Komunitas Pegon Gelar Diskusi Pra Konfercab NU, Ini Poin-Poinnya

Banyuwangi, NUOB – Untuk memeriahkan pelaksanaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (konfercab NU) Banyuwangi pada 21 April mendatang, Komunitas Pegon menggelar diskusi dengan tajuk “Memperteguh Islam Nusantara dengan Memperkuat Khazanah Historiograpi Ulama Lokal.” Acara yang digelar di Aula Kantor NU Banyuwangi pada Rabu siang (11/4) itu, mengambil bahsan yang berkaitan dengan tema Konfercab NU Banyuwangi.

“Konfercab kan mengusung tema ‘Meneguhkan Islama Nusantara, Memandirikan Umat dan Memperkokoh NKRI’. Jadi, diskusinya kita mengambil bagian dalam menerjemahkan bagaimana cara untuk memperteguh Islam Nusantara itu,” jelas Founder Komunitas Pegon Ayung Notonegoro.

Diskusi tersebut menghadirkan pegiat Islam Nusantara sekaligus penulis yang banyak bergelut dalam khazanah historiograpi pesantren dan ulama Nusantara, Rizal Mumazziq Zionis. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh pengurus LTN NU Jawa Timur tersebut.

Proses penulisan sejarah itu, tidak hanya bermuatan akademis. Tapi, juga ideologis politis. “Proses penulisan sejarah itu bukan hanya wilayah akademis-ilmiah, melainkan juga ideologis-politis. Karena itu di zaman Orde Baru, penulisan sejarah bersifat militeristrik-sentris. Narasi sejarah adalah narasi kiprah para pejuang di medan perang. Karena itu yang dipelajari adalah sejarah perang, perang antar kerajaan, pejuang vs VOC, perang saudara, dan konflik kekuasaan. Bukan sejarah ilmu pengetahuan, bukan pula sejarah pembentukan peradaban Nusantara,” paparnya.

Meski demikian, peneliti sejarah atau sejarawan jangan sampai terjebak pada dongeng. “Peneliti sejarah alias sejarawan itu berbeda dengan tukang dongeng alias shohibul hikayah. Pendongeng bisa saja menyampaikan cerita secara apa adanya maupun dibumbui dengan unsur lain agar menarik dan bombastis, tapi sejarawan harus teliti dengan metode heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Data yang ada harus dikroscek, diteliti, dianalisis-tafsirkan, hingga disusun secara sistematik,” jelasnya.

Pembentukan sejarah juga ditentukan oleh pihak penguasa. Seperti halnya ketika Orde Baru berkuasa dan membentuk citra sejarah dengan penamaan jalan. “Pengetahuan sejarah juga dibentuk melalui nama jalan. Di era Orde Baru, nama-nama jalan protokol semua menggunakan nama pahlawan dari unsur militer: Sudirman, A. Yani, Suprapto, Gatot Subroto, Basuki Rachmat, dan sebagainya. Sedangkan para penyair, tokoh pendidik, ulama, kadangkala dipakai sebagai nama jalan yang tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat yang tinggal di jalan tersebut, atau bahkan tidak ada sangkut-pautnya sama sekali. Di Jombang, jalan menuju Tebuireng sudah dinamakan Jl. KH. Hasyim Asy’ari. Jalan menuju PP. Tambakberas juga sudah dinamakan Jl. KH. A. Wahab Chasbullah,” ungkapnya.

Penulis buku “Surabaya: Kota Pahlawan Santri” tersebut juga mengapresiasi langkah Komunitas Pegon dalam meneliti, mendokumentasi dan mempublikasi khazanah pesantren, kiai dan NU di Banyuwangi. “Di Banyuwangi ini, saya melihat anak-anak muda yang punya kegemaran mengumpulkan serpihan sejarah NU dan sejarah Islam di Blambangan. Namanya Komunitas Pegon. Dipimpin oleh Mas Barrurrohim alias Mas Ayunk Notonegoro. Tulisannya bagus. Detail. Disertai upaya pelacakan manuskrip-manuskrip kuno dan artefak seputar pembentukan NU Blambangan. Hingga saat ini, dia bersama komunitasnya sering sowan ke beberapa ulama Banyuwangi untuk melacak manuskrip peninggalan orangtua beliau-beliau maupun beberapa koleksi serpihan sejarah dari majalah Soeara NO, tulisan tangan yang berkaitan dengan NU dan berbagai foto klasik,” tuturnya.

Dengan penguatan terhadap penulisan khazanah sejarah para kiai tersebut, bisa menjadi sarana penguatan karakteristik masyarakat. “Penguatan karakteristik masyarakat, antara lain, bisa dimulai dengan penggalian kiprah para tokoh ulama lokal. Ditulis pendek maupun dibukukan,” pesannya.

 

Hal tersebut, tidak bisa hanya mengandalkan orang lain yang menulis. Tapi harus dilakukan sendiri oleh kalangan Nahdliyin sendiri. Ia mengkisahkan kejadian pada tahun 1990-an. Para ulama NU Jawa Timur dan mantan anggota Hizbullah mengadakan simposium mengenai perjuangan kemerdekaan. Lalu, ada pertanyaan yang diajukan seorang kiai kepada sejawaran militer yang hadir sebagai narasumber. “Mengapa sejarah perjuangan para ulama tidak pernah ditulis di buku-buku sejarah nasional?” Rizal menirukan pertanyaan tersebut.

Sejarawan itu menjawab diplomatis, “Mengapa harus kami yang menulis? Bukankah anda punya data, pelaku dan saksi masih hidup. Tulis saja sejarah versi anda semua!” (ay)

Comments

comments

Check Also

LAZISNU Bawa Bayi Penderita Phymosis ke Rumah Sakit

Banyuwangi, NUOB – Tim Lembaga Amil Zakat dan Shodaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Banyuwangi, segera melakukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *