Ini Kunci Persaudaraan dan Perdamaian Indonesia ditengah-tengah Keberagaman Agama, Suku, dan Ras

Banyuwangi – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi mengadakan dialog publik dengan tema “Islam dan Kebangsaan”, di Aula lantai II Kantor PCNU Kabupaten Banyuwangi, Jl. Ahmad Yani No. 59 Banyuwangi. Minggu (18/6) sore hingga petang.

Gelaran dialog publik yang dinarasumberi langsung oleh Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (PP Lakpesdam NU) Ahmad Baso ini, dihadiri oleh perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi Haikal kafili dan ratusan warga nahdliyin yang tergabung dalam segenap kepengurusan NU dan badan otonomnya di tingkat kecamatan. Juga turut hadir lintas organisasi kepemudaan lain bersama beberapa awak media.

Dalam kesempatan kuliah singkatnya, Kiai Baso mengajak seluruh peserta untuk mengambil hikmah dan poin terpenting dalam rangkaian video “Mahatma Gandhi 1982 in Hindi”. Sebuah video berdurasi tiga jam sebelas menit yang mengupas perjuangan Gandhi yang turut terlibat memperjuangkan kemerdekaan India dari cengkraman Inggris.

“Pada akhirnya perjuangan Gandhi saat remaja mulai awal hingga akhir, berakhir luluh lantak, nyaris tanpa bekas. Ketika dihadapkan konflik yang berbalut dengan isu agama. Perang antar sesama pun tak dapat dibendung,” ungkap Kiai Baso.

Ia menjelaskan, seringkali awal kemelutnya konflik persaudaraan di banyak negara bersamaan dengan balutan isu agama. Padahal mayoritas negara konflik diatas seorang muslim.

“Bersyukur negara kita yang memiliki keberagaman agama, suku, dan ras ini masih terjalin persaudaraan dan perdamaian. Kesemuanya berkat eksistensi organisasi Nahdlatul Ulama bersama ulama-ulama Nusantara yang mengajarkan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam yang ramah, bukan marah. Menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya rahmat terkhusus Kabupaten Banyuwangi dan Indonesia saja,” jelas penulis kelahiran Makassar.

Ia juga mengajak kader-kader muda NU untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas tulis-menulis khazanah islam yang mengajarkan kedamaian dalam versi bahasa inggris ataupun bahasa arab. Guna pemikiran dan hasil karya mampu memberikan rahmat bagi semesta alam.

“Maka saya berfikir. Ada berapa persen seluruh Indonesia kader-kader NU yang suka membaca ?. Dari mereka yang suka membaca, berapa persen yang dapat menulis ?. Dari mereka yang suka membaca dan menulis, berapa persen yang mampu menulis dengan bahasa inggris ataupun bahasa arab ?. Jika pemikiran saya dikerucutkan, mungkin kader NU yang mampu membaca dan menulis bahasa inggiris ataupun bahasa arab hanya tinggal 0,000000 sekian persen,” canda Kiai Baso.

“Tapi saya tetap optimis. Penulis-penulis handal yang menyuarakan islam penuh kedamaian, dalam waktu dekat akan lahir dari bumi belambangan. Karena hakikinya kalian yang hadir adalah warisan cucu dari Sunan Giri. Masak kalah dengan saya, tanpa kuliah mampu menobatkan profesor Belanda dengan buku yang saya tulis versi inggris berjudul “The Intellectual Origins Of Islam Nusantara,” tutur Kiai Baso.

“Ayo menulis. Saya tunggu karya kalian,” ajak Kiai Baso.

Sementara itu, perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi Haikal Kafili mengharapkan, dengan kehadiran Kiai Baso selama dua hari di Kabupaten Banyuwangi menjadikan serta mendidik kader-kader NU yang berkualitas ungulan.

“Saya harap perantara dedikasi Kiai Baso, kalian menjadi kader NU yang militan, bukan kader-kader NU peletan. Karena Kiai Baso disini mengajarkan khazanah originalitas islam Nusantara yang mengajak kepada perdamaian bukan perpecahan,” harap Haikal.

Di akhir acara Direktur Badan Student Crisis Center (SCC) PC IPNU Kabupaten Banyuwangi Ibnu Tsani Rosyada menggelar aksi penandatanganan petisi penolakan Full Day School (FDS). Petisi tersebut nantinya akan diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

Saat jumpa pers, Ibnu mengatakan, Sekolah formal bukan cara satu-satunya dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter. Karena akan mengikis pendidikan non formal terutama TPQ dan pondok pesantren yang biasanya dilaksanakan di sore hari yang justru selama ini menjadi wahan pendidikan karakter. (Sholeh/Dir)

Comments

comments

Check Also

KH. Fachrudin Mannan: Surga Merindukan Salah Satu dari Empat Golongan

Muncar, Banyuwangi – Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Muncar KH. Fachrudin Mannan menjelaskan, surga merindukan salah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *