Haul Kiai Harun Diselipi Doa untuk Palu

Banyuwangi, NUOB – Bencana gempa bumi yang diiringi tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah mengundang belasungkawa dan lantunan doa dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari jamaah haul ke-41 Allahuyarham KH. Harun Abdullah di Pesantren Darunnajah, Tukangkayu, Banyuwangi, Ahad (30/9).
KH. Salimi Irfan yang didapuk sebagai pengisi tausiyah mengajak semua jamaah untuk mendoakan keselamatan bangsa Indonesia, terutama bagi warga Palu dan Donggala. “Mari kita doakan saudara-saudara kita yang terkena musibah di Palu untuk diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menghadapinya,” ajaknya.
Tak hanya mengajak berdoa, Kiai Salimi juga mengimbau masyarakat untuk turut serta menyumbangkan sebagian rizkinya untuk para korban. Menurutnya, salah satu keteladanan yang ditunjukkan oleh almarhum Kiai Harun adalah kedermawanannya. “Kiai Harun ini orang yang dermawan. Beliau selalu membantu siapapun yang mengalami kesusahan,” terangnya.
“Untuk itu,” lanjut Kiai Salimi, “mari kita sisihkan rezeki kita untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan melalui lembaga yang sah untuk menyalurkan.”
Haul ke-41 KH. Harun Abdullah tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah. Selain para alumni, santri, dan warga masyarakat, juga tanpak para kiai dan pejabat teras di Banyuwangi. Terlihat hadir Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Zainullah Marwan, KH. Samsul, KH. Luayyi, KH. Achmad Shiddiq, dan beberapa kiai lainnya. Adapula Kepala Kementrian Agama Kabupaten Banyuwangi H. Slamet dan Wakil Ketua DPRD Banyuwangi Joni Subagio H. Joni Subagio.
Kehadiran para tokoh tersebut, tak lain sebagai bentuk penghormatan kepada KH. Harun Abdullah yang merupakan seorang alim alamah dan pejuang yang gigih. Pendiri Pesantren Darunnajah, Tukangkayu tersebut semasa hidupnya dihabiskan untuk menegakkan agama dan memperjuangkan agama.
“Beliau sejak muda telah menjadi pengurus di Nahdlatul Ulama. Bahkan, sampai akhir hayatnya beliau masih meniabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi,” terang salah seorang putrinya, Nyai Hajah Makmulah Harun.
Makmulah juga mengenang abah-nya tersebut sebagai sosok pejuang yang gigih semasa zaman penjajahan hingga perang kemerdekaan. “Beliau juga turut berjuang untuk mengisi kemerdekaan negara ini, dengan menggalakkan pendidikan bagi masyarakat dengan melengkapi pesantren dengan pendidikan umum,” ujar anggota DPRD Jawa Timur itu.
Saat ini pesantren yang berdiri sejak 1936 peninggalan Kiai Harun tersebut masih eksis. Selain pendidikan keagamaan, juga dilengkapi dengan pendidikan formal. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) hingga Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP). (ay)

Comments

comments

Check Also

Puzzle Pakde Karwo Karya Siswa SMK NU Al Futuhiyyah Curi Perhatian

BANYUWANGI, NUOB – Siswa-siswa SMK NU Al Futuhiyyah, Muncar berhasil menarik perhatian Gubernur Jawa timur, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *