Kiai Abdul Hadi Basri Meninggal Dunia

Banyuwangi, NUOB – Warga Nahdliyin Banyuwangi kembali berduka. Salah seorang ulama sepuh kota Blambangan kembali meninggal. Setelah Selasa kemarin ditinggal oleh KH. Yusuf Nur Iskandar, pada Selasa petang (10/7), disusul oleh KH. Abdul Hadi Basri.

Pendiri Pesantren Subulussalam, Kelurahan Panderejo, Banyuwangi itu dikabarkan meninggal dunia menjelang waktu Isya di RSUD Blambangan. Seminggu yang lalu, Kiai Abdul Hadi terjatuh di kamar mandi. Lalu, dibawa ke RSUD Blambangan. Dari hasil pemeriksaan medis, terdapat tulang di bagian belakang tubuhnya yang retak.

Namun karena kondisi pengurus Jamiyah Thariqah Muktabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Jawa Timur itu, dalam keadaan lemah, tak memungkinkan untuk segera mengoperasinya. Setelah tiga hari dirawat, sembari menunggu pulih untuk dilakukan operasi, keluarga memutuskan untuk membawa pulang.

Empat hari lamanya Kiai Abdul Hadi dirawat di rumahnya yang berada di bilangan Jalan Citarum tersebut. Hingga akhirnya pada Selasa sore, menjelang adzan Magrib, ayah enam anak itu, tak sadarkan diri. Lalu, keluarga segera mengevakuasinya ke rumah sakit daerah yang berjarak tak lebih dari dua kilo meter itu. Tak berapa lama, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Selain karena jatuh, selama tiga bulan ini, beliau beberapa kali dirawat di rumah sakit. Beliau menderita (sakit) jantung,” ujar Ketua MWC NU Banyuwangi H. Achmad Mushollin yang juga adik iparnya tersebut.

KH. Abdul Hadi Basri

Kiai Abdul Hadi dikenal sebagai seorang pejuang di Nahdlatul Ulama Banyuwangi. Setelah menamatkan pendidikannya di berbagai pesantren di Jawa, ia mengabdikan dirinya di organisasi para ulama itu. Awal karirnya adalah sebagai full timer kantor NU Banyuwangi pada tahun 60-an.

Seiring waktu, karena kapabilitas keilmuwan dan dedikasinya, suami dari Nyai Hajjah Lamhatin tersebut dipercaya menjadi pengurus LP Ma’arif Banyuwangi. “Beliau sangat aktif dalam mengurus NU, di Lembaga Maarif, khususnya,” kenang Mushollin.

Selain di lembaga NU yang mengurusi pendidikan itu, Kiai Abdul Hadi juga dikenal sebagai seorang ulama yang mumpuni. Tak ayal, ia juga dipercaya menjadi pengurus Syuriyah sebagai institusi tertinggi di NU. Pada dekade 90-an, ia tercatat sebagai Rais Syuriyah MWC NU Banyuwangi.

Sedangkan di kepengurusan cabang, jebolan Pesantren Lirboyo itu, pernah tercatat sebagai Katib Syuriyah. Pada masa syuriyah NU Banyuwangi dipimpin oleh KH. Hisyam Syafaat, beliau terpilih sebagai wakil rais. Yakni pada masa khidmat 2003-2008 dan 2013-2018.

Tak hanya dijalur struktural dan formal, Kiai Dul Hadi – sapaan karibnya – juga berjuang di jalur kultural. Ia kerap mengisi ceramah di berbagai tempat. Salah satu majelis yang rutin diisinya hingga usia senjanya adalah Jam’iyah Pengajian Nahdlatul Ulama Jumat Pagi.

Kepergian Kiai Dul Hadi menyisakan kehilangan bagi warga Nahdliyin. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua PCNU Banyuwangi H. Ali Makki Zaini saat bertakziyah di rumah duka, Selasa malam (10/7).

“Beliau sangat aktif dalam organisasi NU. Semoga husnul khotimah dan segala dosa diampuni,” tutur Gus Makki – sapaan akrab ketua NU.

Pemakaman kiai berusia 78 tahun tersebut, dilaksanakan pada Rabu pagi (11/7) bertempat di pemakaman keluarga di depan MI Raudlatul Ulum, Panderejo. (sholeh/ay).

Comments

comments

Check Also

Warka Kelistrikan Muncar Salurkan Bantuan 15 juta

Banyuwangi, NUOB – Kepercayaan masyarakat kepada LAZISNU Banyuwangi saat ini semakin tinggi. Setelah menerima donasi dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *