Home Humor Isi Peci Gusdur

Isi Peci Gusdur

16
0

 

Salah satu style pakaian KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah peco hitam. Kebanyakan foto presiden Indonesia keempat tersebut, menggunakan penutup kepala yang kata Bung Karno merupakan simbol nasionalisme tersebut.

Tapi, tahukah pembaca sekalian, apa isi dari peci hitam Gus Dur itu? Jelas, kepala Gus Dur. Tapi, di peci tersebut, terdapat ruang sempit di sisi-sisinya yang biasa dipergunakan untuk menyimpan sesuatu yang berupa lembaran. Uang kertas atau catatan-catatan kecil yang dijamin aman. Tidak bakal jatuh. Kalangan santri mungkin sudah mafhum dengan sela peci ini.

Lantas, apakah yang disimpan Gus Dur di sela-sela pecinya tersebut? Uangkah? Atau lainnya?

Ada beberapa kisah yang mengkonfirmasi hal ini. Seperti saat Gus Dur berkunjung ke Banyuwangi. Ia menjenguk koleganya yang juga Rois Syuriah PCNU Banyuwangi tahun 90-an, KH. Zarkasy Djunaidi.

Seusai menjenguk pengasuh PP. Bustanul Makmur itu, Gus Dur berbincang dengan beberapa orang. Tiba-tiba datang seorang tamu. Tamu yang berasal dari luar kota itu, hendak mengundang Gus Dur untuk ceramah di daerahnya.

“Oh iya…” tukas Ketua Umum PBNU itu, “Nanti kalau saya sudah sampai di Jakarta, tolong diingatkan.”

“Ini saya catat di ingatan saya saja, karena saya ndak bawa apa-apa, kertas-kertas, pulpen, apalagi dompet, saya ndak pernah bawa,” imbuh Gus Dur sambil merogoh saku baju dan celana beliau menunjukan kepada orang tersebut.

Kemudian Gus Dur menceritakan tentang kebiasaannya tersebut. “Saya memang ndak pernah bawa apa-apa, kalau kemana-mana. Wong saya ini kemana-mana ikut orang, makan ikut orang, tidur ikut orang, jadi buat apa saya bawa dompet,” ungkapnya.

“Tapi,” sergah Gus Dur sembari mencopot pecinya. “Kalau Jadwal Liga Inggris setahun ini, saya bawa,” ungkapnya sembari menunjukkan kertas panjang berisi jadwal liga Inggris yang disimpan di lipatan pecinya.

Tertawalah orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

Kisah yang hampir sama juga pernah dialami oleh H. Khozin Haris. Wakil Ketua PCNU Banyuwangi ini, diutus oleh KH. Mukhtar Syafaat untuk mengundang Gus Dur sebagai penceramah di Pesantren Darussalam.

Setelah mengaturkan maksudnya, Pak Khozin menunggu jawaban Gus Dur. Namun, putra pertama Kiai Wahid Hasyim itu, tak kunjung memberikan tanggapan. Cukup lama, Khozin menunggu.

Tiba-tiba Gus Dur mencopot pecinya. Ia mengambil kertas dilipatannya tersebut. Tak lain kertas tersebut merupakan jadwal liga Inggris.

“Jadwal pengajiannya disesuaikan dulu dengan jadwal liga Inggris. Jangan sampai berbarengan,” kata Khozin tirukan pesan Gus Dur saat itu.

Dasar, Gus maniak bola. Hehehe (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here