KH. Ali Makki Zaini saat memberikan pengarahan dalam acara Sosialisasi Politik Kebangsaan dan Netralitas Penyelenggara Pemilu, yang digelar oleh KPU Banyuwangi di Aula Rs. Fatimah Banyuwangi.

Ketua PCNU: Netral Itu Tidak Mudah !

Banyuwangi, NUOB– “Setiap orang tidak bisa dilepaskan dengan yang namnya kepentingan, Olehkarena itu tidak ada orang yang netral. Akantetapi kita bisa menempatkan diri kapan kita harus netral dan dan kapan kita bisa subyektif”, ungkap KH. Ali Makki Zaini pada saat menjadi Narasumber dalam acara Sosialisasi Politik Kebangsaan dan Netralitas Penyelenggara dalam Pilgub Jawa Timur 2018, yang digelar oleh KPU Banyuwnagi, di Aula RS. Fatimah Banyuwangi (14/05) siang.

Selanjutnya, Ketua PCNU Banyuwangi yang akrab disapa Gus Makki tersebut menceritakan pengalaman dirinya saat menjadi Tim Seleksi pada rekrutmen komisioner KPU pada tahun 2003 lalu. Kala itu Gus Makki yang dipilih oleh mayoritas fraksi di DPR didpercaya menjadi Ketua Tim Seleksi.

Ia mengaku, ada delima tersendiri yang hadapi saat itu, terutama saat menetapkan 5 Komisioner terpilih. Karena 2 calon komisioner yang memperoleh nilai tertinggi adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan Tim seleksi, termasuk dengan dirinya. Tidak mau ambil resiko akhirnya dalam rapat pleno Gus Makki menyerukan untuk mencoret kedua nama tersebut.

“Dulu sempat dilema, ketika 2 orang dari 5 orang yang terpilih sebagai calon komisioner masih punya hubungan dengan Tim Seleksi. Bu Eni yang mendapat nilai tertinggi itu masih punya hubungan famili dengan saya, sementara Pak Syamsul Arifin di urutan kedua waktu itu masih jadi anak buah Mas Syamsudin Adlawi yang kala itu juga menjadi Tim Seleksi, ungkap Gus Makki.

Akantetapi dalam rapat tersebut, 3 orang Tim Seleksi menolak dengan pertimbangan 2 orang tersebut memang betul-betul layak dipilih karena mendapatkan nilai tertinggi, hingga akhirnya dilakukan voting. Hasilnya untuk voting Eni , 4 orang setuju dan 1 orang menolak. Begitu juga untuk syamsul, 4 orang meloloskan dan 1 orang menolak.

“4-1 dari voting eni itu saya yang menolak karena dia masih kerabat saya. Sementara untuk Syamsul juga sama, 1 orang menolak, orang itu adalah Syamsudin karena waktu itu Syamsul masih anak buah Saymsudin di Radar,” lanjut Gus Makki.

Dari pengalaman tersebut Gus Makki memberikan gambaran bagaimana tantangan berat yang dihadapi saat dituntut untuk menjadi penyelenggara yang netral. Hal semacam itu bukan tidak mungkin juga akan dihadapi oleh penyelenggara Pemilu termasuk PPK.

“Jangan kaget sampean nanti apabila ada ketua Tim Sukses atau pihak manapun datang ke PPK untuk menawarkan sesuatu agar pilihanya menang” ujar Gus Makki.

Terakhir Gus Makki berpesan, bahwa menjadi netral itu tidak mudah akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Gus Makki mengingatkan kepada seluruh penyelanggra pamilu agar selalu ingat bahwa, amanah menyelenggarakan pemilu merupakan amanah dari rakyat, oleh karena itu pertanggungjawabanya juga kepada rakyat, yang jumlahnya banyak.

“Dosa sama pengeran itu pertanggungjawabanya mudah pak, kita istigfar yang banyak dan tidak mengulangi kesalahan yang sama sudah selsai. Jadi rem kita satu, yaitu kita harus tetap ingat bahwa kita dipercaya oleh rakyat, dana yang diterima oleh kita dan yang digunakan untuk Pemilu ini milik mereka. Dan jika kita salah maka pertangujawaban di akhirat juga susah”, pungkasnya. (Noe)

 

Comments

comments

Check Also

CBP-KPP Banyuwangi Terjun Langsung Bantu Korban Terkena Bencana

Singojuruh, NUOB – Di desa alasmalang sore ini, 23 juni 2018, seluruh anggota Cbp-Kpp Bwi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *