Cara Kiai Saleh Mendapatkan Kitab-Kitabnya

Banyuwangi, NUOB – KH. Kiagus Muhammad Sholeh Syamsudin atau lebih populer dengan nama Kiai Saleh Lateng merupakan ulama besar dari ujung Timur Pulau Jawa. Salah seorang deklarator Nahdlatul Ulama tersebut, memiliki keilmuwan yang mendalam. Tidak hanya karena rekam jejak pendidikannya yang mumpuni, santri Syaikhona Kholil Bangkalan tersebut merupakan seorang kutu buku.

Kiai Saleh memiliki koleksi kitab tak kurang dari empat lemari besar semasa hidupnya. Namun kini hanya tersisa dua almari saja. Tak kurang dari lima ratus kitab yang ada di dalam dua almari tersebut. Ada banyak ragam kitab yang dimilikinya. Tak hanya melulu soal fiqih. Tapi, juga lintas kajian. Tak hanya kitab-kitab syafi’iyah atau karya-karya ulama ahlussunnah wal jamaah saja. Namun juga tersimpan kitab lintas madzab dan firqoh.

Kekayaan koleksi kitab Kiai Saleh juga tercermin dari pelbagai penulisnya. Selain dari penulis nusantara, juga banyak kitab-kitab dari penulis Timur Tengah. Menariknya, kitab-kitab dari negeri Arab tersebut, didapat dalam rentang waktu yang cukup singkat. Dari tahun terbitnya, Kiai Saleh telah berhasil memilikinya antara satu sampai tiga tahun kemudian. Mengingat moda transportasi pada paruh pertama abad 20, tentu saja hal tersebut cukup up to date.

Lebih dari itu, koleksi kitab kiai kelahiran 1862 tersebut ada beberapa yang terbilang sangat langka. Yang mana tak sembarang orang bisa memilikinya. Baik karena kajiannya yang tak populer, atau karena harganya yang cukup mahal.

Ada satu cerita yang populer tentang koleksi langka kitab Kiai Saleh. Pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, KH. Wahid Hasyim mendapat tugas untuk mendirikan Kementerian Agama. Untuk itu, ia membentuk Maktabah Islamiyah guna menjadi pusat kajian dalam membentuk format kementerian yang baru tersebut.

Guna melengkapi Maktabah Islamiyah tersebut, Kiai Wahid memerlukan kitab Mu’jamul Buldan karya Al-Halabi. Namun, di Indonesia kala itu, kitab yang berupa ensiklopedia negara-negara di dunia tersebut, sangat sulit untuk mendapatkannya. Bahkan, Kiai Wahid sampai membentuk tim khusus untuk mencarinya.

Meski telah berkeliling di hampir semua pesantren besar di Jawa, tim tersebut tak kunjung menemukannya. Sampai pada akhirnya, tim tersebut berkunjung kepada Kiai Saleh Lateng. Di sinilah kitab langka nan mahal tersebut, diperolehnya.

Tentu saja, kekayaan koleksi kitab Kiai Saleh tersebut, menimbulkan tanya. Dari manakah ia memperoleh kitab-kitab tersebut?

Dari beberapa keterangan tertulis (parateks) yang tercantum di dalam kitabnya, memang banyak yang berupa pemberian atau hadiah. Selain dari para santri, juga tak jarang dari penulisnya langsung. Salah satu contoh adalah Ma’arijusy Syibyan ala Simail Bayan karya dari Tuan Guru Abdul Mazid pendiri Nahdlatul Wathon di NTB.

Lantas, bagaimana Kiai Saleh mendapatkan kitab-kitab dari Timur Tengah?

Ada satu surat yang ditemukan di almari kitabnya yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Yaitu surat yang dikirim oleh Hasan bin Kholil dari Mekkah. Dalam surat tersebut, Kiai Saleh dikirimi kitab dari Mekkah yang dititipkan lewat jamaah haji. Demikian tulisnya dalam bahasa Madura dan beraksara Pegon:

Wa rabian, kaule makerem kitab de’ jamaahna Syekh Raddin, matur panapah, bunten?

Artinya kurang lebih demikian: Keempat, saya mengirimkan kitab kepada jamaahnya Syekh Raddin. Adakah yang disampaikannya?

Dari penggal surat ini, memberi jawaban dari mana asal usul kitab Kiai Saleh, yakni dari proses perjalanan para pelaksana ibadah haji. Di penghujung surat juga terdapat penguat akan hal ini.

“Sabian, lamun kesokan kitab sampean mugi e sebut e delem surat,” demikian tulisnya. Artinya: ketujuh, jika menginginkan kitab, sila engkau tulis di dalam surat.

Dengan demikian, Kiai Saleh tak hanya menjadi sosok yang pasif dengan menerima kiriman kitab apapun. Tapi, ia menjadi agen aktif yang bisa memesan judul kitab apapun.

Kemudian, dari manakah Kiai Saleh memperoleh uang untuk membeli kitab-kitab tersebut?

Untuk menjawab hal ini, kita bisa menelaah surat tersebut secara seksama. Di dalamnya, Hasan bin Kholil ternyata memiliki “modus” ekonomis yang melibatkan Kiai Saleh. Hasan meminta kepada Kiai Saleh untuk mengirimkan jamaah haji, badal haji ataupun umroh kepadanya.

“Tsadisan, kaule nyo’ona kiriman kadiye se empon, yakni badal haji atau umrah atau laen-laenah,” tulisnya.

[ keenam, saya meminta kiriman kepada engkau yang sudah, yaitu badal haji atau umrah ataupun lain-lainnya ]

Dari praktik inilah, Kiai Saleh mendapat keuntungan finansial guna membeli kitab-kitab yang diinginkannya. Mengacu pada keterangan Shaleh Putuhena dalam ‘Historiografi Haji Indonesia (2007)’ hubungan antara Kiai Saleh dengan Hasan bin Kholil ini, layaknya hubungan antara Syekh Haji dengan para agennya.

“Di Indonesia juga beroperasi sejumlah syaikh yang kebanyakan terdiri dari atas mukimin yang membantu seorang syeikh di Mekkah. Ia memberikan pertimbangan kepada calon haji untuk memilih syeikh Makah yang mengutusnya ke Indonesia. Tentu saja ia dibiayai oleh Syaikh Makah yang bersangkutan. Selain itu, sering kali ada di antara mereka yang berlaku sebagai perantara antara agen kapal dengan jama’ah haji. Untuk itu, ia mendapat sejumlah bayaran dari agen kapal bagi setiap jamaah yang menggunakan kapal,” tulis Putuhena pada halaman 328.

Dari praktik tersebut, kemungkinan besar Kiai Saleh membeli kitab-kitabnya. Sebagai seorang yang pernah mukim selama tujuh tahun di Mekkah, tentu saja bukan soal sulit untuk mencari relasi demikian. Wallahua’lam bish showab. (komunitas pegon)

Comments

comments

Check Also

Ini Cara Santri Bustanul Makmur Genteng, Peringati Hari Kemerdekaan

Genteng, NUOB- Ada cara tersendiri yang dilakukan oleh santri Pondok Pesantren Bustanul Makmur Genteng dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *