Home Berita Aktual Ini Cara “Santri Cafe” Maknai Hari Santri Nasional

Ini Cara “Santri Cafe” Maknai Hari Santri Nasional

23
0
Ayunk Notonegoro (kiri) saat memberikan paparan awal dalam Diskusi Hari Santri.

Banyuwangi, NUOB– Hari Santri Nasional (HSN) tidak hanya diperingati oleh santri dari pesantren. Tapi juga oleh “santri cafe” yang menamakan dirinya Ashabul Kafe. Yaitu komunitas anak muda yang melakukan aktivitas mengaji dari cafe ke cafe. Untuk memperingati HSN itu, mereka menggelar diskusi bertajuk “spirit santri meneguhkan NKRI”, di Cafe Heatly, Genteng, Selasa malam (24/10).

Santri, dalam diskusi tersebut, tidak hanya dipahami dalam konteks santri pesantren. Tapi lebih dari pemaknaan santri sebagai kata kerja. “Santri tak sebatas pada kata benda, tapi lebih pada kata kerja. Jadi, santri tidak hanya dilihat secara definitif, tapi harus dilihat bagaimana sikap personal dari santri itu sendiri,” ungkap Founder Komunitas Pegon Ayung Notonegoro yang menjadi pembicara utama.

Santri sebagai kata kerja, lanjut Ayung, adalah konteks yang tepat dalam membincang spirit santri. “Memahami spirit santri harus dipahami dalam tiga aspek. Mulai dari sisi tata krama, keilmuwan maupun sikap sosial kemasyarakatan,” papar Ayung.

Kafe Rasa Pesantren: Cafe Hitley’s dipenuhi puluhan Mahasiswa dan Santri untuk mendiskusikan tema ”Spirit Santri Meneguhkan NKRI”.

Dalam tiga aspek dari spirit santri itu, adalah modal penting bagi kaum santri untuk meneguhkan nilai-nilai nasionalisme dan mensejahterakan NKRI. “Di tengah liberalisasi gaya hidup, tata krama ala santri menjadi gerakan yang solutif. Di tengah budaya keilmuwan instan dalam bidang keagamaan yang melahirkan radikalisme, keilmuwan agama pesantren menawarkan kedalaman yang mewujud kearifan. Begitupula di saat kesenjangan ekonomi yang akut, sikap pesantren yang mengajarkan kemandirian, kesederhanaan dan gotong royong menjadi jangkar pengaman,” jelentrehnya.

Lebih lanjut, Ayung menegaskan, sikap santri yang demikian harus terus digelorakan di tengah masyarakat. “Jika kalian melakukan itu, tak peduli kalian pernah mondok dimana, pasti kalian akan tetap dinyatakan sebagai santri,” cetusnya.

Diskusi yang digelar Ashabul Cafe sendiri merupakan kajian rutinan yang digelar setiap Selasa malam. Diikuti oleh anak-anak muda yang digelar dari cafe ke cafe. “Kegiatan ini telah berlangsung selama dua tahun,” terang pegiat Ashabul Cafe, Fahmi Nuris Syafaat.

Tujuan dari Ashabul Cafe ini, sebenarnya ingin mengakrabkan anak-anak muda pada kajian keagamaan. “Biasanya anak muda itu rikuh mau ikut pengajian, karena kesannya kaku dan orang tua banget. Maka, kita mencoba membuat forum pengajian yang lebih anak muda,” ungkap Fahmi.

Kajian yang dibahas selain diskusi tematik yang up to date, juga ada kajian kitab Bulughul Maram dan Risalatul Mahid. Dua kitab tersebut mengkaji tentang hukum fiqih keseharian. “Dua kitab ini, sengaja dipilih karena berkaitan langsung dengan permasalahan keagamaan anak muda,” pungkas Fahmi. (noe/ay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here