Barur Rohim (Ayunk Notonegoro) saat membuka cara Harlah 1 Tahun Ngaji Fiqih PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Banyuwangi.

Sempat akan Bubar, Kini jadi Icon

Bamyuwangi, NUOB- Kajian Kitab Kuning dengan metode Bandongan, dimana beberapa santri menyimak pembacaan dan keterangan dari seorang uztadz, merupakan metode pengajian khas yang sering ditemui di pesantren atau di langgar-langgar kampung.

Namun kegiatan semacam ini akan sulit ditemui di perkotaan, selain perbedaan kultur yang mendasar antara ke desa dan kota, arus modernisasi juga turut memberi kontribusi signifikan, sehingga model pengajian tradisional ala pesantren mulai digantikan dengan ceramah-ceramah yang bisa diakses secara langsung melalui Internet.

Berdasarkan fenomena tersebut, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Banyuwangi masa Khidmat 2015-2017 menginisiasi pengajian Fiqih dengan metode pesantren. Sholeh Kurniawan Ketua PAC IPNUBanyuwangi masa khidmat 2015-2017 mengungkapkan, pada masa awal dirinya bersama pengurus menggagas kegiatan rutin ngaji fiqih tersebut juga banyak mengalami kendala, salah satunya adalah semangat yang naik turun.

”Awalnya kita sempat mau menghentikan pengajian ini, karena jumlah pesertanya semakin hari semakin sedikit, pernah hanya di ikuti saya dengan ustad saja”, kenang Sholeh.

Namun upaya untuk menghentikan rutinan tersebut mendapat penolakan dari Ahmad Surur, salah satu pengurus PAC yang juga mengampu pengajian fiqih  PAC IPNU-IPPNU Banyuwangi. Surur mengaskan kepada pengurus bahwa dirinya masih sanggup untuk tetap melanjutkan pengajian tersebut walaupun hanya di ikuti oleh satu orang.

“Jangankan satu orang yang ngaji, separuhpun akan tetap saya ajar” ungkap Surur.

Berbekal keistiqomahan dari pengajar serta komitmen yang kuat dari pengurus akhirnya pengajian fiqih terus dilanjutkan. Dengan publikasi yang menarik serta isi kajian kitab yang kontektual dengan kehidupan anak muda, lambat laun pengajian ini diminati oleh remaja perkotaan.

Semakin hari, jumlah orang yang mengikuti pengajian tersebut semakin meningkat. Kali ini bukan hanya di ikuti oleh kalangan remaja saja akan tetapi di ikuti oleh berbagai unsur, mulai dari Mahasiswa, Guru hingga  Dosen.

Tidak terasa, kegiatan rutin yang sempat akan dihentikan tersebut akhirnya melaksanakan peringatan 1 tahun. Kegiatan peringatan 1 tahun Ngaji Fiqih PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Banyuwangi tersebut dilaksanakan di Mushollah Kantor PCNU Banyuwangi, Rabu (23/05) sore.

Dalam kesempatan ini juga turut hadir Barur Rohim selaku Pembina PAC IPNU Banyuwangi, dalam kesempatan tersebut Ayunk menyampaikan bahwa pada masa sekarang Generasi Z (pemuda kelahiran 1995-2004) berdasarkan penelitian menempatkan agama sebagai jalan untuk mencapai ketentraman. Hal tersebut bisa dilihat di kampus-kampus dan di sekolah-sekolah.

Menurutnya Ayunk tren “Hijrah” banyak di minati oleh para generasi muda sekarang, artinya agama memiliki tempat tersendiri di hati mereka di tengah derasnya arus modernisasi. Akantetapi Ayunk menegeaskan hal semacam ini harus ditangkap dengan baik oleh IPNU-IPPNU terutama yang berada di perkotaan.

”Jangan sampai mereka yang ingin “Hijrah” salah tempat, sehingga ikut pada aliran Islam yang Radikal. Disini IPNU-IPPNU harus mengambil peranan penting”, pungkas Ayunk.

Pengajian yang dulunya sempat akan bubar tersebut, kini telah menjadi icon remaja perkotaan sekaligus menjadi Oase yang mampu mengobati dahaga spiritual Generasi Milenial, di tengah kemajuan arus perkembangan zaman. (Noe)

Comments

comments

Check Also

Tiga Doa Jibril yang Diamini Langsung Oleh Nabi Muhammad SAW

Banyuwangi, NUOB– Menjelang bulan suci Ramadhan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi menggelar doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *