Breaking News
Home / FIKROH NAHDLIYAH / Mi’raj di Era Globalisasi

Mi’raj di Era Globalisasi

oleh: Ayung Notonegoro

Hari besar umat Islam yang senantiasa diperingati setiap tahun, terutama umat Islam Indonesia adalah peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa dimana Nabi Muhammad diperjalankan pada waktu malam (isra’) oleh Allah dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerussalem), lalu diangkat (mi’raj) menuju ke Sidratul Muntaha di ‘langit ketujuh.’ Peristiwa yang terjadi pada tahun 612 Masehi atau bertepatan dengan tanggal 27 Rajab tahun kesebelas kenabian ini merupakan peristiwa yang luar biasa karena Nabi dapat menempuh jarak yang begitu jauh, yang mustahil dikala itu, ditempuh hanya dalam kurun waktu tidak sampai setengah malam.

Peringatan isra mi’raj yang dilaksanakan tiap tahun tidak boleh terjebak pada kegiatan seremonial dan rutinitas belaka. Peringatan adalah sebuah upaya untuk mengenang dan mengambil pelajaran dan hikmah atas peristiwa yang diperingati tersebut. Peringatan akan menjadi lebih terasa apabila peringatan itu mampu menjadi jawaban atas permasalahan dikala peringatan itu dilaksanakan. Peringatan isra mi’raj pun seharusnya mampu memberikan inspirasi atas kejadian yang dihadapi saat ini.

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa isra mi’raj. Setidaknya ada dua hal yang terkait dengan latar belakang terjadinya isra mi’raj dan tentang ajaran yang terdapat padanya. Menurut para ulama dan sejarawan muslim, diantaranya Syekh Khudori Bek dalam kitabnya, Nurul Yaqin, menjelaskan bahwa latar belakang peristiwa isra mi’raj adalah ammul huzni (tahun kesedihan). Dimana pada saat itu Nabi ditinggal wafat dua orang penting yang mendukung misi dakwahnya yaitu Abu Tholib sebagai pamannya dan Siti Khodijah sebagai istrinya. Kesedihan Nabi semakin bertambah dikala siksaan kafir Quraisy yang semakin meningkat serta penolakan dan juga siksaan suku Tsaqif di Taif atas risalah Islam yang dibawanya. Untuk menghibur Nabi dan memberikan motivasi semangat berdakwah, Allah lalu meng-isra mi’raj-kan Nabi-Nya tersebut.

Dalam peristiwa isra mi’raj ini pula awal mula diperintahkannya sholat wajib lima waktu. Diceritakan dalam buku-buku sejarah bahwa pada mulanya Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan sholat 50 (limapuluh) waktu dalam sehari semalam, namun dengan saran Nabi Musa as. Nabi memohon keringanan kepada Allah. Setelah beberapa kali negoisasi akhirnya disepakati oleh Allah bahwa sholat yang diwajibkan hanya lima waktu. Perintah yang lansung dititahkan Allah kepada Muhammad dengan saling bertatap muka (Muwajjahah), ini sebagai bentuk betapa pentingnya perintah ibadah sholat dibanding ibadah-ibadah lainnya. Perintah sholat pada peristiwa isra mi’raj juga diartikan sebagai bentuk isra mi’raj bagi umat Islam. Dengan artian sholat menjadi media penghibur dan perantara untuk berkomunikasi dengan Allah.

Untuk mencapai kesan yang mendalam pada peringatan isra mi’raj dengan hikmahnya diatas diperlukan pemetaan permasalahan yang terjadi saat ini. Saat ini banyak orang menyebutnya sebagai era globalisasi, era dimana terjadinya keseragaman dalam satu garis besar dunia. Ciri utamanya adalah terjadinya transparansi (keterbukaan/ the end of secret) dan liberalisasi (persaingan bebas). Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa globalisasi merupakan dampak yang ditimbulkan oleh industrialisasi dan penggunaan teknologi dalam segala bidang kehidupan, terutama teknologi informasi. Maka para pemikir mengajukan kritik tajam terhadap teknologi dan globalisasi yang menjadi dampaknya, mereka menyebutnya dengan the human cost of technology.

Dengan kondisi ini setidaknya terdapat lima biaya yang harus dibayar oleh masyarakat, yaitu: pertama, teknologi dan globalisasi telah menghilangkan keragaman dan menstandarisasi kehidupan. Orang hanya sebagai sekrup dari mesin raksasa yang menghilangkan spontanitas dan kebebasan, sebab manusia harus seperti mesin. Kedua, teknologi dan globalisasi menyebabkan fragmentasi, spealisasi, dan kuantifikasi. Ongkos yang harus dibayar dari kenyataan ini menjadikan pekerjaan kehilangan makna. Ketiga,ia melahirkan impersonality (hilangnya rasa persaudaraan) atau manipulasi. Keempat, ia seringkali juga berkembang tanpa kendali sehingga membuat masyarakat tidak berdaya dan putus asa (hopless). Kelima, ia menyebabkan alienasi (keterasingan) manusia, sebab terasing dari Tuhan, sesama mereka dan alam.

Dari kelima hal tersebut yang ditimbulkan oleh teknologi dan globalisasi tidak sedikit menjerumuskan manusia menjadi stres, frustasi, ketidakberdayaan, intoleran, keserakahan dan lainnya yang terakumulasi dalam satu hal, yaitu kesedihan. Kehidupan yang bergelimang materi duniawi pada hakikatnya tidak menjamin kebahagian psikologis. Banyak orang yang kaya secara materi, tapi tidak bahagia pada jiwanya. Mereka mengkonsumsi narkoba, menegak minuman keras, bahkan sampai bunuh diri karena tidak kuat menghadapi ‘kesedihan’ yang menjadi ekses dari era globalisasi ini.

Kesedihan psikologis masyarakat yang disebabkan dampak dari kemajuan teknologi dan globalisasi diatas tak ubahnya kesedihan psikologis yang dialami Nabi. Meskipun berbeda latar belakang namun pada dasarnya menyebabkan seseorang tidak berdaya dan perlu hiburan. Jikalau media penghibur yang disediakan saat ini, seperti narkoba dan minuman keras tak memberikan efek kebahagiaan yang positif dan hakiki, maka media ‘hiburan’ yang dialami Nabi dengan peristiwa isra miraj-nya merupakan media yang paling tepat untuk menghadirkan kebahagiaan yang positif dan hakiki.

Isra mi’raj umat islam tidaklah sama dengan isra mi’raj yang dilakukan Nabi. Tetapi Allah memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk turut menikmati ‘hiburan’ laksana isra mi’raj dengan melaksanakan sholat. Sholat bukanlah semata-mata kewajiban para hamba kepada Allah, tetapi sholat juga merupakan perintah yang memberikan dampak positif bagi para pelakunya. Abdul Wahab Kholaf dalam bukunya yang berjudul Ilmu Ushul Fiqh menjelaskan bahwa pada hakikatnya setiap perintah syariat Islam itu berdampak positif terhadap pelakunya, dan begitu pula sebaliknya.

Sholat banyak memberikan manfaat bagi manusia, baik secara fisik maupun psikis. Dampak sholat pada sisi psikis inilah yang mampu menghilangkan kesedihan yang dialami manusia. Hal ini disebabkan sholat merupakan salah satu media untuk mengingat Allah, sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Thoha ayat 14 : aqimishsholaata lidikriy (dirikanlah sholat untuk mengingatku). Ayat ini mengajarkan bahwa sholat merupakan media untuk ber-dzikir (mng mengingat) kepada Allah. Sehingga dengan berdzikir itulah hati akan tentram, sebagaimana diungkapkan dalam al-qur’an: hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram (QS. Ar Ra’d 13:28).

Keterkaitan antara sholat, dzikir, dan ketentraman hati bukanlah ajaran doktrinal belaka, namun merupakan fakta yang ilmiah. Dr. Herbert Benson dari Harvard Medical Faculty pada tahun 1996 mempublikasikan hasil risetnya yang menyatakan bahwa penyembahan (sholat) dan kepercayaan (iman) kepada Allah menimbulkan pengaruh lebih positif terhadap kesehatan mental seseorang. Begitu pula yang dikemukakan oleh Patrick Glynn dalam bukunya God: The Evidence bahwa riset ilmiah dalam psikologi selama 25 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa kepercayaan agama merupakan korelasi paling konsisten dari kesehatan mental dan kebahagian secara umum. (Harun Yahya: Miracles of The Qur’an, 2001).

Sholat yang mampu menghadirkan ketentraman hati akan membuat prilaku seseorang semakin baik. Sholat akan mencegah seseorang melakukan perbuatan buruk dan munkar (QS 29:45), sehingga orang tersebut akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam al-qur’an lebih dari limapuluh ayat yang memerintahkan sholat yang diiringi dengan perintah mengeluarkan zakat. Hal ini mengndikasikan bahwa sholat tidak hanya berdimensi individualistik antara hamba dan Tuhannya, namun juga berdimensi sosial dengan menjadikan sholat sebagai kaatalisator perbaikan sosial. Maka, sholat tidak hanya mampu menghilangkan kesedihan pada diri sendiri namun juga bisa menghilangkan kesedihan yang dialami oleh orang lain.

Dengan demikian sholat yang menjadi topik utama dalam peringatan isra mi’raj akan menemukan keterkaitan momentum jika dikorelasikan dengan dampak teknologi dan globalisasi yang mewariskan beragam bentuk kesedihan (juga kebaikan) kepada umat manusia. Hal tersebut akan mampu memberikan makna yang relevan terhadap peringatan isra’ mi’raj. Sehingga peringatan isra mi’raj tidak terkungkung pada seremonial dan rutinitas belaka.

*) Wakil Ketua 1 PC IPNU Kab. Banyuwangi.

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

Kyai Said : Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU

Jakarta, NU Online Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *