Home Humor Debat Kiai Ilyas dengan Orang Atheis

Debat Kiai Ilyas dengan Orang Atheis

39
0

Persaingan antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan atheis yang direpresantasikan oleh PKI, berlangsung sengit. Lebih-lebih saat NU memilih menjadi partai politik sendiri, keluar dari Partai Masyumi.

Tak jarang, orang – orang atheis  mengolok-ngolok warga NU. Salah satunya adalah soal-soal yang sensitif, yaitu soal ketuhanan dan ajaran agama. Dua hal yang dibenci oleh kalangan atheis yang banyak dianut oleh orang-orang komunis.
Hasrat untuk mengolok-olok hal itu, tak pandang bulu. Dilakukan kepada saja dan kapan saja. Bahkan, saat forum tanya jawab dalam rapat umum – rapat umum yang digelar Partai NU. Tanpa takut orang-orang PKI menanyai tokoh-tokoh NU dengan soal yang bertujuan untuk mengejak.
Sayangnya, tujuan kader-kader PKI untuk mengejek itu, menemui lawan berat. Dalam sebuah rapat umum yang digelar di salah satu tempat di Jawa Timur, hadir sebagai pembicara utama KH. Muhammad Ilyas. Santri Jombang yang dikenal memiliki wawasan luas dan dikemudian hari menjadi menteri agama itu, melayani dengan tenang ejekan-ejekan dari orang atheis. Dan tak jarang, dipenghujung jawabannya, justru balik mengejek mereka sendiri.
“Kiai, katanya Islam itu agama yang menggunakan akal. Dalam agama Islam dikatakan Tuhan itu hidup. Kalau hidup berarti makan. Kalau makan berarti minum. Kalau makan dan minum berarti be’ol (buang air besar)?” tanya si atheis sebagaimana dikenang oleh santri Kiai Ilyas, Hafidz Suroso dan dicatat dalam buku ‘Dari Pesantren untuk Bangsa: Biografi KH. Muhammad Ilyas (2009).
Supporter dari kalangan komunis bersorak atas pertanyaan itu. Sementara itu, warga NU yang mendengarnya merasa geram dengan pertanyaan yang melecehkan Allah SWT tersebut.
Namun berbeda dengan Kiai Ilyas. Kiai yang mahir berbahasa Asing tersebut, dengan tersenyum berdiri di atas podium bersiap menjawabnya. “Sebenarnya saudara telah mengalami sendiri! Apakah saudara pernah dikandung dalam rahim ibu saudara?” tanyanya balik.
“Pernah,” jawab orang-orang atheis.
“Apakah saudara di dalam kandungan makan?” Kiai Ilyas kembali bertanya.
“Makan,” jawab mereka.
“Minum?” kejar Kiai Ilyas.
“Minum,” jawab mereka lagi.
Lalu, Kiai Ilyas mengajukan pertanyaan pamungkas, “Apakah kalian be’ol selama dikandungan?”
Mendapat pertanyaan tersebut, tak seorangpun dari kader komunis yang menjawab. Mereka terdiam. Malu atas pertanyaan yang justru balik mengolok-olok itu.
Peristiwa itu, tak membuat kapok keangkuhan orang-orang atheis. Di tempat dan waktu yang lain, Kiai Ilyas kembali mendapat pertanyaan senada. Sama-sama ingin menjatuhkan dan mengolok-olok.
“Katanya Tuhan itu berawal tapi tidak berakhir, bagaimana itu sebenarnya? tanya salah seorang kader komunis yang atheis.
Mendapat pertanyaan demikian, dengan spontan Kiai Ilyas balik bertanya, “Saudara tahu angka?”
“Tahu,” jawabnya.
“Awal mula angka berapa? tanya Kiai Ilyas lagi.
“Satu,” jawabnya dengan wajah tenang.
“Akhirnya angka berapa?” Kiai Ilyas memungkasi pertanyaannya.
Kader komunis pun ‘meneng klakep’ tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Wajahnya pucat dan merasakan pertanyaannya yang mengejek diawal itu, justru balik mengolok-oloknya.
“Kapok, kon,” sergah pemuda Ansor yang ikut hadir disertai derai tawa lainnya.
Atas jawaban-jawaban bernas Kiai Ilyas itu, makin kokohlah keimanan warga Nahdliyin. Propaganda komunis yang kerap menggunakan pendekatan logika untuk melemahkan keyakinan umat Islam, mampu ditanggapi dengan anekdot-anekdot cerdas nan logis oleh Kiai Ilyas dan tokoh-tokoh NU lainnya.
Melihat cara berdebat Kiai Ilyas menghadapi orang-orang atheis itu, ada satu pelajaran penting bagi kita yang saat ini kerap dibid’ah-bid’ahkan atau bahkan dicap anti-islam. Menghadapinya tak perlu dalil yang tinggi-tinggi karena pada dasarnya hati dan pikiran mereka telah tertutup. Kebebalan cukup dilawan dengan anekdot lelucon. (ayung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here