Home / Tokoh / KH Saleh Lateng, Ulama Banyuwangi Pejuang Revolusi

KH Saleh Lateng, Ulama Banyuwangi Pejuang Revolusi

“Banyuwangi merupakan daerah yang memiliki akar kesejarahan yang sangat kuat, bahkan bisa dikatakan Banyuwangi merupakan daerah yang memiliki peradaban besar mengingat di Bumi Blambangan pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Blambangan. Kerajaan ini pernah melakukan perlawanan kepada Kerajaan Majapahit.”
unduhan (6)Apakah anda warga Banyuwangi terlebih warga Nahdliyin tahu dan kenal nama Kyai Saleh Lateng? Jika belum tahu anda wajib mencari tahu bahkan wajib ziarah ke Makam Kyai Saleh Lateng yang berada di Lateng Banyuwangi tak jauh dari Masjid Agung Baiturrohman Banyuwangi. Tak hanya bertawassul namun juga meneladani kisah-kisah beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan dan berjuang bagi NU (Islam Nusantara). Bahkan menurut saya kaum Santri, PMII, IPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat terlebih NU wajib hukumnya mengadakan haul beliau sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas jasa-jasa beliau, karena di tangan beliaulah NU Banyuwangi berdiri dan Indonesia merdeka. Jadi NU tidak hanya sibuk berpolitik praktis sehingga lupa akan perjuangan-perjuangan Ulama NU di Banyuwangi, khususnya Kyai Saleh Lateng yang perjuangannya harus diteruskan oleh generasi penerus. PMII dan adik-adik IPNU Banyuwangi juga wajib tahu sejarah Kyai Saleh Lateng, karena beliau patron dan tokoh ulama yang harus diteladani dan nilai-nilai perjuangannya wajib diteruskan oleh kader-kader muda NU.
Berbicara ulama di Banyuwangi, ada satu ulama yang memiliki kontribusi dan dedikasi besar bagi NU dan berdirinya NKRI. Ulama itu adalah Kyai Saleh Lateng, ulama sakti keturunan raja-raja Palembang-Sumatera. Mungkin nama Kyai Saleh tidak sepopuler nama ulama-ulama yang lain, hal ini mungkin karena Kyai Sholeh tidak memiliki pesantren yang eksis hingga saat ini. Namun meskipun Kyai suaru atau musholla nama beliau disegani oleh ulama-ulama yang memiliki pesantren-pesantren besar di Jawa dan Madura. Sosok Kyai Saleh sangat luar biasa, Kyai surau yang disegani ulama dan menjadi salah satu tokoh kunci pendiri ormas terbesar NU dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Kyai Saleh lahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H atau 07 Maret 1862 M dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ayah beliau bernama Kiagus Abdul Hadi dan Ibunya bernama Aisyah berasal dari Panderejo Banyuwangi. Beberapa sumber menyatakan bahwa garis keturunan Kyai Sholeh Lateng keatas sampai kepada Nabi Muhammad SAW
Ketika kecil Kyai Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan keluarganya. Baru pada usia 15 tahun, Kyai Saleh mengembara ilmu di beberapa Ponpes diantaranya di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, beliau meneruskan mondok ke Bangkalan Madura, kepada Kyai Kholil. Kyai Kholil Bangkalan merupakan kyai yang dikenal banyak melahirkan ulama-ulama besar di Nusantara. Adapun diantara murid-murid Kyai Kholil Bangkalan adalah, KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (organisasi terbesar di Indonesia), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo). Bahkan Ir. Soekarno Presiden RI pertama, menurut penuturan Kiai Asa’ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya. Di Bangkalan, Kyai Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil. Bahkan ketika itu Kyai Saleh merupakan satu-satunya santri yang bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk keperluan berangkat Haji. Selama mondok kepada Kyai Kholil Bangkalan bersama ulama-ulama diatas Kyai Saleh banyak mendapatkan ilmu termasuk ilmu-ilmu kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk berdakwah di Banyuwangi. Bahkan untuk menambah khasanah keilmuwan Kyai Saleh pernah belajar ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana, Bali. Selepas menuntut ilmu di Bali, beliau meneruskan pelajaran ilmunya ke Tanah Suci Mekkah. Selama enam tahun sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Di Mekkah Kyai Saleh juga pernah mengajari pelajar-pelajar disana dengan menggunakan 4 bahasa.
Saat jaman penjajahan, sekitar tahun 1900 M atau sekitar umur 38 tahun, Kyai Saleh kembali ke kampung halamannya di kampung Lateng -Banyuwangi. Di kampung inilah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk menyebarkan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi. Banyak kendala yang dihadapi Kyai Saleh, namun karena banyak kendala itulah Kyai Saleh mampu menjadi ulama yang disegani oleh ulama-ulama nusantara. Perlu diketauhi saat itu Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang penuh pertikaian antar kelompok masyarakat dan banyak bromocorah yang meresahkan masyarakat. Namun di tangan Kyai Saleh semua konflik bisa diredakan dan masyarakat bisa disatukan. Semboyan yang saat itu dikenal adalah “satu guru jangan saling mengganggu”.
Dalam pengajarannya, Kyai Saleh Lateng sangat tegas dan melawan penjajahan. Beliau sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian kanuragan. Maka tak heran jika murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali penyamun jalanan dan bromocorah di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya. Bahkan mereka-mereka banyak yang taubat dan insaf di tangan Kyai Saleh.
Sebagai ulama yang disegani ketika itu, Kyai Saleh memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran ormas terbesar di Indonesia bahlan di dunia yakni Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Wilayah Blambangan. Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Glenmore Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M bersama dengan tokoh-tokoh ulama nusantara lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah satu ulama yang naik di atas podium untuk berpidato memberikan kontribusi dan dukungan pada pertemuan Komite Hijaz yang dihadiri oleh ulama-ulama se Jawa dan Madura. Yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini, Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama. Peranan Kyai Saleh Lateng ini sering di ceritakan dalam pidato-pidato KH. As’ad Syamsul Arifin Ponpes Assalafiyah Sukorejo – Situbondo.
Sikap anti penjajah dan perlawanan selalu digelorakan oleh Kyai Saleh Lateng. Tak segan sikap konfrontatif sering dilakukan dengan melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh penjajah. Kyai Saleh juga melarang keluarga dan para santrinya untuk melepas kopyah, memakai celana, dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda hal ini sama dengan apa yang dilakukan Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asyari ketika melarang memakai dasi ketika itu. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari bantuan oleh Belanda untuk pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.
Dalam pertempuran, Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya dan santrinya ke medan perang, gerilya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran dan medan gerilya dan bagi Kyai Saleh kemerdekaan harus direbut. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang dikirim ke medan perang yang heroik saat itu. Dimana dengan bekal ilmu kanuragan islam nusantara, ketakdiman pada kyai, serta keimanan yang kuat laskar-laskar santri menjadi garda terdepan di medan pertempuran yang sangat mencekam dan heroik. Atas sikap konfrontatif dan oposannya terhadap penjajah Kyai Saleh juga sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng dan pindah ke Pakistaji. Tak hanya itu Kyai Saleh juga pernah terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin pasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.
Dalam proses berdirinya NKRI, Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal Kementrian Republik Indonesia. Menurut cerita, Menteri Agama Republik Indonesia pertama KH. Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan kementrian. KH. Wahid Hasyim saat itu mencarinya ke seluruh pondok pesantren, namun belum juga menemukannya. Maka KHA Wahid Hasyim mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan Kementrian Agama Republik Indonesia.
Dalam berbagai cerita, Kyai Saleh pernah disebut oleh Kyai Kholil Bangkalan sebagai ulama yang sangat memahami kitab alfiyah. Bahkan Kyai Kholil Bangkalan pernah mengatakan “se Jawa Timur tidak ada yang dapat menandingi kemampuan Kyai Saleh dalam Kitab Alfiyah. Kyai Saleh adalah ulama yang sangat sederhana dan tidak mau ditonjolkan, bahkan beberapa sumber menuturkan bahwa Kyai Soleh merupakan ulama yang produktif menulis. Namun dari berbagai kitab-kitab karya Kyai Sholeh, Kyai Sholeh jarang mencantumkan nama beliau dibali karya-karyanya. Kesederhanaan inilah yang membuat ulama-ulama ketika itu hormat dan kagum Kyai Sholeh.
Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun. Beliau di makamkan di dekat surau atau musholla tempat Kyai Saleh mengajar ilmu-ilmu agama kepada santrinya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan ruhnya. Amin Wallahu A’lam bisshowab.
(nuo_bwi/dir)

Comments

comments