Yai Mad; Oase Bakda Magrib Blokagung

Saat Kanjeng Nabi sedô, umat kelimpungan. Tidak siap secara emosional. Sayidina Umar naik pitam mendengar kabar meninggalnya Kanjeng Nabi. Beliau hendak memotong urat leher siapapun yg berani mengatakan kalau Sang Kinasih itu mangkat ke arrafiiqil a’laa. Hanya suara rafiiqil ghaar Sayidina Abu Bakar yang menenangkan batin dan gejolak emosional Sayidina Umar.

Sayidina Abu Bakar berkhotbah:
إن محمدا قد مات فمن يعبد محمدا فإنه قد مات ومن يعبد الله فإنه الحي لايموت

“Kanjeng Nabi sudah sedo. Barang siapa yang menyembah Kanjeng Nabi, beliau sudah kembali ke Allah. Siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati!”

Bangun tidur, mendapati saya bangun. Istri yang juga tidur itu terbangun hanya untuk memberi tahu bahwa Yai Mad sedô. Meninggal dunia. Pukulan keras menghujam batinku. Keras sekali. Tidak mampu berbicara apa kecuali membaca istirjaa’ dan alfatihah untuk beliau.

Iya, kami yang pernah diangon oleh beliau. Pernah diemong oleh beliau penaka anak ayam yang dtinggal induknya. Seperti lele diwedangi. Seperti berjalan di padang sahara lalu pimpinan meninggal dunia. Kami tanpa kompas, peta, apalagi sinyal GPS.

Tiba-tiba ada semacam bisikan dalam benak yang menceramahiku:

كياهي ماد قد مات فمن يعبد كياهي ماد فإنه قد مات ومن يعبد الله فإنه الحي لايموت

“Kiai Mad sudah meninggal. Siapa yang menyembah Kiai Mad (memyembah dalam arti terlalu menggantungkan dan menaruh harapan besar pada beliau yang manusia yang pasti akan meninggal juga), sekarang beliau sudah meninggal dan siapa yang menyembah Allah maka Dia Maha Hidup yang tidak akan mati!”

KH. Ahmad Qusyairi Syafaat yang akrab dipanggil Kiai Mad itu adalah oase bakda magrib kami di Blokagung. Manik rantai kalamnya dalam mengurai tafsir jalalain begitu menyegarkan kami yang di persimpangan kelabilan.

Kini Kiai Mad sudah kapundut. Tapi Blokagung masih epidose awal. Masih harus berjalan. Masih harus dirampungkan dalam mendidik umat sampai yaumil qiyamah.

Embrio-embrio kesalehan ritual dan intelektual terus dan harus tumbuh di rahim Blokagung. Menjadi penyambung lidah bagi Mbah Yai Syafaat, Mbah Yai Muhyi dan Mbah Yai Muallim Syarqawi. Menjadi penguat Kiai Hisyam, Kiai Hasyim, Kiai Midhofar Sulton, Kiai Dr. AbdulKholiq dan para masyayikh Blokagung kini.

Kiai Mad tidak mati dalam arti selesai segalanya. Beliau hanya melanjutkan perjalanan. Insyaallah yg lebih cemerlang. Tiada mendengarkan kesia-siaan dan kebohongan di sana (QS. An-Naba’).

Semoga keluarga yang ditinggalkan dikuatkan. Dikuatkan pula dalam memikul berat tanggung jawab. Khususnya keluarga PP. Mukhtar Syafaat Blokagung Gus Imam Haudli, Ning Vina Mawaddah, Gus Khotibul Umam dan segenap keluarga.

Semoga segala kebaikan yg dilangitkan oleh para muhibbin Blokagung diijabah oleh Allah.

Takzim Kami dan duka kami yg mendalam:

Alfan HM (Sewu Pengalem Humeid). Alumni Blokagung.

Comments

comments

Check Also

Pengurus BKPRMI Banyuwangi Resmi Dilantik

Banyuwangi, NUOB- Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi resmi dilantik pada Ahad …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *