Musala Mambaul Hikmah peninggalan Kiai Asmuni

Tirakat Kiai Asmuni Popongan

Pesantren Tebuireng Jombang disatroni oleh rampok. Kawanan penjahat itu membawa parang yang mengkilat. Menerobos kegelapan malam. Beberapa santri yang berjaga, dibuatnya tunggang langgang.

Mengetahui hal tersebut, Asmuni, seorang santri kelana dari Banyuwangi, segera beraksi. Para rampok itu dihadapinya seorang diri. Tanpa membawa senjata apapun. Saat berhadap-hadapan, ia hanya berdehem. Sontak, para rampok dibuat kelu. Parang yang mengkilat itu berjatuhan dengan sendirinya hingga akhirnya melarikan diri.

Kisah semasa muda Kiai Asmuni itu, diceritakan lagi kepada santrinya yang bernama Masduki beberapa puluh tahun berikutnya. Ilmu kanuragan yang demikian itu, bukan tanpa sarat. Ada serangkaian laku tirakat yang harus dilaluinya.

“Kulintang kulinting // Didelok ora ketok // Didemek ora kenek,” demikian wirid yang diamalkan Kiai Asmuni sebagaimana yang ditirukan oleh Masduki untuk #KomunitasPegon

Tak sekadar melafalkan wirid berbahasa Jawa itu saja. Untuk meraih ilmu demikian, Asmuni harus menjalani pula puasa ngerowot selama 40 hari. Yaitu, puasa yang hanya boleh memakan dedaunan atau sejenis sayur-sayuran belaka. Namun, untuk memakannya, tidak boleh mengambil dengan tangan. Daun hanya boleh dimakan langsung dari dahan dengan mulutnya.

“Tangannya ditaruh di belakang punggung,” kisah Masduki.

Kiai Asmuni memang dikenal sebagai ulama pilih tanding. Tidak hanya dikenal memiliki ilmu kedigdayaan, tapi juga masyhur dengan penguasaan ilmu agama yang mendalam. Selain pernah nyantri di Tebuireng, juga pernah mengenyam pendidikan di beberapa pesantren tanah Jawa. Banyuwangi dan Sarang diantaranya.

Leluhur Kiai Asmuni berasal dari Gombolirang, Kabat. Ayahandanya yang bernama Busyairi adalah putra dari Kiai Sakit yang menjadi sesepuh di Gombolirang. Namun, Asmuni tumbuh berkembang di Dusun Popongan, Beneran Lor, Kabat.

Keilmuan Kiai Asmuni yang mendalam, banyak dipergunakan untuk berjuang di tengah masyarakat. Berdakwah keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Baru kemudian, di usianya yang menjelang sepuh ia mendirikan pesantren di kediamannya. Hal tersebut dilakukan setelah mendapat perintah dari KH. Abdul Hamid Pasuruan.

Cara mengajar Kiai Asmuni terhitung berat bagi para pemula. Seperti halnya saat mengajar mengaji. Santrinya tak sekadar diajari cara membaca, namun berbagai keilmuan terkait juga tak luput diajarkan seketika itu.

“Setelah diajarkan, harus langsung dihafal,” kenang Masduki.

Hingga akhir hayatnya, Kiai Masduki tetap istiqomah di jalur dakwah. Tetap gemar berpuasa dan senantiasa mengkhatamkan al-Quran sebagai laku tirakat. (Ayung Notonegoro)

Comments

comments

Check Also

Sukarni dan Pesantren Banyuwangi

Jika menyebut nama Sukarni, maka kenangan kita pada pahlawan nasional itu, adalah episode sejarah menjelang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *