Home / Tokoh / Pesantren Nurul Huda dan Wasiat Kiai Hamid untuk Kiai Dailami
Papan nama Pesantren Nurul Huda

Pesantren Nurul Huda dan Wasiat Kiai Hamid untuk Kiai Dailami

Tak jauh dari Bandara Blimbingsari, tepatnya di sisi utara, ada pesantren yang cukup tua. Nurul Huda namanya. Pesantren yang berada di Desa Badean itu, didirikan oleh KH. Dailami Ahmad. Ada cerita panjang dari pesantren tersebut. Begitu pula dengan pendirinya.

Kiai Dailami adalah putra dari Kiai Ahmad Bahaudin dan Srimunah. Dari ayahnya mengalir darah dari Tuban. Kiai Ahmad sendiri merupakan putra Haji Nur Ali dengan Nyai Hayatun. Yang mana, Hayatun adalah putri dari seorang perantau dari Tuban, KH. Umar Yahya, yang datang ke Badean, Banyuwangi. Sementara ibu Kiai Dailami merupakan putri dari KH. Djuwaini yang berasal dari Barengan, Sumenep, Madura.

Berasal dari kalangan pesantren, Dailami pun tak jauh-jauh dari pendidikan khas Nusantara tersebut. Setelah belajar mengaji di kampung kelahirannya, ia melanjutkan ke Pesantren Darunnajah Tukangkayu. Di pondok yang didirikan oleh KH. Harun Abdullah itu, ia nyantri sekaligus menempuh pendidikan formal di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Banyuwangi.

Setelah rampung belajar di Darunnajah, anak muda kelahiran Badean, 26 November 1935 itu, melanjutkan ke Pesantren Tremas. Besar kemungkinan ini merupakan rekomendasi dari Kiai Harun yang juga pernah mengenyam ilmu di sana. Namun, di pesantren yang diasuh KH. Dimyati itu, Dailami hanya bertahun setahun lebih. Ia lantas pindah ke Pesantren Lasem yang diasuh oleh KH. Maksum.

Di Lasem, Dailami cukup lama belajar. Tak kurang 7 tahun lamanya. Bahkan, sampai menjadi ustaz senior di sana. Ia mengampu pelajaran yang cukup tinggi, seperti halnya Jam’ul Jawami’.

Selain belajar di Lasem, pada masa itu, juga menjadi santri kelana ke berbagai pesantren. Seperti kepada Kiai Baidlawi Lasem dan Kiai Ahmad bin Hasan Asyari Poncol Salatiga.

Pada dekade 60-an, Dailami mengakhiri pengembangan ilmunya. Ia pulang ke Banyuwangi. Namun, tak langsung pulang ke kampungnya. Ia singgah di bekas pesantrennya di Darunnajah. Ia mengabdi seraya mengajar.

Pada 1966, ia baru pulang ke Badean. Di sana ia membantu Kiai Nawawi untuk merintis madrasah. Atas tangan dingin Dailami, berdirilah Madrasah Ibtidaiyah Al-Inayah yang eksis hingga saat ini.

Tak hanya mengajar di madrasah, Dailami juga menggelar pengajian di beberapa tempat. Seperti di kediamannya dan juga masjid Badean. Dari pengajian kampungan inilah, kelak menjadi cikal bakal Pesantren Nurul Huda.

Atas waqaf dari orang tuanya dan beberapa orang paman dan bibinya, dibangunlah pesantren. Sejak 1974, secara bertahap, pembangunan dan pengembangan terus dilakukan. Hingga berdiri pesantren, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Nurul Huda sebagaimana yang diketahui hingga dewasa ini.

Dalam proses pembangunan pesantren tersebut, terdapat kisah penting dalam hidup Kiai Dailami. Yakni, pada saat membangun musala pesantren. Kala itu KH. Abdul Hamid Pasuruan didaulat menjadi peletak batu pertamanya. Ulama yang masyhur sebagai waliyullah itu, berwasiat pada Kiai Dailami.

“Ojo leren leren ngajar,” demikian pesannya.

Kalimat tersebut dipahami oleh Kiai Dailami sebagai perintah untuk berdedikasi pada keilmuan hingga akhir hayat. Dan, itu benar-benar dijalankan oleh Kiai Dailami. Ia tak hanya mengajar di madrasah atawa pesantrennya sendiri. Namun, juga tercatat di beberapa pesantren.

Seperti halnya mengajar di Ma’had Aly Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Pesantren Bustanul Makmur Genteng, Pesantren Darussalam Blokagung dan sejumlah majelis lainnya di tengah masyarakat. Hal tersebut, dilakukan hingga akhir hayatnya.

Tiga hari sebelum wafat, 13 Februari 2015, ketika kondisinya mulai drop, ia tetap mengajar. Meski tertatih, beliau meneruskan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin kepada para santrinya. Bahkan, beberapa jam sebelum meninggal, ketika sudah dirawat di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Rogojampi, beliau masih sempat mengabsen para santrinya untuk mengaji.

“Almarhum ingin mengaji Kitab Bidayatul Hidayah saat itu. Hingga saat ini pun, pengajian Bidayah terus dilakukan. Sebagai wasiat,” tutur menantunya, Gus Kholili kepada NU Online, Kamis siang (2/5/2019).

Demikianlah kisah seorang pecinta ilmu, hingga ajal di depan mata, masih terbayang hasrat untuk ilmu. (Ayung Notonegoro)

Comments

comments

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

Cara Kiai Saleh Mendapatkan Kitab-Kitabnya

Banyuwangi, NUOB – KH. Kiagus Muhammad Sholeh Syamsudin atau lebih populer dengan nama Kiai Saleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *