Sukses Usaha Kerajinan, Rohmat Fasilitasi Kemandirian Beberapa Pesantren

Banyuwangi – Panggilan hati untuk menjadi orang bermanfaat kepada yang lain merupakan keharusan sebagai insan.Itulah prinsip kehidupan Selamet Rohmat pegang dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. “Karena sebaik-baik manusia, ia yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya,” terang Rohmat – sapaan karib alumnus Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Parijatah Wetan, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi.

Sukses merintis usaha di bidang kerajinan, ia menuruti panggilan hatinya untuk terlibat dalam memakmurkan beberapa pesantren yang ada di Banyuwangi. Awalnya ia terfikirkan selama ini ada banyak potensi yang dimiliki pesantren masih belum tergarap. Selama ini, banyak pesantren hanya berkutat dalam kajian agama saja. Jarang sekali pesantren mendidik santrinya berwirausaha. Selain untuk menjadikan pesantren yang lebih mandiri sebagaimana pesantren-pesantren yang ulama terdahulu lakukan. Juga menyiapkan generasi santri yang berdikari,

“Padahal saya menilai, jika sosok santri ini menjadi pelaku usaha, maka banyak keunggulan tambahan lain. Semisal sosok santri dikenal dengan ketekunan, kejujuran, konsekuensi, keluhuran akhlak, sampai komitmen yang kuat. Sangat disayangkan jika mereka (red. Santri) tidak pernah diajarkan dalam berwirausaha,” tutur Rohmat.

Langkah awal dalam melaksanakan pengajaran wirausaha kepada kalangan santri, ia berkolaborasi dengan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berkaitan, yakni Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi. Suami Sri Astuti ini memberanikan diri koordinasi penyelenggaraan pelatihan kerajinan di Pesantren Sunan Kalijaga. “Saya mengawali dari pesantren saya sendiri. Selanjutnya, di Pesantren Sunan Gunung Jati dan Pesantren Raudlatul Alfiyah,” imbuh ayah dari tiga anak ini.

Setelah dilatih, beberapa keprihatinan mulai muncul. Sebab banyak dari peserta usai dilatih tidak ada out put yang signifikan. Sebagai langkah antisipasi, para santri yang telah diikutkan pelatihan disalurkan dengan para pengusaha kerajinan yang memiliki kontinuitas dalam berproduksi dan menerima orderan. “Saya yang menjadi fasilitator santri dalam penyediaan bahan baku, proses produksi, sampai pemasaran di beberapa kolega bisnisku. Karena kebetulan saya menjabat sebagai pengurus beberapa perkumpulan para pengusaha kerajinan yang ada di Banyuwangi,” ujar wakil ketua Perkumpulan Asosiasi Kerajinan Artistik Banyuwangi (Pakarwangi).

Sampai sekarang pesantren yang ia fasilitasi mampu berdikari. Ada yang memiliki mesin produksi kerajinan sendiri. Yang terpenting santri-santri sekarang sudah tidak lagi dimanjakan dari kiriman orang tuanya masing-masing. Tak jarang malah sebaliknya, santri-santri mampu memberikan uang kepada ayah ibu mereka. “Pesantren Sunan Gunung Jati ini sering saya ajak kolaborasi di bidang kerajinan. Sedangkan di bidang kaligrafi saya kolaborasikan di Pesantren Sunan Kaljaga dan Raudlatul Alfiyah,” kata Rahmat.

“Jujur, ini semua saya niati sebagai amal jariyah kepada kiai dan para santri untuk diri saya dan keluarga . Tidak saya niati sebagai ladang mencari keuntungan. Biarlah doa dari para kiai dan santri menjadikan keberkahan keluarga dan keturunan saya,” Harap Rohmat.

Jalan merintis Usaha

Sebenarnya bakat berwirausaha di bidang kerajinan ini sudah muncul dalam jiwa pria yang berusia 43 tahun ini,sejak duduk di bangku SD. Ayahnya, M. Ridwan adalah sosok pelaku usaha tukang sepuh emas di pasar. Rohmat mengaku, awalnya membantu ayahnya di bagian mencuci perhiasan dengan lerak.

Ditambah pula sejak duduk di bangku SMP ia sangat meminati pelajaran keterampilan. Masih segar dalam ingatan Rahmat, kediamannya di Dusun Krajan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi menjadi jujukan tempat belajar kelompok kawan-kawannya membuat kerajinan. Mulai sabuk yang terbuat dari bambu sampai dengan beberapa kerajinan yang memanfaatkan dari limbah kayu.

Letter papan nama lengkap dengan pigura foto merupakan bidikan bisnis pertamanya. Dengan segala kemampuan yang ia miliki, Rohmat berkeliling dalam setiap event komedi putar (pasar malam) di wilayah Banyuwangi sampai keluar daerah dengan sepeda kayuh.

Tak puas diri, ia juga mengajak kolega untuk berkongsi menerima kerajinan dalam bidang gantungan kunci, kaligrafi, asbak, dan beberapa model kerajinan lainnya. Hanya bermodalkan satu karung limbah kayu seharga Rp 25 ribu, mampu ia sulap dengan keuntungan jutaan rupiah dan ratusan produk kerjinan dari kreatifitas yang ia miliki. Dia menjelaskan, omzet kerajinan ini sudah meraup keuntungan Rp 15 juta per bulan.

“Saya sudah membangun jaringan pemasaran dengan beberapa outlet yang ada di Banyuwangi. Pemasaran secara online juga tak boleh ditinggalkan. Produk saya juga bisa didapatkan di market place kebanggaan warga daerah (www.banyuwangi-mal.com). Tak jarang pula menerima berbagai orderan kaligrafi yang ada di luar daerah, mulai; Jakarta, Lumajang, sampai Bali,” terangnya.

Kepuasan Kinerja Pemerintah

Rohmat juga mengaku puas atas kinerja H. Abdullah Azwar Anas, M.Si. dalam memimpin Banyuwangi. Pak Anas sangat profesional dalam bekerja terutama dalam memperhatikan sekaligus memfasilitasi potensi pelaku usaha mikro. “Tak hanya itu, Pak Anas juga sangat mendukung pertumbuhan dan kemajuan pelaku wirausaha baru. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung di Banyuwangi, tentu akan memberikan dampak keuntungan bagi usaha kami,” tutur alumnus SMP 1 Rogojampi. (Sholeh/Ibnu)

Comments

comments

Check Also

Mendag Gandeng NU Kembangkan Ritel Keumatan

Banyuwangi, NUOB- Menteri Perdagangan RI Enggartistasto Lukita menyempatkan diri untuk bertemu dengan Pengurus Cabang Nahdlatul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *