Breaking News
Home / Tokoh / Tolchah Mansoer dan Cita-Cita Organisasi Pembelajar
Tolchah Mansoer

Tolchah Mansoer dan Cita-Cita Organisasi Pembelajar

oleh: Lukman Hadi Abdillah, M.PdI*

“Masyarakat Pembelajar (learning society) akan lahir jika IPNU bisa memosisikan diri sebagai Organisasi Pembelajar (learning organization). Konsep Organisasi Pembelajar (OP) dipopulerkan oleh Peter Senge (1995) dalam The Fifth Discipline. Karakteristik OP adalah adanya budaya belajar yang sangat kuat pada setiap anggota organisasi. Dalam Organisasi Pembelajar, yang diperlukan bukan hanya menghasilkan produk, tapi juga melakukan peningkatan dan terobosan – terobosan”. ( Nur Hidayat, 2003 )

Sinergitas Sosok Santri, Akademisi dan Aktivis

KH. Prof Mohammad Tolhah Mansoer (1930-1986), putra dari KH. Mansoer. Beliau lahir di Malang pada tanggal 10 September 1930. Istri beliau bernama Umroh Mahfudzah, putri dari KH. Wahab Chasbullah kemudian dikaruniai anak 3 laki-lali dan 4 perempuan. Beliau wafat pada 20 Oktober 1986 setelah dirawat di Rumah Sakit Sarjito karena penyakit jantung.

Mengenai pendidikan beliau, beliau mengawali pendidikankanya di SR-NU pada tahun 1937, kemudian tahun 1945-1947 beliau lanjutkan ke SMP islam namun tidak sampai lulus. 1949 beliau melanjutkan pendidikannya di Taman Madya kemudian Taman Dewasa Raya (setara SLTA) selesai pada tahun 1951. Talhah melanjutkan ke jenjang perkuliahan pada tahun 1951 di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Budaya (HESP) Universitas Gadjah Mada, namun beliau berhenti kuliah pada tahun 1953. Kemudian pada 1959 beliau lanjutkan kuliah sampai mendapat gelar Sarjana Hukum pada 1964, kemudian di lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hingga mendapat gelar doktor dalam bidang Hukum ketatanegaraan di bawah bimbingan Prof. Dr. Abdul Ghaffar Pringgodigdo, dan berhasil memperhahankan desertasi dengan judul Pembahaasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan Eksekutif Dan Legislatif Negara Indonesia.

Setelah menuntaskan kuliahnya Thalhah, selain sibuk dalam kegiatan organisasi beliau juga sibuk dalam mengajar di perguruan tinggi di IAIN sunan Kalijaga, beliau juga mengajar di IKIP Yogyakarta, IAIN Sunan Ampel dan Akademi Militer di Magelang. Beliau juga pernah menjadi Direktur Akademi Administrasi Niaga Negeri (1965-1975), menjadi Rektor Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang (1970-1983), Rektor Perguruan Tinggi Imam Puro, Purworejo (1975-1983) serta menjadi Dekan Fak. Hukum Islam di Universitas Nahdlatul Ulam di Surakarta.

Mengenai kepesantrenan, Thalhah berasal dari keluarga yang hidupnya di pesantren, makanya selain beliau belajar dalam pendidikan-pendidikan formal beliau juga tidak meninggalkan atau tidak lupa akan pendidikan agama yang mana beliau peroleh dari pendidikan pesantren. Thalhah beliau pernah menimba ilmu di pesantren-pesantren besar di Indonesia. Antara lain pesantren Tebu Ireng Jombang, Pesantren Lasem Rembang dan pesantren lainnya. Tak jarang beliau juga mengikuti pesantren kilat atau modok “puasanan”.

Mantan Rektor Universitas Hasyim Asy’ari ini dalam perjalanan hidupnya juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan organisasi. Banyak organisai-organisasi yang pernah beliau ikuti dan hingga Akhirnya beliau juga dapat memprakarsai berdirinya sebuah Organisasi Pelajar  Nahdlatul Ulama IPNU bersama rekan-rekannya yang lain.

Kegemarannya berorganisasi begitu tinggi, hingga pada tahun 1953 dia rela meninggalkan sementara kuliahnya guna mengembangkan kepekaannya terhadap kehidupan masyarakat dan juga menyalurkan bakat kepemimpinannya. Selama beliau berada di Djokdjakarta beliau pernah memegang jabatan sebagai ketua di Departeman Penerangan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII), dan juga pernah menjadi Ketua I Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk wilayah Jogjakarta. Beliau pernah juga menjadi Wakil Ketua Panitia Kongres Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia.

Thalhah berhasil menorehkan sejarah ketika mencetuskan lahirnya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) dan gagasan tersebut disetujui pada acara Konferensi Ma’arif Nahdlatul Ulama di Semarang pada tanggal 20 jumadil akhir 1973 bertepatan dengan 24 pebruari 1954. Dan mulai saat itu Moh. Thalhah tercatat sebagai pendiri IPNU secara aklamasi dan ditunjuk sebagai ketua umum pertama organisasi ini dan terus terpilih menjadi ketua umum IPNU dalam rentetan tiga Muktamar, Muktamar I di Malang (1955), Muktamar II di pekalongan (1957) dan Muktamar III di Cirebon (1958). Dari organisasi yang dicetuskan Thalhah ini pula, kemudian lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Menyusuri perjalanan hidup Mohammad Tolhah Mansoer kita akan menyusuri masa silam yang penuh inspirasi dan kekaguman. Beliau adalah potret ideal generasi bangsa. Dikatakan luar biasa karena ia tumbuh menjadi tokoh berbagai dimensi, yaitu aktifis, akademisi/intlektual dan seorang kiai/ santri. Dan dalam kepribadian beliau selalu dekat dangan masyarakat dan hidup dalam kesederhanaan.

Mewujudkan masyarakat pembelajar atau generasi pembelajar adalah cita-cita beliau yang kemudian itu mnelahirkan terbentuknya IPNU. Sebuah organisasi kader NU yang diaharapkan menjadi organisasi yang berkembang menghasilakan kader-kader yang terpelajar dan memiliki I’tikad pengabdian yang tinggi. Mohammad Tolhah Mansoer dengan tegas menginkan kader IPNU “membumi” dan tidak tercerabut dari masyarakat.kader IPNU harus melakukan kerja-kerja nyata dalam masyarakat, dalam hal ini Mohammad Tolhah Mansoer mengatakan :

“Sifat yang karakteristik ada pada IPNU ini pada hakekatnya untuk tidak menjadikan IPNU ini merasa golongan elit, merasa mempunyai harga diri yang besar dan penuh dengan kecongkaan oleh karena dirinya termasuk golongan terpelajar. Tidak, sifat dan pengetahuan serta jiwa kekiyaian dan kesantrian harus tetap ada. Kita jangan membuat diri kita terpisah dari masyarakat. Dan harus kembali pada masyarakat serta berkecimpung didalamnya. Untuk itu, sekalipun Nampak perbedaan yang jauh kecakapan otak kita dari masyarakat, adalah tidak bijaksana kalau kita menganggap kita ini golongan bangsawan fikir. Tidak. Kita berpengetahuan adalah  untuk menjadikan pedoman bagi kita, dan atas dasar itu kita memimpin masyarakat kelak. Dan, oleh karenanya kita tidak saja dekat dan menjahui masyarakat,tetapi, sekali lagi, terjun berkecimpung kedalam dan didalam masyarakat”

Dari apa yang disampaikan Mohammad Tolhah Mansoer jelas beliau menginkan adanya organisasi yang mencetak kaum terpelajar/ intlektual yang arif bijaksana, juga berhidmat nyata pada masyarakat.

Dimensi organisasi Pembelajar

Organisasi pada dasarnya seperti mahluk hidup yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk beradapatasi dengan lingkungan.  Strategik organisasi yang sangat cepat dalam berbagai dimensi, seperti teknologi, sosial, ekonomi, perundangan , globalisasi, dll. menuntut organisasi untuk mampu  beradaptasi pada perubahan itu.

Apabila organisasi terlambat utk berubah maka sangat besar kemungkinan organisasi akan mundur kinerjanya bahkan, dapat punah. Oleh karena itu suatu hal yang harus dilakukan oleh organisasi untuk tetap bertahan dan bekembang ialah apabila dia mempelajari perubahan lingkungan strategik dan segera beradaptasi pada perubahan itu.

Beberapa dimensi perlu ada untuk menjadikan organisasi dapat terus bertahan.

Organisasi seperti ini dinamakan organisasi pembelajar, karena dimensi-dimensi ini akan memungkinkan organisasi untuk belajar, berkembang, dan berinovasi. Dimensi-dimensi tersebut adalah

1) Model mental

2) System thinking

3) Shared Vision

4) Personal Mastery  dan

5) Team Learning.

Kelima dimensi organisasi pembelajar ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk  mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan  mengantisipasi perubahan di masa depan.

Sebenarnya organisasi pembelajar yang nantinya akan turut membentuk masyarakat pembelajar (learning society) sudah dicontohkan secara nyata oleh Rosulullah SAW, yakni ketika Beliau senantiasa mengumpulkan para sahabat diDarul Arkom, bukan hanya membicarakan tentang agama tetapi disini Nabi juga memberikan pelajaran berbagai hal kepada para sahabat. Pentingnya belajar ini juga ditegaskan didalam Al Qur’an yang dalam artinya “ apakah sama orang yang berpengetahuan dan tidak berpengetahuan” bahakan dalam sejarah kita juga sering membaca bagaimana ditenga-tengah kesibukan berdakwah bahkan dalam kondisi berperang sahabat-sahabat tetap tidak meninggalkan Belajar, musyawarah dan berdiskusi tentang keilmuan.

Konsep organisasi yang dicita-citakan oleh Mohammad Tolhah Mansoer adalah organisasi yang anggotanya kemudian menjadi kaum terpelajar. Karena organisasi yang dididalamnya penuh kesemangatan untuk belajar akan senantiasa eksis. Dan mampu melahirkan kader-kader yang mampu berhidmah kepada masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.

*) Ketua PC IPNU Banyuwangi masa khidmat 2009-2011

About pcnubwi

Situs Resmi PCNU Banyuwangi

Check Also

Pesantren Nurul Huda dan Wasiat Kiai Hamid untuk Kiai Dailami

Tak jauh dari Bandara Blimbingsari, tepatnya di sisi utara, ada pesantren yang cukup tua. Nurul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *