Home FIKROH NAHDLIYAH Kiai Syafaat, Pancasila dan Azaz Tunggal

Kiai Syafaat, Pancasila dan Azaz Tunggal

39
0

Satu Juni merupakan hari lahir Pancasila. Pada tahun 1945, Ir. Soekarno di depan sidang BPUPKI mengutarakan tentang lima sila tersebut. Ia menyebutnya sebagai weltanschauung. Sebagai filosofi negara.

Sebagai sebuah filosofi negara yang majemuk seperti Indonesia ini, Pancasila terbukti ampuh menjaga persatuan dan kesatuan. Meski pada sejarahnya, selalu ada riak-riak politik yang mencoba untuk menodai, bahkan ingin merusaknya.

Salah satu episode politik dari ideologi Pancasila yang cukup penting adalah pada masa Orde Baru. Saat itu, Presiden Soeharto menghendaki semua ormas di Indonesia menerapkan asas tunggal: Pancasila. Gagasan tersebut, mendapat perlawanan karena dianggap merendahkan agama. Protes keras datang terutama dari kalangan Islam. Lebih-lebih dari kalangan Islam Politik pada dekade 80-an.

Dari kalangan NU sendiri sempat terjadi penolakan yang cukup alot dan tegang. Namun, cara pandang keagamaannya yang cukup moderat, menjadikan NU sebagai ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Hal ini sebagaimana diputuskan dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada Desember 1983.

Saat itu, KH. Achmad Shiddiq dari Jember menjadi tokoh sentral penerimaan NU akan Pancasila sebagai azaz tunggal. Ia dapat meyakinkan para kiai dari seluruh penjuru Nusantara yang mengikuti Munas tersebut.

“Dasar Negara (Pancasila) dan agama Islam adalah dua hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya tidak harus dipilih salah satu dengan sekaligus membuang yang lain,” demikian pidato Kiai Achmad Shiddiq dalam forum tersebut.

Keberhasilan Kiai Shiddiq tersebut, ternyata menyimpan rahasia. Jauh-jauh hari sebelum menyampaikan pidatonya tersebut, ia banyak berdialog dan meminta masukan dari para kiai. Baik secara langsung, maupun melalui perantara sekretarisnya, KH. Muchit Muzadi.

Salah seorang kiai yang menjadi rujukan Kiai Siddiq untuk berdiskusi itu, adalah KH. Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi. Kiai kelahiran 6 Maret 1919 tersebut, merupakan kiai sepuh di kalangan Nahdlatul Ulama Banyuwangi. Jadi tidak heran jika Kiai Shiddiq menjadikan pendiri Pesantren Darussalam tersebut sebagai partner diskusi untuk langkah-langkah besar NU.

Kesaksian akan hal ini, diutarakan oleh sekretaris pribadinya, KH. Muchit Muzadi. Dalam wawancaranya dengan Muhammad Fauzinuddin Faiz tersebut, kakak kandung Kiai Hasyim Muzadi tersebut menyatakan demikian:

“Sebelum acara Muktamar NU ke-27 [Munas, pen] tahun 1983 di Situbondo, KH. Achmad Shiddiq selalu berkunjung di kediaman KH. Mukhtar Syafaat untuk sharing dan meminta pendapat mengenai asas tunggal Pancasila dalam sudut pandang NU, sedikit banyak masukan yang didapat oleh Mbah Shiddiq terutama tentang penerimaan NU sebagai asas tunggal Pancasila.”

Kiai Syafaat yang merupakan santri dari Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari tersebut, memang dikenal memiliki sisi religiusitas dan nasionalitas yang sama kuatnya. Pandangan integralnya antar agama dan negara sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan memang telah tercermin sejak muda.

Hal tersebut, tersirat ketika ia kerap terlibat diskusi dengan KH. Wahid Hasyim. Putra Hadratusysyekh Hasyim Asy’ari yang menjadi anggota BPUPKI. Sebuah lembaga yang mempersiapkan ideologi negara Indonesia ketika kelak merdeka. Pandangannya pun cenderung integratif. Islam tak harus menjadi dasar negara yang formalistik. Tetapi, bisa menjiwai jalannya ideologi negara Republik ini.

Pandangan demikian dari Kiai Syafaat, bukanlah sesuatu yang aneh. Ia merupakan sosok kiai yang begitu akrab dengan pemikiran Imam Ghazali. Salah satu masterpiece Al-Ghazali, menjadi aurad yang senantiasa dibacanya secara istiqamah di pesantrennya hingga kini. Tentu saja, pemikiran sang hujjatul islam tersebut, menancap kuat dalam dirinya.

Sebagaimana jamak diketahui, Al-Ghazali memandang relasi agama dan negara sebagai sesuatu yang integral. Dalam karyanya yang lain, Al-Ghazali menandaskan demikian:

“Agama dan negara adalah saudara kembar. Agama adalah pondasinya, sedang negara adalah penjaganya. Sesuatu tanpa pondasi akan mudah runtuh, sedangkan sesuatu yang tanpa penjaga akan mudah hilang.”

Pandangan demikianlah yang besar kemungkinan juga menjadi pola pikir dari Kiai Syafaat. Tak heran jika ia menerima asas tunggal Pancasila. Karena ia tak melihat Pancasila sebagai suatu ideologi yang menegasikan agama. Tapi, suatu penjaga yang menjamin umat beragama untuk beribadah sebagaimana keyakinannya. Wallahua’lam. (AYUNG NOTONEGORO)