Home Berita Aktual (HARLAH IPNU) Usia 63 Tahun, IPNU Wajib Teladani Perjuangan Pendiri dan Muassis

(HARLAH IPNU) Usia 63 Tahun, IPNU Wajib Teladani Perjuangan Pendiri dan Muassis

13
0

Banyuwangi, NU Online – Gelaran harlah IPNU yang ke-63 patut dirayakan oleh setiap tingkatan organisasi keterpelajaran Nahdlatul Ulama. Salah satu diantaranya, saat ini kita  merayakannya dengan selametan nasi tumpeng bersama seluruh pengurus PAC IPNU se-Kabupaten Banyuwangi yang hadir malam ini.

Hal itu disampaikan oleh ketua Pimpinan Cabang IPNU Banyuwangi M. Yahya Muzakki saat jumpa pers NU Online, di Aula Tolchah Mansoer, Jl. Imam Bahri Prum Bukit Asri No. 1, Genteng Wetan, Genteng, Banyuwangi. Kamis (24/2) malam.

Karena selametan ini, kata dia, merupakan suatu bentuk acara syukuran atas limpahan nikmat yang telah dikaruniakan dari Allah SWT. Khususnya di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

“Juga dengan moment ini patut kita review kembali kegigihan sepak terjang yang telah dicontohkan oleh beberapa muassis IPNU untuk diteladani bersama. Sebagai spirit dan vitamin bagi kita. Salah satunya Kiai Tolchah Mansoer,” ungkap Yahya.

Sosok figur professor kelahiran 10 September 1930 ini merupakan panutan yang ideal, lanjut dia, selain beliau seorang professor ahli bidang hukum ketatanegaraan, juga beliau seorang ulama yang ahli dalam bidang agama. Karena selain Kiai Tolchah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada, juga beliau seorang santri di beberapa pesantren. Salah satu diantaranya pesantren Tebuireng Jombang.

“Kegigihan Kiai Tolchah mengisi berbagai pengajian di setiap pelosok desa dengan kendaraan seadanya kala itu. Serta mengikuti berbagai organisasi kepemudaan. Hingga menjadi memprakarsai pendirian IPNU. Sebuah goresan tinta perjuangan dan kepedulian terhadap ummat yang patut kita teladani,” imbuh Yahya.

Yahya menegaskan, kader-kader yang seperti Kiai Tolchah inilah yang masih belum kita punya sejauh ini. “Sosok kader ideal atas pemahaman ilmu pengetahuan umum dan agama yang berbasis kepesantrenan,” tegas Yahya.

“Karena itu, tetap kita harus optimis untuk terus belajar, berjuang, dan bertaqwa. Meski masih banyak bidang garapan yang masih belum kita selesaikan. Mari kita mulai berbenah menjadi lebih baik di tahun yang ke-63 dan selanjutnya. Untuk agama dan bangsa,” tutup Yahya.

Setelah persiapan beberapa tumpeng, dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipandu oleh cucu (alm) KH. Mukhtar Syafaat, Gus Khotibul Umam Syafaat. Barulah acara inti santap nasi tumpeng bersama para pelajar Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi. (M. Sholeh/NUOB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here