Jangan Jadi Ketua NU, Itu Berat

Kepemimpinan NU Banyuwangi di bawah Masykur Ali dalam lima tahun terakhir cukup baik. Banyak hal prestisius yang telah ditorehkan. Sebagaimana dimuat dalam The Authorized Masykur Ali: Jalan Pengabdian yang ditulis oleh Ayung Notonegoro (Imtiyaz, 2018) ini, setidaknya ada empat hal. Mulai dari tata kelola administrasi, pembangunan kantor yang representatif, revitalisasi RSNU, hingga proses kaderisasi yang cukup masif.

Hal ini, tidak terlepas dari berbagai faktor, ada beberapa proses dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Masykur Ali untuk mengantarkan NU menuju kejayaan tersebut. Pertama, yang dilakukan oleh Maskur Ali adalah regenerasi kepengurusan. Pengurus NU yang awalanya banyak didominasi oleh kalangan keluarga Pesantren, dibawah kepengurusan Maskur Ali, PCNU mulai diwarnai oleh tokoh-tokoh muda, profesional mapun aktivis.

Keberanian Masykur Ali dalam mengubah tatanan tersebut tidak sia-sia. Hal ini memiliki dampak yang cukup efektif, NU era Maskur Ali sudah mulai reformasi organisasi yang dimulai dengan penataan admintrasi secara baik, mengingat sebelumnya hampir tidak ada arsip-arsip yang ditata rapi.

Selain itu, Maskur Ali juga tidak segan untuk melakukan kerjasama dengan berbagai steakholder untuk kemajuan organisasi. NU di era Masykur Ali telah melakukan berbagai kerjasama dengan perusahaan swasta mulai dari Semen Bosowa, BPJS dan beberapa steakholder lainya.

Terakhir, adanya kaderisasi yang dilakukan secara masif selama beberapa tahun terakhir ditambah konsolidasi kepada semua elemen, membuat PCNU Banyuwangi semakin kuat. Hingga polarisasi yang muncul akibat persolan perbedaan pandangan politik dalam pilkada bisa diakhiri.  Sehingga mampu mengantarkan salah satu kader NU menduduki posisi Bupati Banyuwangi.

Hal ini mungkin yang menjadikan banyak orang “ngebet” menjadi ketua NU. Namun tak banyak yang menyadari kalau hal tersebut bukan hal yang instan. Ada proses berdarah-darah yang mungkin saat ini tak banyak diketahui.

Pada awal proses menuju ketua PCNU kala itu, Masykur Ali sudah dihapadkan pada problem yang tidak sedehana. Pengurus PCNU sebelum tahun 2003 banyak di isi oleh kalangan pesantren, yang seolah tidak memberikan ruang bagi kalangan kader NU yang bukan keluarga pesantren atau keturunan Kiai untuk memimpin NU. Sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagi Masykur Ali yang kala itu hanya seorang Guru SMP.

Selain itu keterlibatan Bupati Syamsul Hadi yang mendukung salah satu calon dalam pemilihan tersebut membuat langkah Masykur cukup berat. Namun, berkat kepercayaan warga NU serta, restu dari KHR. Fawaid Asád yang kala itu diprcaya untuk membacakan hasil penjaringan calon, akhirnya Masykur Ali mantap untuk menerima mandat untuk maju dalam pecalonan ketua Tanfidziah PCNU.

Aroma persaingan kala itu cukup ketat, kedua belah pihak saling melakukan konsolidasi untuk memenangkan calon pemimpin pilihanya. Akhirnya berkat segala daya dan upaya, Masykur Ali terpilih menjadi ketua PCNU Banyuwangi periode 2003-2008 dengan keunggulan tipis.

Ketegangan yang terjadi dari arena Konfercab tersebut, tidak lantas usai begitu saja. Apalagi selama pelaksanaan terjadi insiden-insiden yang merupakan letupan dari semangat dukungan. Sampai setelah terbentuknya kepengurusan pun, masalah tidak kunjung usai. Saat itu ada beberapa pengurus NU yang tiba-tiba mengundurkan diri.

Sementara itu, pada kepengurusan di periode kedua juga tidak lepas dari ujian. Pada masa kepemimpinan Bupati Ratna Ani Lestari, PCNU mengalami situasi yang cukup sulit. Kebijakan bupati yang tidak memihak kepada NU, upaya dari Bupati Ratna untuk menyikirkan lawan politiknya di pemerintahan, hingga adanya upaya penetrasi budaya luar ke dalam kegiatan Maulid Nabi.

Pada masa Bupati Ratna tadisi Gredoan di macan putih tiba-tiba berubah menjadi konvoi dengan nuansa berbeda, yang oleh tokoh masyarakat dianggap bertentangan dengan tradisi keagaaman yang ada di masyarakat sekitar. Isu yang merebak  menyebutkan bahwa ada upaya dari bupati untuk melakukan intervensi dalam kegiatan tersebut sehingga memantik kemarahan masyarakat terutama warga  Nahdliyin.

Masykur Ali sebagai ketua PCNU kala itu melakukan perlawanan. Namun posisisnya sebagi PNS, menimbukan polemik tersindiri ketika melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Masykur yang saat itu menjadi Kepala Sekolah SMPN 1 sempu, dimutasi oleh Bupati menjadi guru biasa kembali.

Tidak berhenti sampai disitu, akibat perbuatanya yang menentang pemerintah, Masykur Ali diserang dengan berbagai fitnah. Mulai dari isu perselingkuhan, pencabulan,dan berbagai caci maki yang bertujuan untuk menghancurkan reputasinya. Namun berkat konsistensi sikapnya, para kerabat dan masyarakat lebih mempercayainya sehingga upaya dari berbagai serangan tersebut sia-sia.

Melihat proses yang dijalani, PCNU Banyuwangi dengan segala kecukupanya hari ini tidak lahir dalam sekejap, namun ada proses panjang yang dilewati, bahkan ada pengorbanan besar yang harus dilakukan. Betapa beratnya menjadi ketua NU. Tidak hanya siap tombok, tapi siap meluangkan waktu, difitnah dan lain sebagainya. Meminjam bahasa kekinian; “Jadi ketua NU itu berat, kamu tidak akan kuat, biar aku aja” kata Dilan.

Penulis: Ibnu Tsani Rosyada (Redaktur NU Online Banyuwangi)

 

 

 

Comments

comments

Check Also

Selain Aktif di Ansor, Joko Setyawan Juga Rintis Bisnis Bibit Tanaman

Banyuwangi – Tidak semua kader NU mampu mensinergikan antara aktivitas di organisasi dengan merintis usaha …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *