Home / Kabar Nahdliyin / Kyai Shiddiq : Uswatun Hasanah Dulu, Baru Amar Makruf Nahi Munkar

Kyai Shiddiq : Uswatun Hasanah Dulu, Baru Amar Makruf Nahi Munkar

Banyuwangi, NUOB – Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Banyuwangi merasakan prihatin atas pengamalan amal makruf nahi munkar yang mengakhirkan uswatun hasanah / keteladanan oleh masing-masing umat muslim.

Hal itu ia utarakan saat dimintai keterangan di kediamannya (Pondok Pesantren al-Anwari, Kertosari, Banyuwangi), Jum’at (16/8) pagi.

Dalam konsep paling sederhana melaksanakan amar makruf nahi munkar harus mengedepankan keteladanan terlebih dahulu bagi setiap individu, sebelum mengajak umat muslim lainnya. Sebagaimana telah ditauladankan oleh-oleh ulama yang turut berjuang besar mengantarkan kemerdekaan bagi bangsa ini.

“Sekarang, mudah ditemukan tokoh atau da’i singa-singa podium yang memberikan nasehat-nasehat keagamaan (mauidhah hasanah) melalui retorika belaka. Namun kurangnya dakwah tersebut dengan memberikan ketauladanan terlebih dahulu. Sehingga kita semua merasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya guru dan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang KH. Maimoen Zubair beberapa waktu lalu di tanah suci Mekkah,” tutur Kiai Shiddiq sapaan karibnya.

Baginya Mbah Moen laksana matahari yang terbit. Memberikan cahaya dan ketauladanan sikap kepada siapapun itu. Tidak tebang pilih. Kiai kelahiran 1928 itu kepada semua orang meneladankan: kebijaksanaan, tidak cinta dunia, jabatan, dan kebaikan lainnya. Lantas bagaimana dengan kita ? tanyanya.

“Amar makruf tidak mengedepankan retorika belaka, apalagi dengan kekerasan. Kekerasan adalah langkah paling akhir. Terpenting adalah uswatun hasanah. Pengamalannya sesuai dengan proporsi dan tanggungjawab kita masing-masing. Jika tidak mampu melaksanakan, berikan nasehat melalui ucapan yang santun. Masih belum mampu, perlu adanya sambungan doa (bil qolbi). ‘Ya, kita doakan saja, semoga pemimpin kita (yang membidangi permasalahan masing-masing) diberikan kekuatan, jalan keluar, dan kelancaran dari Allah SWT’. Sekali lagi, tidak dibenarkan dengan menggunakan kekerasan. Apalagi saling caci dan fitnah sesama umat muslim. Dakwah itu mengajak dan merangkul, bukan mengejek,” tegas Kiai Shiddiq.

Lebih jauh, ia memberikan keterangan untuk mengamalkan konsep amal makruf nahi munkar sesuai dengan bagian masing-masing. Sebagai seorang guru mengajarkan ilmu dan meneladankan kebaikan-kebaikan kepada muridnya. Sebagai seorang anak ataupun murid dengan menyangi, berbakti kepada kedua orangtuanya, hingga terus belajar yang tekun. Dan sebagainya.

“Merujuk Qs. al-Imron ayat: 110. Secara gamblang menerangkan bahwa kita semuanya adalah umat yang terbaik, yang diperintahkan untuk mengamalkan amar makruf nahi munkar. Karenanya, kita harus bersemangat untuk terus menebar kebaikan dan kemanfaatan kepada yang lainnya sesuai dengan bagian masing-masing. Karena hidup harus banyak memberikan kenangan baik yang bermanfaat kepada siapapun, sebagaimana Mbah Moen teladankan kepada kita. Semua menangis dan merasa kehilangan atas kepergian ulama yang dicintai semuanya,” tutup Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwari, Kertosari, Kabupaten Banyuwangi. (sholeh/nuob)



Comments

comments

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

PAC IPNU IPPNU Muncar Gelar Pengajian Aswaja

Muncar, Banyuwangi – PAC IPNU IPPNU Kecamatan Muncar menggelar kegiatan pengajian Aswaja di dusun Sukosari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *