Fragmen PMII Banyuwangi Masa-Masa Awal

Hari ini merupakan peringatan ke-58 hari lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Banyak fragmen sejarah yang telah dilaluinya. Termasuk juga masa-masa awal ketika berkembang di Banyuwangi.

PMII berkembang di Banyuwangi pada tahun 60-an seiring berdirinya kampus di Banyuwangi. Kampus yang pertama kali berdiri adalah Universitas Tawangalun. Kampus ini bertempat di Gedung Joeang saat ini. Kini, kampus tersebut berpindah ke Jember dan menjadi Universitas Negeri Jember.

Sebagaimana dunia kampus, dunia pergerakan pun berkembang di sana. Setidaknya ada tiga organisasi mahasiswa yang muncul di universitas pertama di Banyuwangi itu. Yakni, PMII, HMI dan CGMI. Ketiganya berkolaborasi sekaligus berkompetisi.

PMII dan HMI digawangi oleh generasi muda nahdliyin. PMII diketuai oleh Untung Maksum, putra dari aktivis PCNU Banyuwangi Muhammad Yusuf. Sedangkan HMI diketuai oleh Ismail Ridwan yang juga putra dari tokoh NU. Ismail sendiri merupakan aktivis HMI jebolan dari IAIN Yogyakarta. Sementara CGMI dipandeglangi oleh Slamet Menur. Ia seorang seniman yang menjadi anak didik dari pencipta lagu Genjer-Genjer.

Tentu saja PMII dan HMI menjadi sekutu sebagai organ berlatarbelakang sama. Sedangkan CGMI menjadi lawan yang cukup tangguh dalam persaingan politis di dunia kampus. Persaingan tersebut cukup mendapat atensi di tingkat nasional.

Di antaranya datang dari wakil ketua PBNU KH. Subhan ZE sebagaimana diberitakan dalam harian Merdeka pada 22 Oktober 1964 dan dikutip oleh Soegiarso Soerojo dalam bukunya “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai: G30S-PKI dan Peranan Bung Karno”. Dalam berita tersebut, Pak Subhan mengkritisi agresivitas CGMI yang menyerang secara “kasar” pada organ mahasiswa berbasis agama.

Polemik yang tak terlepas dari konteks politik era tersebut, menjadi satu fragmen penting PMII di Banyuwangi. Fragmen yang patut dikenang untuk meneladani perjuangan masa-masa awal dirintis di hari berdirinya ini.

Penulis : Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon)  

Comments

comments

Check Also

Sempat akan Bubar, Kini jadi Icon

Bamyuwangi, NUOB- Kajian Kitab Kuning dengan metode Bandongan, dimana beberapa santri menyimak pembacaan dan keterangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *