebagaimana kita ketahui, konferensi bukan sebatas hajatan lima tahun yang hanya diperuntukkan memilih rais syuriyah dan ketua. Tapi, juga untuk menentukan program kerja yang harus NU lakukan selama lima tahun mendatang. Mulai sidang di berbagai komisi, terutama di komisi program dan rekomendasi, semua kerja yang akan dilakukan menjadi bahasan utamanya.

Tak dapat dipungkiri memang, semua bahasan dalam sidang-sidang tersebut akan musfro jika tidak disertai dengan kepemimpinan sosok yang tepat dalam menahkodai NU. Semua program yang diusulkan dan rekomendasi yang dibahas hanya akan menjadi dokumentasi organisasi yang akan dilupakan begitu saja seiring waktu. Sehingga hal demikian, banyak menyeret para peserta konfercab lebih sibuk membicarakan siapa kandidat rais, siapa kandidat ketua, tanpa menyinggung sama sekali program apa yang akan dilakukan oleh NU dalam lima tahun ke depan.

Pola-pola demikian, tak sepenuhnya salah, memang. Tapi, tak seharusnya mendominasi dan menegasikan bahasan-bahasan yang seharusnya lebih urgen dan subtantif tersebut. Momentum satu abad yang akan disongsong oleh NU ini, perlu menjadi momentum reflektif untuk mengubah pola pikir dan konsentrasi utama pelaksanaan konfercab. Mengalihkan skala prioritas pembahasan dari siapa ketua yang akan diusung, beralih ke apa program yang rancang besar NU kedepan.

Rentang waktu seabad atau seratus tahun dalam tradisi Islam merupakan momentum yang penting. Merujuk pada Sunan Abu Dawud 6/349, terdapat sebuah hadits yang menjelaskan tentang mujaddid (pembaharu) dalam rentang waktu seratus tahun. “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini disetiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini,” demikian bunyi hadits tersebut.

Jika mengacu pada pemahaman hadits tersebut, maka usia seabad NU ini merupakan momentum pembaharuan. Momentum untuk menuju kebangkitan. Tentu saja, momentum kebangkitan tersebut, bukanlah hal yang bimsalabim tiba-tiba muncul dan tegak. Tapi, ada berbagai bentuk prasyarat terlebih dahulu yang harus dipenuhi. Dengan demikian, jika usia seratus tahun itu datang pada 16 Rajab 1444, maka kepengurusan NU hasil konfercab 1439 ini, adalah mediator dari kebangkitan tersebut.

Apa dan bagaimana kebangkitan yang akan disongsong oleh NU pada usia seabad tersebut? tentu ini pertanyaan yang tak mudah dijawab. Akan banyak variabel yang bisa didiskusikan untuk mengukur kebangkitan NU di usianya yang seabad tersebut.

Jika merujuk pada tema konferensi kali ini, maka setidaknya ada tiga variabel yang harus dipersiapkan oleh kepengurusan NU Banyuwangi hasil konfercab kali ini dalam menyongsong usia seabad. Yakni, meneguhkan Islam Nusantara, memandirikan umat dan memperkokoh NKRI.

Maka, penting bagi para pemegang hak suara dalam konferensi nanti, bagaimana menentukan program dan pemimpin NU kelak yang kira-kira bisa mewujudkan tiga variabel kebangkitan tersebut.

(Bersambung)

Penulis: Ayung Notonegoro, Pimred NU Online Banyuwangi

Comments

comments

Check Also

Mudik Itu Ibadah

Oleh Muhammad Sulton Fatoni Sabtu pagi (9/6), suasana Gedung PBNU mulai ramai didatangi warga Jakarta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *