LTN NU Banyuwangi dan Komunitas Pegon Gelar Bedah Novel Tentang Santet

BANYUWANGI, NUOB – Pengurus Cabang Lajnah Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama ( LTN NU) Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pegon, Jumat (28/12) menggelar bedah novel berjudul Perempuan Bersampur Merah, karya novelis Intan Andaru di Kantor taman belakang kantor PC NU Banyuwangi.

Hadir dalam acara ini, ketua Lesbumi NU Banyuwangi, Taufik WR Hidayat, Katib Syuriah PC NU Banyuwangi KH. Sunandi Zubaidi , Editor Bahasa Radar Banyuwangi, Dessy Ariyani dan Novelis Perempuan Bersampur Merah, Intan Andaru.

Selain itu, juga hadir para budayawan dan seniman Banyuwangi, tokoh agama di Banyuwangi dan berbagai praktisi di Banyuwangi. Dalam sambutanya KH. Sunandi Zubaidi mengapresiasi kegiatan bedah buku ini. Acara semacam ini menurutnya  menambah pengetahuan masyarakat, terlebih lagi cerita dalam buku yang dibahas ini menyangkut tentang peristiwa yang pernah terjadi di Banyuwangi.

“Saya rasa kegiatan semacam ini perlu dilestarikan. Karena sangat penting sekali terutama untuk generasi mudah. Saya yakin anak muda yang kelahiran tahun 2000 ke atas belum tau sejarah ini,” ucapnya,

KH. Sunandi berharap, hasil diskusi ini bisa bermanfaat dan menghasilkan pengetahuan terutama bagi generasi muda ke depanya.

Ketua Lesbumi NU Banyuwangi Taufik WR Hidayat mengatakan, kata Santet sendiri sebenarnya di kalangan masyarakat Banyuwangi merupakan ritual yang umum, dan tidak mengarah pada tindak kriminal seperti yang terjadi pada tahun 1998 lalu.

” Tapi karena pemahaman masyarakat yang berbeda maka terciptalah kejadian kriminal. Karena di Banyuwangi seindiri terdiri dari beberapa suku dan etnis. Seperti suku Madura, Jawa, dan Bugis. Sehingga bagi mereka yang tidak sefaham memaknai isu santet ini dengan pandangan yang berbeda,” kata Taufik.

Sementara itu menurut salah satu  pemerhati sejarah  Banyuwangi Suhailik mengatakan, isu tragedi dukun santet yang terjadi pada tahun 1998 lalu tidak lepas dari dinamika politik. Karena pada saat itu menjelang bangkitnya era reformasi.

” Sehingga pada saat itu pergolakan politik termasuk di Banyuwangi sangat besar ,” uju Suhailik

Bahkan tragedi dukun santet ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi saja. Melainkam terjadi di daerah lain, seperti di Jember dan sebagian Jawa Tengah.

“Namun yang terbesar korbanya ada di Banyuwangi yang mencapai ratusan korban jiwa”, tegas Suhailik

Sementara itu, Ketua PC LTN NU Banyuwangi Syaifudin Mahmud mengatakan, kegiatan beda buku ini merupakan agenda rutin dari LTN NU Banyuwangi. Tujuanya agar masyarakat mendapatkan wawasan lebih banyak.

“Sebelumnya kita juga telah mengadakan pelatihan jurnalistik dan relawan medsos yang diikuti oleh seluruh pengurus MWC NU se Banyuwangi. Karena LTN NU ini merupakan ujung tombak dari PC NU Banyuwangi”, kata Saifudin.

Kedepan LTN NU juga akan melakukan kegitan bedah buku lainya yang menyangkut tentang sejarah di Banyuwangi. Agar kejadian bersejarah di Banyuwangi bisa diketuai oleh generasi muda NU.

Kegiatan beda buku ini dilanjutkan dengan diskusi membahas tragedi dukun santet 1998 dan membahas buku Perempuan Bersampur Merah. Dengan bertindak sebgai moderator Wakil Sekertaris PC NU Banyuwangi Barurrahim. (Her/Jo)

 

 

Comments

comments

Check Also

LAZISNU Muncar Santuni Yatim- piatu di Haul Raden Darissalam

MUNCAR, NUOB – Tiada hari tanpa berbagi. Lembaga Amil Zakat dan Sodaqoh NU (LAZISNU) kembali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *