Home / Berita Aktual / Kiswah Az-Zarkasyi bahas Internalisasi Nilai-Nilai Aswaja di Era Globalisasi

Kiswah Az-Zarkasyi bahas Internalisasi Nilai-Nilai Aswaja di Era Globalisasi

Suasana Pembukaan Kiswah Az-Zarkasyi

Genteng, NU_Online bwi – Internalisasi Nilai-Nilai Aswaja di Era Globalisasi merupakan tema yang diangkat dalam KISWAH AZ-ZARKASYI di Auditorium KH. R. As’ad Syamsul Arifin IAI Ibrahimy Genteng pada Jum’at (18/3) kali ini.

Lantunan shalawat, puji-pujian dan tabuh-tabuhan terbangan menjadi suguhan awal sebelum kajian dimulai yang ditampilkan oleh grup hadrah IAI Ibrahimy, biasa dijuluki JAMUNIRO (Jama’ah Muji lan Niru Rasulullah).

KISWAH kali ini dihadiri oleh kalangan mahasiswa-mahasiswi, umum dan unsur dosen. Setelah pembukaan dimulai, Irfan Afandi, M.Si. M.M – Wakil Rektor III – menuturkan dalam sambutannya bahwa KISWAH AZ-ZARKASYI ini merupakan sebuah konsep baru dalam kajian Islam sosial Aswaja saat ini. Beliau berharap bahwa dengan adanya KISWAH ini, akan muncul intelektual-intelektual organisasi dan memiliki kepekaan dalam perubahan masyarakat. Beliau juga menambahkan bahwa terciptanya kader-kader militan yang mengkaji tatanan sosial masyarakat yang berimplikasi dalam kehidupan masyarakat.

Tak lupa juga, pembacaan al-Barjanji juga dibawakan sebelum kajian dimulai. KH. Ali Makki Zaini asal Desa Parijatah Kulon – Srono selaku pengasuh PP. Bahrul Hidayah menjadi narasumber di KISWAH kali ini.

Gus Makki, panggilan akrab KH. Ali Makki Zaini, mengawali kajian dengan pertanyaan, “Apa itu Aswaja ?” | “Seberapa akrab Anda dengan Aswaja ?”.

Peserta kajian ada yang menjawab bahwa Aswaja itu adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, ada juga yang menjawab Asli Warisan Jawa, tahlilan, mambaca do’a qunut dan lain sebagainya.

“Imam Syafi’i itu berfatwa bahwa do’a qunut itu adalah sunah ab’at saat melaksanakan shalat shubuh. Imam Malik, yang terkenal dengan Madzhab Malikinya itu berfatwa bahwa qunut itu bukan sunah ab’ad saat shalat shubuh. Apakah yang menganut Imam Malik itu bukan Aswaja ?” pungkas Gus Makki

“Dari sejarahnya, NU itu beberapa orang yang memiliki kepahaman yang sama cara beragama dan beritual, itu sudah banyak dan berdiri pada tahun 1926. Kalau orang tahlilan, selamatan itu sudah jauh sebelum NU berdiri. Kalau tidak percaya, di makam Sunan Drajat ada Kitab Fathul Qarib yang biasa dibaca oleh Sunan Drajat dan beliau sering membacanya. Jadi, isinya di Fathul Qarib itu hanya isinya yang kita amalkan sehari-hari selama ini. padahal Nu itu jauh di bawah Wali Songo.”

“Muhammadiyah itu bikin kurungannya terlebih dahulu kemudian isinya diseleksi dan dimasukan ke dalam kurungan. Kalau NU itu, isi yang sebanyak ini dimasukkan ke dalam kurungan tanpa ada seleksi.”

“Kita pahami Aswaja dengan cara ciri-cirinya saja. Ciri-ciri Aswaja dalam persoalan di bidang fikih, pasti akan bersumber dari salah satu Imam 4 Madzhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, sudah dipastikan dia adalah Aswaja. Sekelas Imam Bukhari, periwayat hadits, yang sering dibaca haditsnya itu bermadzhab Syafi’i.”

“Hierarki undang-undang di Indonesia itu yang pertama/paling ujung dari Pancasila, kemudian UUD 1945, lalu UU, PP, Perda dan seterusnya sampai ada undang-undang lalu lintas. Semua produk hukum bersumber dari Pancasila. Lampu merah itu berada di undang-undang lalu lintas, kalau lampu merah menyala itu berarti pengendara harus berhenti. Tapi, kita tidak pernah menemui polisi ketika menilang orang itu bicara bahwa Anda melanggar Pancasila, sila ketiga, soal lampu merah. Pasti polisi akan berkata, “Anda melanggar peraturan undang-undang lalu lintas”. Kalau, semua kitab-kitab kuning yang biasa kita pelajari itu bersumber dari al-Qur’an. Jadi, tidak perlu bicara, “Al-Qur’an segini, ayat ini dan seterusnya.”

“Kita sering menemui orang berbicara yang berbungkus dari al-Qur’an. Tapi, tidak mesti kalau yang dibaca dalam al-Quran itu benar. Lha membacanya (al-Qur’an) saja belum benar kok kemudian sudah berfatwa dari al-Quran.”

“Ilmu itu butuh sanad. Jadi, jangan pernah percaya kalau ada orang alim kalau ada gurunya/tidak punya guru !”

“Dewasa ini, lagi musim perdebatan di bidang fikih. Sering diperdebatkan itu berjenggot apa tidak, cingkrang apa tidak, berjubah apa tidak. Cingkrang enggaknya celana kan urusan si penjahit.”

“Itu semua (berjenggot, celana cingkrang, berjubah) merupakan bagian dari “tahsinat” atau memperbaiki/mempercantik diri. Soal memakai pensil, pakai celana apalagi memakai sarung itu tidak apa-apa, yangpenting menutup aurat.”

“Islam itu tidak mungkin diatur hanya dalam bidang fikih saja. Kalau hanya fikih saja, akan kaku, karena isinya halal, haram, mubah, makruh dan sunah. Maka dari itu diperlukanlah akidah. Sehingga kalau di akidah, kalau ada Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.”

“Bedanya yang paling sederhana antara al-Asy’ari dan al-Maturidi dengan yang lain adalah Allah Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil Hawaditsi, Qiyamuhu, Binafsihi, Wahdaniyyah, Qudrat Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam, Qaadiran, Muriidan, ‘Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiiran, Mutakalliman. Itu semua bersumber dari al-Asy’ari dan al-Maturidi. Oleh kerena itu, Wali Songo mengajari kepda orang tua-tua terdahulu dengan sumber tersebut sehingga mudah dalam mengajarinya.”

“Kalau di bidang akhlak, ada Imam al-Ghazali dan  Imam Junaid al-Baghdadi.”

“Muhammadiyah itu bukan lawan juga bukan musuh bagi NU. Sebenarnya Muhammadiyah itu adalah pesaing, bahasa kerenya adalah competitor.”

“Yang paling berbahaya itu adalah Syiah. Wahabi itu biasa-biasa saja, tidak pati bahaya. Wahabi itu pasti gurunya terputus/ tidak mempunyai sanad. Kalau Aswaj itu gurunya menyambung sampai ke Rasulullah SAW. oleh karena itu hierarki keilmuannya itu jelas. Pserti contoh, kalau ditanya tentang Ibrahmy, “Apa itu Ibrahimy jawabnya saya hanya, “Ibrahimy itu terletak di jalan ini, ada masjidnya, gedungnya tingkat”, sehingga jawabannya sesuai pengetahuan saja.”

“Beda kalau bertanya kepada dosen Ibrahimy, pasti jawabnya sampai ke dalam isi-isinya Ibrahimy mengetahuinya. Jadi, semua harus ada sanad/gurunya. Semua selesai/berakhir/berujung di Rasulullah SAW.”

“Ukuran Ahlussunnah Wal Jama’ah itu bisa dianaligokan seperti bahan baku dan bahan pengembangan. Pada jaman dahulu univesitas, perguruan tinggi, bisnis jual beli saham, multilevel marketing itu semua tidak ada di jaman Nabi SAW itu tidak ada, internet juga tidak ada di jaman Nabi SAW. Perkembangan/urusan dunia itu semua tidak bisa distop. Tapi, Aswaja punya bahan baku yang harus kita pertahankan, yaitu yang tidak bertentangan dengan ma’ana ‘alaihi wa ashhabi.”

“Selagi bertentangan tidak boleh ikut. Kalau tidak bertentangan boleh walaupun saat Kanjeng Nabi tidak ada. Saat shalat Jum’at adzan 2, kali pada zaman Nabi itu tidak ada, itu setelah adanya keputusan pemerintah Sayyidina Ustman r.a.”

“Contoh lagi, kalau ada orang meninggal kadang membaca surat al-Ikhlas sebanyak seribu kali dengan menghitung batu kerikil. Setelah itu kerikilnya dikumpulkan kemudian taruh di atas kuburan. Keluarga yang masih hidup bilang bahwa itu akan mengurangi siksa kubur. Ini bid’ah namanya, tapi surat al-Ikhlasnya, tidak. Kalau ada yang menganggap bahwa itu bid’ah bahkan syirik ya berarti orang itu kembali pada zaman Jahiliyyah, batunya kan cuma memperlancar di saat wiridan al-Ikhlas seribu kali.”

“Tarawih pada dewasa ini kan berjama’ah, tapi pada  zaman Kanjeng Nabi tidak ada jama’ah shalat tarawih. Rasulullah itu shalat sendirian, selesai di masjid tidak sampai usai. Shalat tarawih dengan satu imam itu dilakukan secara berjamaah itu di saat zaman Sayyidina Umar.”

“Bahwa tahlilan itu wajib, itu salah dan yang melarang untuk tidak tahlilan, itu tambah bodoh karena tidak bertentangan. Karena tidak bertentangan, maka budaya itu bisa masuk di Islam.”

“Perkembangan Islam tidak bisa lepas dari lepas, mulai akidah, syriah, fikih, akhlak. Hukum itu akan berkembang sesuai dengan sebab. Di Muktamar NU di Banjarmasin, hukumnya memakai dasi itu haram, karena menyerupai orang kafir yaitu Belanda. Setelah Belanda pergi dari Indonesia, berdasi jadi halal. Semua itu harus ada payung hukumnya.”

“Yang baku-baku itu dipertahankan sekuat tenaga dan semua yang baru-baru itu sifatnya tidak merusak yang baku-baku. Seperti haji di Pekalongan, itu merusak yang baku. Ziarah kubur itu tidak merusak yang baku sebenarnya, karena tidak ada yang menganggap bahwa kuburan itu sebagai Tuhan. Yang salah itu adalah yang meminta pertolongan kepada yang kuburan.”

*****

Quote dari Gus Makki yang paling mengena ialah

“Mendengarkan itu membutuhkan banyak tenaga | Orang bijaksana itu lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.”

“Ber-NU itu bukan pilihan, akan tetapi itu takdir.”

“Berperan di NU itu tidak harus menjadi pengurus NU secara struktural, namun bisa memulainya dari yang terkecil.”

(Awang/dir)

Comments

comments

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

Berikut Pesan PCNU Banyuwangi Saat Pelantikan Ansor Ranting Karangrejo

Banyuwangi – Mewakili Ketua PCNU Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Qosim menyampaikan pesan kepada seluruh jajaran pengurus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *