Puasa Kiai Saleh untuk Kemerdekaan NKRI

Puasa dalam tradisi pesantren tidak hanya bermakna ibadah guna mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tapi, juga bisa bermakna riyadlah. Selain untuk melatih diri dan jiwa, juga untuk mencapai satu tujuan tertentu. Maka, banyak dikenal jenis puasa di luar puasa Ramadan dan sunnah lainnya. Ada puasa dahr, mutih, ngerowot dan lain sebagainya.

Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H, merupakan suatu hasil perjuangan. Tidak hanya perjuangan fisik semacam perang dan serangkaian diplomasi politik. Akan tetapi, juga diiringi dengan riyadlah puasa yang dilakukan oleh kiai pejuang pada masa itu. Baik sebelum kemerdekaan ataupun dalam rangka mempertahankannya.

KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu kiai yang melengkapi perjuangannya dengan laku puasa. Beliau tidak hanya aktif dalam forum-forum pergerakan, tapi juga memuasai bangsa Indonesia. Bahkan, ketika Indonesia sudah merdeka, ia tetap melakukannya. Ia dedikasikan puasanya untuk kesejahteraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal yang ia lakukan hingga akhir hayatnya.

Tak hanya putra sulung dari Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari itu saja yang melakukan puasa untuk kemerdekaan NKRI. Di Banyuwangi juga ada yang melakukannya, yakni Kiai Saleh Lateng. Kiai pejuang yang turut mendirikan Nahdlatul Ulama tersebut, dalam Manaqib yang ditulis oleh santrinya – KH. Suhaimi Rafiudin – juga melakukan puasa.

Saat itu, Banyuwangi sedang mengalami dampak buruk dari agresi militer yang dilakukan oleh NICA dan Pasukan Sekutunya. Berbagai pertempuran terjadi di bumi Blambangan. Selain diinisiasi oleh kalangan militer, juga dilakukan oleh kalangan laskar. Di mana pada dua kekuatan tersebut, banyak diperkuat oleh kalangan kiai dan santri. Kiai Saleh adalah salah seorang yang turut serta dalam perjuangan tersebut.

Semasa agresi tersebut, Kiai Saleh tak lagi tinggal di pesantrennya di Lateng, Banyuwangi. Ia harus mengungsi di daerah Pakistaji, Kabat. Saat itu, daerah Kota Banyuwangi telah berada di bawah kekuasaan musuh. Dalam masa genting yang demikian, Kiai Saleh berpuasa setahun penuh. Ia berpuasa untuk keselamatan bangsanya yang baru merdeka. Ia tak ingin negerinya kembali dijajah.

Demikianlah perjuangan para kiai. Tidak cukup hanya dengan ikhtiyar duniawi, namun juga ada yang me-riyadlah-i secara batin. Laku-laku demikianlah, yang penulis yakini, menjadi soko guru atas keutuhan NKRI hingga saat ini. (Komunitas Pegon)

Comments

comments

Check Also

Saat Kiai Hasyim Asy’ari Diserang Hoax

Hoax atau berita palsu bukanlah hal baru. Sejak sebelum Indonesia merdeka, bahkan jauh sebelum itu, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *