• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Senin, 26 September 2022

Bahtsul Masail

Merengkuh dan Merasakan Keistimewaan Lailatul Qadar

Merengkuh dan Merasakan Keistimewaan Lailatul Qadar
Manfaatkan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. (Foto: NUOB/NU Network)
Manfaatkan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. (Foto: NUOB/NU Network)

Hal yang senantiasa diharapkan kaum Muslimin saat berada di bulan Ramadhan adalah dipertemukan dengan Lailatul Qadar. Karenanya, sejumlah ibadah dilakukan di sepuluh tertakhir bulan Ramadhan tersebut.


Apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar adalah di antara kekhususan yang Allah anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad, merupakan malam penuh kemuliaan. Ibadah di dalamnya lebih utama daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadar-nya. Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Umat-umat Nabi terdahulu bisa beribadah di dunia ini dalam jangka waktu yang lama karena Allah menjadikan usia mereka panjang-panjang.


Sedangkan umat Nabi Muhammad meskipun usia mereka rata-rata hanyalah antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, akan tetapi Allah menganugerahkan lailatul qadar kepada mereka. Dengan adanya lailatul qadar, umat Nabi Muhammad berkesempatan mendapatkan pahala yang besar meskipun hidupnya tidak lama di dunia ini.


Penuh Keutamaan

Apa saja keutamaan lailatul qadar?

1. Lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur’an 


Sebagaimana diketahui bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua tahap: Yaknit ahap pertama, turunnya Al-Qur’an dari lauh mahfuz ke suatu tempat di langit yang pertama (langit dunia) yang bernama bait al-‘izzah.
 

Dalam tahap pertama ini, Al-Qur’an diturunkan semuanya dari awal hingga akhir secara lengkap. Hal itu terjadi pada lailatul qadar yang saat itu bertepatan dengan malam dua puluh empat Ramadhan.
 

Allah ta’ala berfirman:
 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (القدر: ١)


Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an itu pada malam lailatul qadar. (QS al-Qadr: 1)


Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:


 أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام في أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتْ التوراةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِن رَمَضانَ، وأُنزِلَ الإنجيلُ لِثَلاثَ عشْرةَ خَلَتْ مِن رمضانَ، وأُنزِلَ الزَّبُورُ لِثَمانِ عَشْرَةَ خَلَتْ من رمضانَ، وأُنزلَ الفُرْقانُ لأَربعٍ وعِشْرينَ خَلَتْ من رمضانَ (رواه أحمد والطبراني والبيهقي وغيرهم)


Artinya: Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadhan, Injil diturunkan pada malam tiga belas Ramadhan, Zabur diturunkan pada malam delapan belas Ramadhan dan Al-Qur’an diturunkan pada malam dua puluh empat Ramadhan. (HR Ahmad, Ath-Thabarani, Al-Baihaqi dan lainnya)


Tahap kedua, turunnya Al-Qur’an dari bait al-‘izzah di langit yang pertama kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam tahap kedua ini, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan sebab dan peristiwa tertentu selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.


Lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq adalah yang pertama diturunkan kepadanya di gua Hira’ dengan perantaraan malaikat Jibril Alaihis Salam. Dan hal itu menurut sebagian ulama terjadi pada malam 17 Ramadhan.


Atas dasar inilah kemudian malam 17 Ramadhan diperingati umat Islam sebagai malam nuzul Al-Qur’an.


2. Malam penuh keberkahan 


Allah Ta’ala berfirman:


 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ (الدخان: ٣)


Maknanya: Sesungguhnya kami turunkan Al-Qur’an itu pada malam yang penuh berkah (malam lailatul qadar). (QS ad Dukhan: 3)


3. Kabar rahasia perjalan hidup


Pada lailatul qadar, Allah memberitahukan kepada para malaikat mengenai apa yang terjadi di kalangan para hamba sampai datangnya lailatul qadar pada tahun berikutnya. Allah memberitahukan kepada mereka siapa saja yang lahir, mati, ditimpa musibah, sakit, sehat, dilapangkan rezekinya, disempitkan rezekinya dan lain sebagainya dalam kurun satu tahun ke depan.


Tafsir al-Qurthubi, An-Nasafi, dan lainnya menjelaskan bahwa itulah makna dari ayat:


 فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ (الدخان: ٤)


Artinya: Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS Ad-Dukhan: 4)


4. Lebih utama dari seribu bulan


Amal shalih pada lailatul qadar lebih baik daripada amal shalih yang dilakukan selama seribu bulan sebagaimana ditegaskan oleh Allah:


 لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (القدر: ٣)


Artinya Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS Al-Qadr: 3)


5. Doa terbaik dari para malaikat


Sejumlah malaikat dari setiap langit turun memenuhi lapisan bumi mendoakan dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah. Allah Taala berfirman:


 تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (القدر: ٤)


Artinya: Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. (QS aA-Qadr: 4)


Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:


 إذا كانتْ لَيْلَةُ القدْرِ نَزَلَ جِبريلُ فى كَبْكَبَةٍ من الملائكةِ يُصَلُّون وَيُسَلِّمُوْنَ على كلِّ عبدٍ قائمٍ أو قاعدٍ يَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْزِلُونَ مِن لَدُنْ غُروبِ الشمسِ إلى طلوعِ الفَجْرِ (رواه البيهقى فى شعب الإيمان والسيوطىّ فى الجامع الكبير)


Artinya: Jika tiba lailatul qadar, malaikat Jibril turun dengan serombongan malaikat lalu mendoakan dan mengucapkan salam kepada setiap hamba yang berdiri atau duduk berdzikir mengingat Allah. Mereka turun dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar. (HR Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dan As-Suyuthi dalam Al-Jami’ al-Kabir)


6. Malam keselamatan


Lailatul qadar adalah malam keselamatan dan keberkahan bagi para wali dan orang-orang yang melakukan ketaatan. Pada malam itu, setan tidak dapat berbuat buruk kepada orang-orang yang melakukan kebaikan.


Allah Ta’ala berfirman:


 سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (القدر: ٥)


Artinya: Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr: 5)


Waktu Turunnya Lailatul Qadar

Kapan terjadinya lailatul qadar? Lailatul qadar terjadi satu kali dalam satu tahun di bulan Ramadhan. Mungkin saja ia terjadi pada satu malam di antara malam-malam Ramadhan. Mungkin pada malam pertama, malam kesembilan atau malam-malam yang lain. Akan tetapi kemungkinan besar ia terjadi pada salah satu dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.


Rasulullah Shallallahu Aalaihi Wasallam bersabda:


 الْتَمِسُوهَا في العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)


Artinya: Carilah lailatul qadar itu di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. (HR Al-Bukhari).


Imam Syafi’i berpendapat sebagaimana dikutip oleh Syekh Zakariyya al-Anshari dalam Fath al-Wahhab bahwa lailatul qadar kemungkinan besar terjadi pada malam 21 atau malam 23 Ramadhan. Sedangkan para ulama yang lain berpendapat, kemungkinan besar lailatul qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan. Mengapa lailatul qadar keberadaannya dirahasiakan?. Salah satu hikmahnya adalah supaya kita senantiasa beribadah terus menerus tanpa henti pada setiap malam di bulan Ramadhan.  


Tanda Lailatul Qadar

Apa saja tanda terjadinya lailatul qadar? Dalam kitab Jawahir al-A’immah fi Tafsir Juz’i ‘Amma, disebutkan bahwa di antara tanda-tandanya adalah melihat cahaya yang bukan cahaya matahari, cahaya bulan atau cahaya listrik, melihat terbitnya matahari pada keesokan harinya berbeda dengan saat ia terbit di hari-hari yang lain, yaitu dalam keadaan putih dan tidak banyak memancarkan cahaya, melihat pohon bersujud dan lain sebagainya.


Sebagian orang melihat tanda-tanda itu dalam mimpi dan sebagian yang lain melihatnya dalam keadaan jaga. Melihatnya dalam keadaan jaga adalah lebih sempurna keberkahan dan kemuliaannya. Barang siapa yang melihatnya dalam keadaan jaga, maka sungguh ia telah melihat lailatul qadar. Sedangkan melihatnya dalam mimpi adalah sebuah kebaikan. Dan barang siapa yang tidak melihat tanda-tanda tersebut akan tetapi ia bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan pada malam itu, maka ia memperoleh keberkahan yang agung.  


Yang Harus Dilakukan


Apa yang semestinya dilakukan ketika melihat tanda lailatul qadar? Yang dilakukan adalah menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti memperbanyak membaca istighfar, dzikir, shalat-shalat sunah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, beri’tikaf di masjid, dan lain sebagainya. Serta memperbanyak doa, terutama doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Aalaihi Wasallam kepada Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah:


 اللهم إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun mencintai pengampunan, maka ampunilah dosa-dosaku. 


Dan memperbanyak membaca doa yang paling banyak dibaca oleh Baginda Nabi baik pada Ramadhan atau pun di luar Ramadhan:


 رَبَّنا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذابَ النَّارِ


Artinya: Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.


 Rasulullah bersabda:


 مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ (متفَق عليه)


Artinya: Barang siapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan berbagai ibadah dengan dilandasi keimanan dan niat mengharap ridla Allah semata, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Bahtsul Masail Terbaru