Fatayat dan Nasyiatul Aisyiyah Kalibaru Kampanye Literasi Bersama

Banyuwangi, NUOB – Kesadaran literasi, seperti halnya membaca ataupun menulis, merupakan sesuatu yang penting. Terlebih di era digital yang banyak disisipi berita hoaks dan ujaran kebencian seperti saat ini.

Hal tersebut menggerakkan Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kecamatan Kalibaru Atiqoh Hamid untuk mengkampanyekan budaya literasi kepada masyarakat luas. Tidak hanya untuk anggota Fatayat saja, namun aktivis dari Desa Banyuanyar tersebut, juga menggandeng Pengurus Cabang Nasyitul Aisyiyah (NA) Kecamatan Kalibaru yang merupakan badan otonom untuk perempuan muda di kalangan Muhammadiyah untuk turut terlibat.

“Kita mencoba mengenalkan pentingnya literasi kepada masyarakat. Kemampuan literatif tidak sesederhana kegemaran membaca dan menulis. Tapi, dari aktivitas tersebut, muncul kesadaran kritis terhadap berbagai hal. Kemampuan ini penting dimiliki di mana sekarang hoaks dan ujaran kebencian merajalela,” ujar Atiqoh Hamid di sela-sela acara di Masjid Al-Ihsan, Kalibaru Wetan, Jumat siang (13/7).

Acara yang bertajuk “Menghidupkan Tradisi Literasi di Kalangan Aktivis Organisasi” dan dikemas dalam kegiatan Halal bihalal itu, menghadirkan M. Husnaini. Penulis yang juga motivator kepenulisan itu, mengapresiasi kampanye literasi dua organisasi keperempuanan terbesar di Indonesia itu. Menurutnya, hal tersebut sebagai bagian berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Jadi, kita tidak hanya perlu fastabiqul khairat, tapi wa taawanu alal birri juga harus selalu ditumbuhkan,” cetusnya.

Dalam paparannya, penulis yang baru saja meluncurkan buku “Menjadi Pribadi Pembelajar” itu, menguraikan tentang pentingnya tradisi membaca dan menulis. Selain itu juga diajarkan tata cara memverifikasi kebenaran berita yang beredar.

“Jangan sampai kita terjebak untuk turut serta menyebarkan hoaks karena kita malas untuk memverifikasi apa yang kita baca. Dapat kiriman, copy lalu dishare begitu saja. Tanpa pernah dikroscek terlebih dahulu kebenarannya,” paparnya lebih lanjut.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nasyiatul Aisyiyah Kalibaru Hariri Rizkillah menyambut baik acara tersebut. Perbedaan organisasi dan kultur antara Fatayat dan NA tidak lantas harus dipertentangkan. “Ini akan menjadi sejarah baru. Kami siap bersinergi untuk memberi kemanfaatan yang lebih luas lagi”, ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kalibaru Supriyanto yang turut hadir. Kerja bebarengan tersebut, akan semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan di negeri ini. “Kebersamaan antara Fatayat dan Nasyiah ini, berarti masa depan Indonesia akan semakin kuat,” tegasnya.

Sedangkan Wakil Sekretaris MWC NU Kalibaru Fandik Sudarmawan, M.Hi. menyambut positif sinergitas kedua organisasi tersebut. Ia bahkan berharap, kerjasama kedua organisasi besar itu, tidak sekadar ditingkat badan otonom. Tapi, dapat dilakukan dalam skala lebih luas. “Ini akan menjadi perwujudan dari Islam Nusantara yang Berkemajuan,” selorohnya merujuk pada tagline kedua organisasi, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan.

Di ujung acara, Atiqoh menegaskan, acara pelatihan menulis tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan tersebut. Kedepannya, juga akan dirancang kegiatan bersama yang lebih intens untuk meningkatkan kemampuan literatif di tengah masyarakat.

“Kita akan terus melakukan kerja-kerja literatif yang lebih intens di tengah masyarakat. Bentuknya bisa dengan berbagai macam,” pungkas founder Rumah Baca Mahira tersebut. (ay)

Comments

comments

Check Also

Selain Aktif di Ansor, Joko Setyawan Juga Rintis Bisnis Bibit Tanaman

Banyuwangi – Tidak semua kader NU mampu mensinergikan antara aktivitas di organisasi dengan merintis usaha …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *