Home / Berita Aktual / Kenang Para Rais dan Ketua dari Masa ke Masa, PCNU Banyuwangi Gelar Haul Sesepuh

Kenang Para Rais dan Ketua dari Masa ke Masa, PCNU Banyuwangi Gelar Haul Sesepuh

Banyuwangi – Bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) menggelar Haul Sesepuh NU. Hal ini bertujuan untuk mengenang Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah NU Banyuwangi dari masa ke masa.

“Acara ini adalah bagian untuk mendoakan para pendahulu serta mengenang jasa-jasa perjuangan para masayikh kita tempo dulu,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Zainullah Marwan saat memberikan iftitah, Ahad malam (20/10/2019).

Acara yang digelar pertama kalinya itu, imbuh Kiai Marwan, akan dijadikan agenda rutin tahunan. “Kami mengamanatkan haul ini, bisa diselenggarakan dengan skala lebih besar lagi,” jelasnya.

Haul Sesepuh NU Banyuwangi sendiri digelar di tengah acara Santri’s Camp Banyuwangi di Wisata Hutan Pinus, Sumberbulu, Songgon. Tak kurang dari seribu santri muda memadati bumi perkemahan tersebut untuk mengikuti rangkaian haul.

“Sengaja kami gelar bersamaan dengan Santri’s Camp ini, agar para santri milineal kenal dengan para sesepuhnya,” ungkap Sekretaris PCNU Banyuwangi Saifuddin Zuhri.

Selain pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh KH. Afandi dan KH. Abdillah Muktar, juga diselenggarakan penyerahan piagam penghargaan dari PCNU Banyuwangi kepada para ahli waris sesepuh NU tersebut. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Rais Syuriyah dan didampingi oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko.

Sementara itu, Rais dan Ketua PCNU Banyuwangi itu, teridentifikasi sejak masa perintisan hingga masa sekarang. “Sejarah NU Banyuwangi bisa dibagi dalam empat fase. Pertama, fase perintis dari tahun 1926 hingga 1930. Kemudian fase pendirian (1930-1943). Disusul fase dua cabang (1944-1968) dan fase fusi (1968-sekarang),” ungkap Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi Barur Rohim.

Fase perintisan sendiri, adalah fase ketika NU baru pertama kali didirikan. Fase ini, masih belum ada kepengurusan NU di tingkat Cabang. Kepengurusan Cabang sendiri baru ada pada 1928. Itu pun masih belum luas. Hanya di Jombang dan Surabaya.

“Pada fase ini, di Banyuwangi dibentuk Nahdlatul Islamiyah. Semacam organisasi yang bertujuan sama dengan NU, yakni menyiarkan Islam Ahlusunnah wal Jamaah dan mengcounter ajaran Wahabi,” terang pengurus yang akrab disapa Ayung Notonegoro itu.

“Fase ini, Raisnya langsung dipimpin oleh Kiai Saleh Lateng. Sedangkan ketuanya adalah Kiai Mahmud Singonegaran,” imbuh penulis buku ‘Sejarah NU Banyuwangi’ itu.

Sedangkan fase kedua, merupakan fase dimana NU Cabang Banyuwangi didirikan. Fase ini tepatnya bermula pada 16 Januari 1930. Nahdlatul Islamiyah di awal tadi diubah menjadi NU Cabang Banyuwangi. Yang pernah menjabat sebagai raisa adalah KH. Maksum Kemasan (1930-1933) dan KH. Syamsuri Singonegaran (1933-1943). Sedangkan ketuanya yang diketahui antara lain Anjun Penghulu Muhammad Salim (1930), Kiai Muhammad Hasan (1936) dan Kiai Moehid bin Tajib (1940).

Lalu, pada 1942, tiba masa pendudukan Jepang. Dimana semua organisasi politik dan sosial dibekukan. Tak terkecuali NU Banyuwangi. Pada 1943, NU Banyuwangi divakumkan. Baru setahun kemudian diaktifkan kembali.

Saat pengaktifan itu, 1944, NU terbagi dalam dua kepengurusan Cabang. Yakni Cabang Blambangan dan Cabang Banyuwangi. Rais Syuriyah Cabang Blambangan antara lain Kiai Dimyati Syafii (1944-1959) dan KH. Djunaidi Asmuni (1959-1968). Sedangkan ketuanya adalah KH. MS. Achyad Arsyad (1944-1965) dan KH. Abdul Latief Sudja’ (1965-1968).

Sedangkan Cabang Banyuwangi kala itu yang menjadi Rais Syuriyah adalah KH. Harun Abdullah (1944-68). Ketuanya bergantian antara lain KH. Mahfudz Samsul Hadi (1956), Kiai Abudarrin Mahdi (1956-62), dan KH. Ali Manshur (1962-68).

“Pada 1968 terjadi kesepakatan untuk melakukan fusi antara Cabang Banyuwangi dan Blambangan. Diadakanlah konferensi gabungan untuk menentukan kepengurusan baru PCNU Banyuwangi,” terang Ayung yang merupakan peneliti di Komunitas Pegon yang konsen pada penelitian sejarah NU dan Pesantren di Banyuwangi itu.

Rais yang terpilih pada fase fusi ini adalah KH. Harun Abdullah (1968-78), KH. Mukhtar Syafaat (1978-81), KH. Muhammad Thohir (1981-1991), KH. Nuruddin Qosim (1991-1992), dan KH. Zarkasy Djunaidi (1992-2001). Adapun ketuanya adalah KH. Abdul Latief Sudja’ (1968-86), KH. Abdurrahman Hasan (1986-98) dan KH. Hasyim Cholil (1998-2003).

“Para sesepuh yang masih hidup lainnya dari jajaran Rais yaitu KH. Suyuti Thoha (2001-03) dan KH. Hisyam Syafaat (2003-18). Sedangkan ketua adalah KH. Masykur Ali (2003-18),” imbuh Ayung.

Data-data tersebut berasal dari berbagai sumber yang diteliti oleh Komunitas Pegon sejak 2016. “Ini merupakan data yang berhasil kami temukan. Tentu, masih berkemungkinan ditemukan data lain yang dikemudian hari bakal menyempurnakan susunan tersebut,” pungkasnya. (Sholeh)

Comments

comments

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

Tahun ini Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Banyuwangi Hadiri Acara Maulid Nabi di Karangrejo

Banyuwangi – Tiap tahun Pengurus Ranting NU Karangrejo melaksanakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *